#2019GantiPresiden atau punah

#2019GantiPresiden atau punah

#2019GantiPresiden atau punah

Oleh Insanial Burhamzah, (Koalisi Ummat Madani)

*POKOK-POKOK MASALAH*

Pilpres 2019 bukan sekedar pergantian Presiden tetapi akan menjadi pertarungan hidup matinya NKRI. Pilpres 2019 adalah pertarungan antara rakyat bangsa ini menghadapi hegemoni China Komunis yang sudah berhasil menempatkan “Boneka”-nya di negeri ini.

Patut diduga bahwa Pilpres 2019, akan menjadi Pilpres tercurang yang dipersiapkan secara massive, sistematis dan terstruktur dengan melibatkan hampir semua aparat dan elemen bangsa ini. Apalagi didukung dana besar sumbangan dari China Komunis dan para Taipan serta hasil korupsi proyek APBN dan Hutang Negara.

Persoalan yang kita hadapi adalah ada sebagian tokoh politik, organisasi Islam dan bahkan ber label ulama mau pasang badan untuk rezim yang memiliki agenda sistematis dan massiv untuk melumpuhkan Islam di negeri ini.

Sadar atau tidak sadar, mereka yang telah mendukung rezim yang sudah memberikan kedaulatan bangsa ini pada China Komunis itu, akan dicatat sebagai pengkhianat bangsa ini.

Mereka yang mendukung rezim ini terdiri dari yang paham dan tidak paham keadaan bangsa ini. Yang paham, mungkin karena diberi kedudukan atau pemenuhan sahwat duniawi di zona aman, sehingga hilang logika sehatnya, tipe seperti ini bagaikan *“Katak Rebus”* . Sementara yang gagal paham adalah mereka yang pada umumnya terkena *“Stockholm Syndrome”.*

*INDIKASINYA*

Bangsa ini terpaksa menanggung beban kehampaan dan kenestapaannya, atas proses *“Devide et Impera”* atau di adu domba oleh _*konspirasi global*_ yang telah berhasil melancarkan *Asymmetric War* nya, guna melemahkan persatuan dan kedaulatan rakyat bangsa. Sehingga, fondasi ekonomi bangsa ini yang dulunya mencapai 16% adalah pernah menjadi terkuat di ASEAN, namun saat ini GDP Indonesia hanya tinggal 10% sementara Thailand 19%, hal ini dipastikan semakin tidak berdaya lagi, ditengh gelombang krisis keuangan global ke dua, yang lebih berbahaya dari krisis keuangan keuangan global tahun 2008 lalu. Diperparah lagi oleh pelaksanaan penegakan hukum yang semakin jauh dari rasa keadilan rakyat bangsa ini.

Akhirnya pembangunan Politik Indonesia semakin mengarah pada perpecahan bangsa dan puncaknya sejak pada tahun 2014. Apakah kata NKRI dan Pancasila ini masih tetap memiliki makna ?

Tertangkapnya ratusan ton Narkoba yang masuk ke Indonesia patut diduga hanya puncak gunung es dari yang telah masuk di Indonesia. Sementara yang telah kecanduan sepanjang tahun 2017, BNN telah mengungkap 46.537 kasus narkoba di seluruh wilayah Indonesia.

Seorang dokter rekan kami memperkirakan Indonesia ada 8 juta pengguna (narkoba), 1,2 juta pengguna (narkoba) ada di Jakarta. Sementara kapasitas rehabilitasi pemerintah, hanya 12 ribu orang per tahun. Bisa dibayangkan berapa puluh tahun waktu diperlukan untuk merawat kondisi saat ini.

Angka *Incremental Capital Output Ratio (ICOR)* kita adalah 6.0 yang semestinya hanya 2.0. Ini angka darurat. Sepanjang rezim Soeharto, angka ICOR tertinggi adalah 3.0 akibat korupsi, ekonomi rente dan oligopoli. Di rezim Jokowi terus naik menjadi 6.0, atau 60% kebocoran pembangunan. Artinya korupsinya dan rentenya naik dua kali lipat dibanding Orde Baru. Sayangnya KPK, seakan menutup mata terhadap indikasi ini.

Untuk membayar gaji pegawai negeri pada tahun 2018, Menteri Keuangan akan melakukan pinjaman dana lagi pada bank dunia sebesar 28 milyar USD. Sementara, tenaga kerja China bukan saja menjadi ancaman lapangan kerja nasional, tetapi semakin menguat dugaan bahwa kehadiran tenaga kerja yang semakin dimudahkan dalam jumlah tidak terbatas di Indonesia bukan tidak mungkin adalah sudah menjadi ancaman terhadap pertahanan territorial yang dipersiapkan secara sistematis.

