Jahatnya orang jahat

Oleh : Tere Liye

Lu mesti tahu, Mamang Tukang Bakso/Mie di gang depan, satu mangkok pakai telor, potongan daging ayam, dia jual Rp 10.000. Keuntungan satu mangkok cuma Rp 5.000, setelah untuk belanja, bayar keamanan, dll. Maka, berapa mangkok yang dia harus jual biar punya duit Rp 1.000.000.000? Dia harus jual 200.000 mangkok. Dagangannya kadang ramai, lebih sering sepi. Asumsi dia bisa jual sehari 50 mangkok, itu berarti dia butuh 4.000 hari, baru terkumpul duitnya (itupun kalau dia tabung semua, tidak buat biaya hidup sehari2).

Lu juga mesti tahu, Bibi pembantu rumah tangga di Bandung (misalnya), gaji sebulannya Rp 800.000. Maka, berapa bulan dia harus kerja biar dapat duit satu milyar? 1.250 bulan. Lailatul qadr saja cuma 1.000 bulan, dul.

Maka, situ enak banget. Duduk di kursi empuk, ruangan ber AC, pakaian rapi, sepatu kinclong. Lantas asyik2 bicara. “Gimana, cuy? Proyeknya 5 trilyun. Kita bagi dua ye. Yang 2,5 trilyun buat ongkos proyeknya betulan. Separuh lagi kita bancakan bareng2. Semua dapat.” Lantas tertawa, “Hehehehehe… setuju, bos. Lu atur gimana bagusnya. Pokoknya semua dapat.” Lantas tertawa lagi, “Kelar nih proyek, besok2 kita jalan2 ke LN, deh. Liburan.” Tertawa lagi, “Hehe…. Hehehe…. Hehehe….”

Enak banget idup lu, dul. Sementara, jutaan penduduk perkotaan Indonesia, berangkat subuh, pulang isya, hanya demi gaji Rp 3 hingga 4 juta. Belum lagi di kampung2, jutaan petani berangkat saat masih gelap, menyadap karet, menanam padi, dsbgnya, hanya untuk penghasilan cukup makan seadanya. Sopir gojek, grab, sepanjang hari dari pagi sampai malam narik susah payah buat nyari poin. Lu? Enak banget, dul. Tunjangan dikasih. Gaji dikasih. Rumah dikasih. Semua dikasih. Dengan semua sudah dikasih, lu tetap embat juga duit rakyat? Astagfirullah.

Baca juga:  Krisis komunikasi kebencanaan

Jutaan penduduk Indonesia, yg cinta banget sama negeri ini, tidak dibantu pemerintah, tdk dibantu politisi, cuma jadi korban setiap pemilu, mereka susah payah menyambung hidup. Eh, lu bagiin duit trilyunan kayak bagiin permen saja ke teman2 dekat lu. Mudah banget kirim sana, kirim sini, bawa itu duit kemana2, yang itu semua cuma mimpi di atas mimpi bagi rakyat. Duit yang seharusnya digunakan demi kemaslahatan mereka. Duit yg diperas dari keringat (pajak) mereka. Duit yang besok2 harus dicicil (kalau itu hutang), sama anak cucu mereka. Lu kemplang seenak udel lu saja.

Juga termasuk contoh lain, ada pengadaan barang, pemerintah sudah bayar DP 100 milyar misalnya. Eh, barangnya tak dapat, DP tak kembali. Lu kira uang 100 milyar ini kecil apa? Amazing, elu malah heroik sekali membela untung gak bayar full semuanya. Siapa yang mau ganti 100 milyar ini? Elu yang mau ganti? Ingat baik2, Bibi pembantu rumah tangga perlu 125.000 bulan baru terkumpul uang 100 milyar ini. Itu sama dengan keturunan ke-200 dia baru bisa melunasinya. Jangan anggap sepele.

Baca juga:  The scary Khilafah

Semua korupsi itu jahat. Mau dia korupsi BLBI, daging sapi, EKTP, pengadaan Al Qur’an, orde baru, dana haji, hambalang, semua jahat. Mau dia terjadi di rezim apapun, dia tetap jahat. Dan siapapun yang terkait langsung maupun tidak langsung, seharusnya menunjukkan tanggung-jawab.

Ingatlah, siapapun yang duduk di atas sana, saat kalian naik pesawat, menginap di hotel, naik mobil kinclong, semua dibayarin oleh rakyat. Dan masih ada rakyat yang jumlahnya 20 juta lebih, bahkan penghasilannya kurang dari 500.000 per bulan. Bibi-bibi pembantu, buruh-buruh kasar, dsbgnya, dsbgnya. Dan lebih serius lagi, karena uang ini juga dari hutang; itu sama juga dengan akan dibayar oleh rakyat di masa depan. Bibi-bibi pembantu, buruh2 kasar di masa depan, yang lahir saja belum. Uang 1 milyar itu setara dengan 1.250 bibi pembantu bekerja.

Penting sekali perang melawan korupsi ini. Agar setiap rupiah uang ini, bisa bermanfaat bagi rakyat. Bukan sebaliknya.

*Tere Liye

**Penulis 40 buku lebih, termasuk 2 novel politik “Negeri Para Bebebah” dan “Negeri Di Ujung Tanduk”
***repos tulisan lama

(Visited 82 times, 2 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account