Kepemimpinan Anis Matta (2)

Kepemimpinan Anis Matta (2)

Kepemimpinan Anis Matta (2)

Oleh: Erizal

Apakah Anis Matta betul-betul memiliki jawaban yang tuntas atas segala hal? Tentu tidak. Kalau sekadar jawaban seputar isu-isu yang terkait dengan dirinya dan seputar kebijakan internal, tentu ia punya. Dan itu yang saya bilang memuaskan dan tuntas. Tapi terkait visi-misi, perjalanan partai, situasi nasional dan global yang mengeras dan mencari bentuk, tentu ia juga terus mencari.

Satu masalah bisa dijawab, masalah lain yang lebih esensial belum, bagaimana? Mungkin itu alasan lain Anis Matta melenggang turun tanpa beban. Ia sering mengatakan kalau memimpin bukan merupakan solusi, buat apa? Ini bukan tentang dirinya, tentang menjaga wibawa, menjaga nama baik diri, dan lain-lain yang sejenis. Ini semata-mata tentang gerakan. Tentang masa depan.

Kalau kader PKS agak sedikit cerdas, sebetulnya isu-isu seputar diri Anis Matta, terjawab dengan sendirinya. Misalnya, soal agen susupan, bahkan agen Yahudi. Mana mungkin, agen mau tampil menjadi sorotan publik seperti itu? Agen tak punya pikiran jauh ke depan, lengkap dengan analisis strategis. Soal uang. Banyak yang lebih tertutup soal itu dan kader tak tahu. Dan lain-lain.

Tapi rezim baru PKS salah baca. Dikira inilah akhir dari segalanya. Kalau Anis Mata saja bertekuk-lutut, apalagi yang lain? Mulai bermanuver, bersih-bersih, singkirin ini-itu, pecat ini-itu, terlihat pecaya diri. Tak bisa dipungkiri, Fahri Hamzah membuyarkan segalanya. Akhirnya krisis mulai memperlihatkan bentuknya. Bukan murni soal dakwah, tapi memang, tetap berbalut dakwah.

Itulah di antara yang kemudian melahirkan dauroh-dauroh (pelatihan-pelatihan). Masalah bukan selesai, mengecil, tapi menjadi-jadi, dan terus meluas. Orang mulai mencari, bertanya kiri-kanan. Makin lama makin ramai. Markas Anis Matta di Dukuh Patra tidak muat lagi menampung orang. Mengumpulkan dalam satu waktu dan tempat adalah solusi. Dimulailah dauroh-dauroh itu.

Tepatnya, sebetulnya, curah pikir. Kalau dauroh kesannya sudah ada materi yang lengkap. Ini belum. Masih berupa gagasan-gagasan besar. Menjawab tantangan di masa depan. Perjalanan sedang di mana? Bagaimana mencapai visi-misi? Koreksian-evaluasi, dan lain-lain. Bukan hanya dauroh menjawab isu-isu, gosip. “Gosip dibalas gosip, kasihan kader, “kata Anis Matta suatu kali.

Saya menjadi saksi materi-materi dalam dauroh itu, hari demi hari, mengalami pengayaan-pengayaan. Kerangka-kerangkanya makin kuat, isinya tiap kerangka itu, makin dalam dan padat. Kini bila dipresentasikan secara lengkap, utuh, saya yakin siapa pun kader PKS akan terpengaruh dan setuju dengan tema-tema yang dibahas. Secara intelektual, bukan kader pun, akan terpuaskan.

Apalagi mendengarkan presentasi dari Anis Matta soal Arah Baru Indonesia, full dua hari. Tak hanya terpengaruh, setuju, terpuaskan, tapi mungkin juga akan ternganga. Hehe. Oh ya, saya mau katakan bahwa judul Arah Baru Indonesia itu, ada jejak saya di situ. Bukan sombong, bukan sok-sok, tapi itu adalah bukti pencarian seorang Anis Matta yang begitu keras, gigih, dan terbuka.

Baca juga:  Di Datangi Tim Relawan Sudirman said & Tim Dokter Perduli, Warga Korban Banjir Rob Rela Antri

Tapi, saya juga suka presentasi dari Mahfudz Siddiq. Powerpoint-nya bagus dan berkelas. Hanya dengan melihat powerpoint-nya kita mengerti sedang di mana kita dan tahu harus bagaimana setelah ini. Apalagi ditambah penjelasannya. Makin lengkap. Fahri Hamzah juga mantap. Tapi ia selalu tampil tangan kosong, tepatnya berpidato. Bagaimana pidato di publik, kurang lebih begitu juga.

Tapi, analisis-analisis Fahri Hamzah terhadap situasi kontemporer saat ini selalu baru dan segar. Istilahnya A1 semua. Kalau di publik saja ia begitu kuat, apalagi di ruang tertutup? Keluar semua jeroan-jeroan, peristiwa-peristiwa di belakang panggung. Wajar saja, jika rezim baru PKS belum pernah menang berhadapan dengannya. Ia terlalu mengetahui situasi secara lebih rinci dan mendalam. Tak hanya menyalahi hukum, rezim baru PKS juga lemah dalam lobi politik, grasa-grusu, dan informasi A1 itu.

