Kepemimpinan Anis Matta (3)

Kepemimpinan Anis Matta (3)

Kepemimpinan Anis Matta (3)

Oleh: Erizal

Ada pula Anggota Majelis Syuro, dipanggil Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO). Padahal, BPDO itu hanya Badan di bawah DPP. Pengurus DPP saja, hanya ditunjuk oleh Ketua Majelis Syuro (KMS). Dan KMS dipilih oleh AMS. Tapi AMS-nya seenaknya dipanggil BPDO. Ini kan struktur yang aneh? AMS tak boleh pula menyerap aspirasi kader. Lalu, buat apa dia ada?

Dari cara yang relatif demokratis, tiba-tiba saja menjadi seperti otoriter. Atau tak otoriter, tapi tak jelas mana kepala dan ekornya, kadang berganti-ganti. Ditambah pula kultur feodal yang masih kuat dan seperti sengaja dijaga. Bahwa pemimpin (qiyadah) itu pasti benar, tak bisa salah, apalagi dalam urusan dunia. Hanya boleh ditentang dalam urusan bermaksiat kepada Allah SWT.

Mana ada maksiat dalam politik? Apalagi secara terang-terangan. Kalau ada, habis main. Yang ada itu adalah intrik. Apa yang tak dikatakan sebagai bukan intrik, sebenarnya itulah intrik yang sebenarnya, dan itu paling berbahaya. Memang tak mudah membedakan antara doktrin dan intrik dalam struktur yang tak jelas, kacau-balau dan gelap. Semua dibuat seperti tak ada masalah.

Makin runyam bila pimpinan tersandera kasus-kasus. Menjadi mantan pejabat di republik ini, geli-geli sakit. Pada bagian tertentu, lebih banyak sakitnya. Sebab senangnya sudah dinikmati semua saat menjabat. Itu yang dikatakan Fahri Hamzah bahwa alasan pemecatannya karena takut suara kritisnya berefek pada pimpinan. “Lu yang bermasalah kok gue yang dipecat.” Itu tegas FH.

Ini menandai ada krisis organisasi sekaligus pimpinan di PKS. Sebetulnya, sudah dimulai saat penangkapan LHI malam-malam di kantor PKS. Ini seperti runtuhnya gunung es. Tapi entah kenapa itu seperti berbalik arah? Anis Matta yang menyelamatkan, ia pula yang akhirnya dituduh. Ia ditinggalkan, kader ramai-ramai ke penjara. Balik, seolah-olah dapat intan mutiara. Sedangkan intan mutiara sebenarnya, dibuang. Ia menulis soal syuro, ia pula dicap tak patuh syuro. Terbalik.

Tiga, pribadi. Mana yang lebih dulu krisis pemimpin atau krisis organisasi? Menurut saya krisis pemimpin. Krisis pemimpin mengakibatkan krisis organisasi. Krisis pemimpin tentu terkait orang atau pribadi. Pribadi di sini tentu bukanlah pribadi sembarangan. Mereka inilah yang kerap disebut elit. Konflik elit yang terwadahi, akan berefek pada organisasi. Di situlah, kebijakan lahir.

Baca juga:  Akhirnya Partai Keadilan Sejahtera Melaporkan Faizal Assegaf yang Berkali-kali Melakukan Fitnah

Tapi masalah pribadi ini, tak sepenuhnya seperti dugaan kita. Fahri Hamzah sering bilang kepada saya soal rahasia manusia, manusia itu makhluk yang penuh misteri. Ada dengki, tak siap melihat orang sukses, menang, ada saja yang tak enak hati, alasan bisa bermacam-macam. Dalam sudut diri sendiri sah, sudut orang lain masih jauh. Kau memulai, kau mengakhiri. Kadang begitu.

Terkait pergulatan elitnya, sejarah internal PKS itu setidaknya terdapat empat gelombang. Satu, perubahan dari gerakan dakwah menjadi partai, yakni PK. Dua, perubahan dari PK ke PKS. Tiga, dalam PKS itu sendiri, ada pula setidaknya tiga gelombang. Yakni, Pemilu 2004, 2009, dan 2014. Empat, PKS terbelah menjadi Garbi. Masing-masing, ada elitnya yang eksis dan tersingkir.

