Menurut kalian adil atau tidak?

Menurut kalian adil atau tidak?

Menurut kalian adil atau tidak?

Oleh : Tere Liye

Ini kisah nyata, bukan karang2an saya. Ada beritanya, kalian bisa google. Tapi mungkin kalian sudah lupa. Kisah mengharukan tentang Nenek Mina.

Nenek Minah (55) ini, suatu hari memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Hari itu, 2 Agustus 2009. Lahan garapan Nenek Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao. Ketika sedang asik memanen kedelai, eh, dia melihat 3 buah kakao yang matang. Entah setan mana yang menggodanya, Nenek Minah, memetik 3 buah kakao itu. Lantas digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao.

Nasib, ternyata lewat seorang mandor perkebunan PT RSA. Mandor itu pun bertanya, ‘Heh, siapa yang memetik buah kakao itu?’ Dengan polos, Nenek Minah mengaku. Mandor ngomel, bilang itu mencuri. Sadar perbuatannya salah, Nenek Minah segera meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 buah kakao yang dipetiknya diserahkan kepada mandor tersebut. Nenek Minah menduga, semua telah selesai, kasus itu dilupakan.

Namun keliru fatal. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut super panjang. Seminggu berlalu dia menerima panggilan pemeriksaan dari polisi. Dan puncaknya, dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencurian di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Dua bulan sejak kasus itu, Kamis 19 November 2009, hakim memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Nenek Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian.

Hebat sekali hakimnya. Hebat sekali polisinya. Hebat sekali jaksanya. Sempurna. Karena memang Nenek Minah mencuri. Itu fakta yang tidak bisa dibantah. Dia pun mengakuinya. Namanya pencuri, harus dihukum seadil-adilnya.

Baca juga:  Resiko pejuang politik

Baik, sekarang mari kita pindah ke kasus berikutnya, yang juga tidak kalah seru.

Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997-1998. Tepatnya, seluruh dunia memang diguncang krisis. Bank-bank di Indonesia ikut kolaps. Nasabah menarik uang, dan Bank kelabakan. Loh kenapa? Karena uang tabungan kita itu memang tidak disimpan Bank, melainkan dipinjamkan ke pihak lain. Ssst, sudah rahasia umum di jaman itu, bank hobi melanggar peraturan, mereka menyalurkan kredit sembarangan, penuh nepotisme, korup, dll. Itu uang macet, tidak bisa balik segera. Krisis terjadi, bank-bank ini semaput.

Seharusnya, memang dibiarkan saja hancur lebur itu bank? Namanya bisnis, situ salah urus, kena krisis, tanggung resiko dong. Tapi khawatir itu akan membuat perekonomian Indonesia semakin kacau balau, pemerintah (dibantu IMF), justeru mengulurkan tangan, memberikan bantuan likuiditas kepada bank2 bermasalah ini. Maka digelontorkanlah uang sebesar 147,7 trilyun kepada 48 bank. Uang siapa itu? Eww, itu uang rakyat, dek. Bukan uang nenek lu. Kalaupun itu hutang dari IMF, yang bayar adalah seluruh rakyat Indonesia, lagi2, bukan nenek lu yang bayar.

Skenarionya adalah, setelah krisis reda, perekonomian Indonesia kembali normal, uang ini akan dikembalikan utuh, syukur2 malah lebih. Nyatanya? Tolong kalian yg dulu menggelontorkan uang ini, dijawab, berapa uang yang kembali? Gila sekali memang. Pengemplang BLBI ini malah ada yang minggat dari Indonesia. Taipan2 yg dulu sudah kaya, dikasih uang pula lewat BLBI, tambah kaya, mereka jalan-jalan cantik, nikmat sekali hidup mereka. Pemerintah malah memberikan SKL (Surat Keterangan Lunas) pada mereka, sedikitnya lima obligor dapat. Mereka adalah (yang besar2) BCA (Salim Group); Bank Dagang Negara Indonesia (Sjamsul Nursalim); Bank Umum Nasional (Muhammad Bob Hasan); Bank Surya (Sudwikatmono); dan Bank Risjad Salim International (Ibrahim Risjad). Lunas betulan? Hehe, ayo dijawab. Bahkan ssst, pemerintah juga mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kepada sejumlah obligor di jaman itu.

Baca juga:  Akui Islam Nusantara membatalkan KeIslamannya

20 tahun lebih kasus ini berlalu, apa kabar kasus BLBI ini? Tuntas? Biarkan rumput bergoyang yang menjawabnya. Siapa yang dulu membuat keputusan, siapa yang dulu menikmati uang2 tersebut, itu bukan uang sedikit. Kerugian negara trilyunan.

Jika Nenek Minah, yang mencuri 3 buah kakao di perkebunan dekat rumahnya dihukum, maka bagaimana dengan taipan2, cukong2, pencuri uang rakyat trilyunan? Atau kita akan memilih memaafkan. Lupakan saja. Toh, itu sudah terjadi. Bahkan, mari kita bantu talangi lagi jika hal serupa terjadi kembali. Berapa trilyun butuhnya? 10 trilyun? Gampang. Negeri ini bahkan dengan mudahnya pernah nalangin 147,7 trilyun ke orang2 kaya. 10 trilyun sih upil saja.

Btw, menurut Nenek Minah, 3 kakao yg dia ambil itu nilainya hanya Rp 2.000, dia mau pakai buat bibit. Tapi perusahaan mengatakan, nilai kakao itu Rp 30.000. Demikian.

**Penulis 40 buku lebih, termasuk 2 novel politik “Negeri Para Bebebah” dan “Negeri Di Ujung Tanduk”

***repos tulisan lama

(Visited 33 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account