Jadi apa pun, seperti kerjasama, jika itu bisa dikatakan kerjasama, antara PKS dan GNPF, atau juga FPI, menurut saya hanya pisau bermata dua saja. Di kemudian hari belum tahu, apakah akan baik-baik saja, atau bagaimana? Kalau kader-kader terbaiknya saja mudah dibuang, apalagi orang lain? Tapi jangan salah, tekanan dari GNPF atau FPI bisa lebih dahsyat, dari kader sendiri.

Kalau GNPF masih baru. Organ ini terbentuk dan terus menggeliat, karena kasus pilkada DKI, khususnya Ahok. Tapi kalau FPI, ia punya sejarahnya sendiri. Dibandingkan PKS, sesuatu yang sebetulnya kontras. Muhammaddiyah dan NU saja punya catatan atau ketegangan tersendiri dengan PKS. Apalagi FPI. Daya tekanan FPI akan berbahaya, jika ada satu yang nantinya terluka.

Maksud saya: kebetulan kini ada musuh bersama, tapi jika musuh bersamanya telah tamat, maka antar mereka lagi yang akan bermusuhan. Bukankah di PKS, kubu Anis Matta, juga musuh bersama? Jika Anis Matta sudah keluar, maka gerakan hantu itu akan mencari musuh baru. Fahri Hamzah itu berkonflik masih baik. Berkali-kali “dikibuli” masih saja percaya. Dipecat atau diusir lalu dibilang pengkhianat. Di atas angin, masih menenggang. Sama FPI begitu? “Kelar hidup lo.”

Selamat pemilu sekarang? Bisa jadi. Tapi itu hanya penundaan, delay. Seperti gelembung yang sewaktu-waktu bisa meletus, lalu sirna seperti serpihan-serpihan debu yang turun. Tak usah bangga dulu. Satu gerbong pergi, gerbong lainnya datang. Sebab, gerbong yang pindah itu sangat erat mencengkram, mengideologisasi. Tapi, siapa yang tahu takdir dari sebuah pergerakan Islam?

Bila saya intip-intip, apa sebetulnya masalah internal PKS ini? Sebetulnya, ada tiga. Satu, manhaj (metode). Dua, struktur. Dan tiga, ini, tidak bisa tidak, memang ada soal pribadi. Manhaj, misalnya. Pengertian Islam dalam pandangan Hasan Al-Banna kalau mau diurut-urut, sebetulnya bagaimana Islam itu bisa mengelola negara? Bukan untuk umat Islam saja, tapi juga umat lain dan seluruh alam. Kira-kira, itulah pengertian Islam syamil-mutakamil yang dimaksud Al-Banna.

Baca juga:  Ada yang Panik, Prabowo-Sandi Diserang Black Campaign

Artinya, Islam itu bisa diterapkan, diimplementasikan secara utuh jika ia sudah bernegara. Tapi, kan di situ letak masalahnya? Belum ada contoh dari penerapan Islam bernegara ini saat ini. Apakah Turki? Iran? Arab Saudi atau seluruh negara Arab di Timur Tengah? Rasa-rasanya, tidak! Ada harapan di Mesir saat Ikhwanul Muslimin menang, tapi itu bertahan cuma setahun, lalu sirna.

Inilah yang sering diistilahkan krisis manhaj. Yakni, manhaj yang ada belum mampu atau belum bisa menjelaskan bagaimana mengelola negara secara baik dan pas. Jangankan contohnya, manhajnya saja belum ada. Bahkan, mengelola masyarakat Islam saja, masih minim. Bagaimana sosiologi dari masyarkat Islam itu, sebenarnya? Kalau soal pribadi dan keluarga, rasanya lengkap.

Tentu saja saya tak bisa menjelaskannya. Anis Matta bisa. Pergulatannya atas pemikiran-pemikiran Islam klasik dan modern relatif lengkap. Apalagi saat ia menjelaskan saat di atas kapal menyusuri sungai Dunna, sungai yang melewati hampir sebagian negara di Eropa. Penjelasan itu terasa dekat, dan masuk akal. Indonesia sebagai negara demokrasi mayoritas berpenduduk Islam, bisa mempelopori. Anis Matta punya rute kearah itu. Ide 5 besar kekuatan dunia itu satu langkah.

Dua, struktur. Struktur ini ya mencakup organisasi, ya mencakup pimpinannya. Berbeda dengan partai lain, PKS tak didirikan satu orang atau satu tokoh berpengaruh. Ia juga tidak partai lama bersejarah atau berbasis ormas besar seperti Golkar, PPP, atau PKB dan PAN. Ada Majelis Syuro yang dipilih relatif demokratis. Tapi tiba-tiba saja, Ketua Majelis Syuronya jadi “formatur tunggal” yang bisa semaunya. Maunya kalau baik-baik saja, tak masalah. Kalau tak baik seperti pemecatan Fahri itu, siapa yang bisa mencegah? Malah Anggota Majelis Syuro pun tak berkutik.

(Visited 89 times, 1 visits today)

Mas Admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account