Nama yang paling menonjol pada saat gelombang satu, yakni Ihsan Tanjung. Ia tak setuju gerakan dakwah waktu itu mendirikan partai. Ketidaksetujuannya ia pegang teguh. Walau dilibat-libatkan ia tetap tak cocok. Anis Matta juga tak setuju, tapi ia tetap mendukung, malah dipasang sebagai Sekjen. Baru-baru ini keduanya bertemu akrab, karena tak ada masalah pribadi keduanya.

Keduanya relatif sukses di tempat masing-masing. Anis Matta sukses di politik sementara Ihsan Tanjung sukses di dakwah. Tema dakwah Ihsan Tanjung tak tanggung-tanggung, soal Hari Akhir, Kiamat, Dajjal, dan sejenisnya. Pilihan karena prinsip memang kerap berbuah manis. Apa ada masalah pribadi dengan yang lain? Entahlah. Menurut Fahri Hamzah ia selalu berkomunikasi dengan pembinanya itu. Maka ia membela saat ada serangan mubahalah dari orang yang tak jelas.

Mungkin ada nama lain, tapi tak menonjol dan hilang begitu saja. Benar saja, PK tak kuat di politik. Walau disebut fenomenal, tapi tetap saja gagal. Saat itu terbelah lagi antara pihak yang ingin meneruskan menjadi PKS dengan yang berhenti sampai di situ mengajukan proposal ormas. Di kemudian hari mereka ini yang ada di FKP (Forum Kader Peduli). Forum pengkritik ke dalam.

Saat itu “buruknya” politik (PK) sudah mulai terasa. Nama Syamsul Balda terkena. Dunia politik, memang mengubah perilaku orang. Gaya, uang, kuasa, wanita, berkelindan. Kritikan dari cikal-bakal FKP itu makin keras. Maka ada yang ikut di PK lalu berhenti di PKS. Nama Mashadi ada di situ. Tapi ternyata, nasib PKS tak seperti PK, malah terbalik. Ia memperoleh durian runtuh.

Baca juga:  Dari Fraksi PKS 2,16 Milyar Terkumpul, Mengapa Hanya PKS?

Nama Hilmi Aminuddin dan Anis Matta muncul bak “dwi tunggal” di dalam. Di luar, ada nama Hidayat Nur Wahid. Ia sempat dijuluki “Presiden SMS” karena pollingnya di SCTV waktu itu. Ia menjadi Ketua MPR dan itu fenomenal. Tapi di dalam, ia punya masalah. Posisinya disapu. Ada alasan pemisahan jabatan, tapi sebetulnya tidak. Ia menuai popularitas, tapi yang bekerja riil tidak hanya ia. Cekcok ala politik praktis makin terasa. Arus dakwah, tentu masih besar di bawah.

Tapi, tetap tak terasa karena “kue” yang dinikmati terlalu besar. Senior-senior seperti Abu Ridho (Abdi Sumaithi) keangkut semua ke DPR. Di sinilah mulai munculnya Faksi Keadilan dan Faksi Kesejahteraan. Faksi Keadilan seperti konservatif mereka juga menikmati kue, tapi terlihat malu-malu, sementara Faksi Kesejahteraan seperti progresif terus merangsek menuju cita-citanya.

Dwi tunggal Hilmi Aminuddin-Anis Matta, makin solid. Muncul nama Tifatul Sembiring sebagai Presiden Partai. Mulai terasa adanya matahari kembar antara Tifatul Sembiring dan Anis Matta. Ini karena Hilmi Aminuddin juga yang memakai keduanya secara berbeda. Ia pakai Anis Matta sebagai ketua pemenangan, tapi seperti membiarkan Tifatul Sembiring menyerang pribadi Anis Matta soal gaya hidup. Puncaknya, pilkada DKI Jakarta 2007. Isu “uang panas” menyeruak.

(Visited 32 times, 1 visits today)

Mas Admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account