oleh : Irawati Oemar

Refli Harun memprediksi Pemilu dan Pilpres serentak 2019 nanti akan jadi Pemilu terburuk sepanjang sejarah.

Alasannya :
Ada 5 pemungutan suara : untuk memilih capres-cawapres, memilih DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD.
Bayangkan, bagaimana konsentrasi pemilih?!
Bisa saja publik hanya antusias pada Pilpres karena akan memilih calon pemimpinnya yang akan datang.
Sehingga bisa jadi pemilihan DPR, DPRD dan DPD gak ada yang mengawal.


***

Meski miris dan sedih mendengar prediksi Refli, tapi sebenarnya tidak mengagetkan bagi saya. Coz saya pun mengira nanti bakal riweuh banget di TPS, ada 5 surat suara berbeda dengan gambar berbeda-beda.

Padahal pemilih se-Indonesia tingkat kemampuan berpikirnya dan kemampuan mengingat serta menerima/memahami instruksi sangat beragam.

Kalau saja 180-an juta pemilih semuanya orang berpendidikan, kelas sosialnya semua minimal di level menengah sehingga tidak mudah tergiur iming-iming sembako/money politics, semuanya melek informasi, tentu gak masalah.
Tapi kenyataannya justru tidak demikian, bukan?!

Sejak dulu saya sudah membayangkan, proses pembukaan 5 kotak suara dan penghitungan suara akan berlangsung hingga malam hari, bisa jadi lepas Maghrib baru kelar. Para saksi sudah lelah. Masyarakat yang menyaksikan sekaligus jadi pemantau juga sudah pada bubar, pulang ke rumah. Adakah yang berani menjamin tidak ada upaya mencurangi di saat-saat krusial seperti itu?!

Padahal soal data pemilih saja masih kacau.
Belum lagi e-KTP yang juga kacau. Banyak orang yang sampai sekarang belum bisa mendapatkan e-KTP padahal dia warga negara sah yang seharusnya diprioritaskan punya e-KTP.

Baca juga:  Pak Prabowo, Kami Memilih Anda, Tapi.....

Hanya punya surat keterangan berukuran besar yang harus diupdate setiap 6 bulan sekali dan bisa saja hilang, dll karena bentuknya yang besar tidak mudah disimpan di dompet.

Sementara disisi lain kadang ada yang mudah mendapatkan e-KTP.
Contohnya seseorang cagub yang dengan gampang punya e-KTP di tempat di mencalonkan diri padahal seumur hidup baru menjelang Pilgub saja dia pindah kesana.

Sedih, miris sekaligus ngeri membayangkan Pilpres dan Pileg serentak nanti.

Tapi tetap jangan putus asa kawan.

Bagi paslon Prabowo – Sandi, tidak punya kekuasaan, tidak punya media mainstream yang terang-terangan mendukung, tidak punya stasiun TV, tidak ada sponsor taipan reklamasi atau taipan BLBI, pokoknya hanya modal niat tulus ikut membenahi negeri ini.

Karena itu, kita yang mendukung Prabowo – Sandi, mari jadi relawan.
Percuma semangat berkampanye dan mengajak orang sekitar ikut memilih PaDi kalau akhirnya dikalahkan oleh kecurangan.

So, mari KAWAL PILPRES & PILEG (Pileg, terutama untuk DPR RI sangat penting untuk menjaga agar parlemen komposisinya tidak didominasi oposisi yang akan merongrong pemerintahan Prabowo – Sandi kelak.

Tidak cukup hanya mengandalkan saksi resmi yang ditugaskan oleh parpol pengusung. Kita wajib ikut jadi pemantau yang mendokumentasikan semua yang terjadi di TPS sampai seluruh proses perhitungan suara selesai.

Baca juga:  Jangan sewot, kami Ekonom juga tau soal utang

Tidak hanya sampai disitu, perlu juga mengawal sampai hasil suara dibawa ke kelurahan, kecamatan, sampai KPUD Kabupaten/Kota.
Meski tidak secara fisik ikut mengawal, kita perlu donasi finansial untuk membackup mereka yang selama 2-3 mingguan mungkin terpaksa tidak bisa bekerja karena menjaga form C1 dan proses rekap.

Saya sudah pikirkan konsepnya, apa kontribusi yang bisa kita lakukan sejak dari sekarang agar tak terasa berat 7 bulan ke depan.
Nanti akan saya tulis sedikit demi sedikit.
Yang penting kita satukan tekad untuk MENGAWAL PEMILU DAN MENJAGA KEMURNIAN HASILNYA.

Insyaa Allah, dengan niat baik, dengan memohon pertolongan Allah semata, dengan memaksimalkan ikhtiar dan dibantu doa, kita bisa menjemput kemenangan untuk Indonesia yang lebih baik.

Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin…
Kabulkan ya Allah.

(Visited 99 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account