Sementara itu, menurut sumber yang terpecaya untuk mempertahankan NKRI jika terjadi serangan militer, maka Hankam memprediksi logistic TNI hanya mampu bertahan tidak lebih dari 3 hari saja. Belum lagi logistic nasional (Pangan, Papan dan lainnya) dibuat semakin tergantung dengan impor.

Belum lagi pasokan TKA China yang sudah tidak dapat terukur dan tidak dapat dikendalikan lagi

Melihat fakta diatas sangat naif jika masih ada elit bangsa yang tidak paham dan masih mau membela rezim yang telah memposisikan bangsa ini berada di tepi kepunahannya.

Baca juga:  Prabowo, Nasionalisme dan Bayar Utang

*KONFLIK GEO-POLITIK GLOBAL*

Stereotype NKRI justru mengalami paradoks. Kini fenomena NKRI berada ditepi kepunahannya. Bahkan, jika semua pihak mau jujur pada fakta yang ada saat ini, kepunahan bangsa ini tidak perlu menunggu tahun 2030 lagi, sebagaimana prediksi novel *“ghost fleet”*, sebab hampir disemua sendi pilar ketahanan nasional kita sudah mengalalami “disability” untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan enam bulan lalu bank dunia telah mengeluarkan pernyataan bahwa 37 % anak anak indonesia mengalami gizi buruk.

Kita memang belum tentu bersepakat bahwa persaingan global Amerika Serikat (AS) versus Cina di kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, akan mengarah pada konflik bersenjata sebagaimana diprediksi oleh *Dr Samuel Huntington* pada dekade 1990-an.

Namun ada satu tren global yang saat ini tak terbantahkan: Persaingan global antar negara-negara adidaya, yaitu antara AS versus Cina-Rusia, telah bergeser dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, ke kawasan Asia Pasifik. Artinya, Asia Pasifik akan menjadi “Medan Perang” baru berbaga kepentingan negara-negara adidaya. Sehingga Indonesia, otomatis juga akan menjadi “Sasaran Arena Pertarungan” berbagai negara-negara adidaya, melalui perang Asymetris.

Sasaran perang asimetris ini ada tiga:
(1) _membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme_,
(2) _melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat,_ dan
(3) _menghancurkan food security [ketahanan pangan] dan energy security (jaminan pasokan dan ketahanan energy) sebuah bangsa_, selanjutnya _”menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal food and energy security”._

Masalah krusial yang dihadapi Cina dalam pertarungan global dengan AS di kawasan ini adalah, Konfigurasi perairannya baik di Laut Cina Selatan maupun Laut Cina Timur sangatlah mudah diblokade pihak luar. Laut Cina Timur contohnya, terbentang di antara wilayah Korea, Jepang dan Taiwan, sedangkan Laut Cina Selatan pada bentangan antara Taiwan, Filipina, Indonesia dan Singapura.

Keprihatinan besar Beijing hingga kini adalah rencana blokade oleh AS di Laut Cina yang niscaya akan berdampak langsung terhadap perekonomian secara menyeluruh apabila hal itu terjadi.

*Oleh karena itu kami ingatkan bahwa bahaya laten imperialis China Komunis bukan isapan jempol, mereka bisa hadir dalam berbagai bentuk.*

Sudah waktunya kita semua melek mata dan hati untuk tidak dibohongi oleh pencitraan jahat rezim ini.

*KATAK REBUS*

Friederich Goltz pernah melakukan penelitian tentang ‘katak rebus’, katak yang direbus. Ini bukan masak-memasak melainkan sebuah penelitian yang menguji sikap katak menghadapi perubahan lingkungan. Sederhananya seperti ini:

Awalnya katak dimasukkan ke dalam air panas yang mendidih. Tentu saja katak melompat karena kepanasan.

Akan tetapi ketika air itu diganti dengan air biasa/dingin dan ditaruh di atas kompor yang menyala; katak pun bersedia masuk ke dalam air tersebut karena belum panas. Nampaknya si katak merasa nyaman dengan kondisi air yang demikian. Waktu berjalan, api kompor tetap menyala memanasi air, dan suhu air semakin lama semakin naik.

Air terasa hangat, dan si katak masih nyaman berendam di dalamnya merasakan kehangatan. Ia tidak sadar bahwa suhu air semakin panas. Hingga air itu mendidih, si katak tetap tidak keluar dari air, karena ia telah mati kepanasan sebagai Katak Rebus. Sekali lagi ia tidak menyadari hal itu.

Bisa jadi MEREKA YANG MENDUKUNG REZIM INI seperti katak rebus, nyaman dengan kondisi yang ada saat ini, dan tidak menyadari perubahan di sekitar. *Dimana, China Konunis terus melancarkan Perang Asymetris melalui Devide Et Impera, atau adu domba,* dan tanpa kita sadari China sudah berhasil menancapkan kukunya, melalui pemimpin Boneka-nya yg mereka dukung bersama para Taipan dan Islam munafiq di negeri ini.

