Deal yach? Kami tetap pakai istilah “emak-emak”, kalian pakai istilah “ibu bangsa”.

Deal yach? Kami tetap pakai istilah “emak-emak”, kalian pakai istilah “ibu bangsa”.

Deal yach? Kami tetap pakai istilah “emak-emak”, kalian pakai istilah “ibu bangsa”.

KUBU PENDUKUNG JOKOWI HARUS KONSEKWEN, TANGGALKAN ISTILAH “EMAK-EMAK”
=================
(Iramawati Oemar)
•••••••

Setelah Kongres Wanita keberatan dengan istilah “emak-emak” dan didukung pula oleh Presiden yang juga capres petahana, bahwa perempuan Indonesia bukanlah emak-emak melainkan “Ibu Bangsa”, maka konsekwensi logisnya adalah MENINGGALKAN pemakaian kata “emak-emak” sekaligus MENANGGALKAN kata tersebut dari semua nama organ relawan Jokowi maupun Jokowi-MA.

Sebab, akan terlihat lucu dan sekaligus menyedihkan jika himbauan orang yang didukung tidak diindahkan oleh para pendukungnya.

Semua organ relawan Jokowi, baik yang didalam negeri maupun yang di Hongkong sana. Termasuk yang digagas oleh Ida Fauziah, segeralah berganti nama. Jika orang yang kalian dukung saja merasa tidak nyaman dengan istilah “emak-emak”, lalu mengapa kalian masih merasa nyaman memakai istilah itu?!

Selain itu, penggantian nama “emak-emak” menjadi “ibu bangsa” dikalangan pendukung petahana sekaligus akan jadi PEMBEDA yang tegas dan jelas dengan kaum perempuan pendukung Prabowo – Sandi yang sama sekali tidak ada masalah dengan istilah “emak-emak”. Kami fine saja, nyaman dengan sebutan emak-emak. Bahkan yang pertama kali mempopulerkan kata “emak-emak” justru para nettizen perempuan.

Istilah itu bermula dari fenomena maraknya pengkritik kebijakan Pemerintahan pak Jokowi di media sosial selama 3 tahun terakhir ini, yang didominasi oleh kaum perempuan.

Ketika sedang ramai kasus penistaan agama oleh Ahok, nettizen perempuan juga aktif menyuarakan pendapatnya. Bahkan di setiap Aksi Bela Islam selalu banyak dihadiri kaum muslimah, dimana mereka tidak saja hadir tetapi jadi pasukan penyedia sekaligus pembagi logistik.

Setiap kali terjadi gejolak harga dipasar, apalagi menyangkut komoditas pangan, emak-emak lah yang terdepan bereaksi. Ketika terjadi kriminalisasi terhadap produsen beras PT IBU, emak-emak pula yang memberikan testimoni pengalamannya mengkonsumsi beras Maknyuuss produksi PT IBU.

Baca juga:  Kilas Balik Singkat Hari Otonomi Daerah

Bahkan ketika Pilkada DKI, kaum perempuan pula yang banyak andil menjaga dan mengawal TPS selama proses pencoblosan hingga penghitungan suara selesai. Mereka mengkoordinasikan dirinya dalam kegiatan bertajuk “Tamasya Al Maidah”. Dan berkat ketatnya pengawasan, meski banyak perempuan yang turun, Iwan Bopeng dkk pun tak lagi beraksi. Kecurangan dapat diminimalisir.

Karena militansi nettizen perempuan yang tak pernah surut dan istiqomah pada jalur yang mereka perjuangkan, akhirnya lahirlah istilah “BEM” alias Barisan Emak-emak Militan. Istilah ini sudah populer sejak 2017 lalu.

Tak pernah ada yang mempersoalkan. Bahkan, belakangan kubu pendukung petahana pun mulai ikut-ikutan latah memakai istilah “emak-emak” untuk menamai kelompok mereka.
Apa sih yang gak ditiru oleh toko sebelah? Dari hastag sampai nama pun diduplikasi.

Lalu kenapa baru sekarang istilah “emak-emak” dipersoalkan dan dianggap kurang pantas?!

Sejak Sandiaga Salahuddin Uno, calon wakil Presiden pilihan Prabowo dan partai koalisi oposisi, menyebut istilah itu di KPU, pada Jum’at 10 Agustus lalu.
Ketika mendaftar ke KPU, Sandi dalam sambutannya menyampaikan : “ada banyak partai disini, tapi belum ada partai emak-emak. Saya hadir disini mewakili emak-emak”.
Kurang lebih begitu pidato singkat Sandi, yang kemudian membuat emak-emak se-Indonesia merasa tersentuh, “Mak…, nama kita disebut tuh Mak!” kata emak yang satu kepada emak-emak lainnya.

Bukan hanya karena Sandi ganteng, tapi karena dia punya kepedulian kepada keluhan emak-emak saat ini. Itu sebabnya kemana pun Sandi pergi, selalu saja dibanjiri massa yang kebanyakan emak-emak.

Setelah pidato singkat Sandiaga di KPU, bermunculanlah organ-organ relawan : Permak Bodi, Pepes, dll yang intinya semua menggunakan istilah “emak-emak” dan mendedikasikan dukungannya untuk Prabowo – Sandi.

Nah, fenomena inilah yang dimaknai sebagai sinyal bahaya, lampu merah, oleh kubu pendukung petahana. Karena itu, istilah “emak-emak” harus segera di-degradasi, direndahkan, dianggap kurang pantas, seakan emak itu panggilan merendahkan.

Baca juga:  Freeport Indonesia : Participant Interest vs Share

Padahal Emak, Enyak, Omak, Mamak, itu justru panggilan asli Indonesia, sudah ada sejak berpuluh bahkan beratus tahun lalu.

Jadi, sekali lagi, karena ini menyangkut keberatan dan kurang sukanya pak Jokowi pada pemakaian istilah “emak-emak”, tolong semua organ relawan dan pendukung Jokowi-MA segera mengganti nama, yang memakai istilah “emak-emak” agar secepatnya ditanggalkan dan gantilah dengan istilah “ibu bangsa”. Ini untuk menunjukkan kalian siap patuh pada instruksi orang yang kalian dukung. Kalau bukan kalian yang mau patuh, siapa lagi?! Iya kan?!

Sebaliknya, bagi pendukung Prabowo – Sandi, yang sejak awal bangga dengan istilah “emak-emak”, tentu akan lebih senang jika istilah itu identik dengan pendukung Prabowo-Sandi dan tidak DIJIPLAK, DICONTEK, DIDUPLIKASI oleh organ relawan/pendukung kubu sebelah. Karena itu akan makin menguatkan branding kami, sebagai kelompok yang lebih awal, lebih dahulu, memakai dan mempopulerkan istilah “emak-emak” sebagai nama organ relawan/pendukung.

Deal kan?
Kami tetap pakai istilah “emak-emak”, kalian pakai istilah “ibu bangsa”.
Harus konsisten lho ya!
Selamat ganti nama.

(Visited 446 times, 2 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account