Jika kita menganggap bahwa perubahan lingkungan itu biasa-biasa saja dan kita tidak peka; maka kita akan kalah bahkan mati, seperti Katak yg di rebus

Dan taruhannya NKRI akan hilang dan lenyap ditelan Naga yang sudah berubah menjadi Predator itu.

Baca juga:  Prabowo Subianto : Capres yang sangat ditakuti oleh Penguasa

* TERJEBAK STOCHHOLM SYNDROME*

Lebih lima puluh tahun yang lalu, Tepanya pada pagi tanggal 23 Agustus 1973 lalu. seorang narapidana merampok *Sveriges Kreditbanken* , di alun-alun Norrmalmstorg di Stockholm. Dari balik jaket lipat yang dibawanya ke dalam pelukannya, Jan-Erik Olsson nama perampiknya menarik senapan mesin ringan, menembaki langit-langit dan, menyamarkan suaranya terdengar seperti orang Amerika, berteriak dalam bahasa Inggris, “Pesta baru saja dimulai!” dan menyandera orang yang berada didalam.

Anehnya para tawanan membentuk ikatan solididaritas dengan para penculik mereka. Dan membela para perampok bank itu. Keterikatan para sandera yang tampaknya tidak rasional terhadap penangkap mereka membingungkan publik dan polisi, yang bahkan menyelidiki apakah Enmark telah merencanakan perampokan dengan Olofsson.

Para tawanan juga bingung. Sehari setelah pembebasannya, Oldgren bertanya pada seorang psikiater, “Apakah ada yang salah dengan saya? Mengapa saya tidak membenci mereka? ”Psikiater membandingkant perilaku.

*Stochholm Syndrome* sepertinya telah melanda sebagian elit dan rakyat bangsa ini, sehingga mereka kehilangan logika sehatnya. Sebab, mereka lebih memilih untuk membantu para musuh yang menyandera bangsanya sendiri. Oleh karenanya diperlukan psikiater untuk theraphy massive, systematic guna menyadarkan anak bangsa yang tersesat itu.

*PENUTUP*

Suka atau tidak suka, situasi sosial politik/hukum dan kondisi ekonomi negeri ini sudah semakin tidak terkendali. Patut diduga bahwa *kedaulatan negara dan bangsa sudah dibawah kendali asing melalui tangan-tangan jahil boneka / Komprador yang menjadi pengkhianat bangsanya sendiri*.

Sehingga, Rakyat Indonesia yang mayoritas Islam menjadi semakin resah akibat di-diskriminasi baik ekonomi maupun hukum dan di tindas secara anarkis. Bahkan, kalangan yang menyebut dirinya _”Silent Majority”_ yang mendukung petahana telah mengeksploitasi ketegangan-ketegangan yang ada dalam segmen kecil, namun mereka didukung *media mainstream dan dana yang besar*, sehingga mereka terkesan minoritas kuat rakyat bangsa ini.

Dilain pihak, *sebagian dari kita hanya bisa mengedepankan issue-issue perbedaan bukan membangun persamaan-persamaan kita,* dan kita hanya mencari kesalahan-kesalahan sesama Ummat, bukan mencari kebaikan yang dapat mempererat silaturahim sesama ummat. Sementara *penyelesaian masalah bangsa ini hanya bisa kita atasi melalui terbangunnya Koalisi Ummat yang kokoh, kuat dan berdaya juang tinggi*.

*Selama penyakit *Katak Rebus, dan Stochholm Syndrome* masih ada, maka hubungan antara anak bangsa ini ditentukan oleh ego sectoral, ego Partai dan ego golongan, maka kita hanya akan memperkuat boneka asing yang telah menyebarkan kebencian bukan perdamaian di negei ini. Mereka yang mempromosikan konflik bukan kerja sama yang dapat membantu semua rakyat kita mencapai keadilan dan kemakmuran. Saatnya ego primordial tidak menjadi lingkaran kecurigaan dan permusuhan diantara ummat, kila kita imgin #2019Ganti Presiden, bisa terwujud*

Kita harus bicara dan melakukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang lahir dari semangat merajut persamaan kebangsaan dan ummat. Sebab *kepentingan yang sama-sama kita miliki sebagai ummat merdeka jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang ingin memisahkan kita. dan kekalahan kita pada Pilpres 2019 adalah kekalahan kita bersama, namun sebaliknya kemenangan kita pada Pilpres 2019 adalah kemenangan kita bersama pula.*

Oleh karenanya, kita tidak dapat bertindak gegabah mendukung tokoh yang tidak mendapat legitimasi ummat, guna menghadapi Petahana. Sebab, taruhannya adalah punahnya NKRI. Dan yang dapat merajut koalisi ummat saat ini adalah hanya tokoh yang lahir dan dibesarkan oleh ummat, yang memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan ummat Islam.

(Visited 130 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account