Memberi sesuatu kepada orang lain itu ada kenikmatan tersendiri yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata

Memberi sesuatu kepada orang lain itu ada kenikmatan tersendiri yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata

MEMBERI & MENIKMATI

Oleh : Luthfi Bashori

Memberi sesuatu kepada orang lain itu ada kenikmatan tersendiri yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Bahkan seringkali harga nomimal barang yang diberikan itu tidak dapat dibayangkan oleh orang lain, selain pihak yang memberikannya.

Pemberian sesuatu itu tentu banyak ragamnya, bisa saja berupa uang, atau benda, atau makanan bahkan berupa ilmu, pendapat berharga, serta jasa yang tanpa memperhitungkan berapa ongkos yang semestinya didapatkan, dan sebagainya.

Pemberian juga ada yang harga nominalnya besar semisal berupa sebidang tanah, atau sesuatu yang kecil dan remeh namun sangat diperlukan oleh si penerimanya semisal tusuk gigi di saat si penerima itu sangat membutuhkannya, maka apapun jenis barang pemberian itu akan dapat menyenangkan si penerima dan bagi pemberi yang ikhlas itu akan merasakan kenikmatan tersendiri dalam hatinya di samping balasan pahala yang akan diterimanya dari Allah.

Sy. Anas RA mengungkapkan, bahwa sewaktu Rasulullah SAW telah tiba di Madinah, beliau SAW memerintahkan untuk membangun masjid. Beliau SAW bersabda kepada Bani Najjar, “Juallah kebun kalian kepadaku.” Mereka menegaskan, “Tidak, demi Allah, kami tidak mau menerima harganya kecuali dari Allah.” Maka Rasulullah SAW mendirikan Masjid di atas tanah Bani Najjar. (HR. Tiga Ulama’ Hadist).

Bani Najjar telah memberikan tanah milik mereka untuk kepentingan pembangunan Masjid Nabawi, di samping pahala yang sudah pasti mereka terima, tentunya hati mereka merasakan kenikmatan yang tiada tara baik di dunia apalagi di akhirat.

Baca juga:  Anak Rohis dan Anak Hijrah

Ternyata, banyak dari kalangan para shahabat Nabi yang secara ikhlas dan senang hati memberikan tanah milik mereka untuk kepada Rasulullah SAW demi mendukung perjuangan beliau SAW.

Sy. Ibnu Umar RA menceritakan bahwa ayahnya, Sy. Umar bin Khaththab pernah mendapatkan tanah di daerah Khaibar, lalu ia menemui Rasulullah SAW untuk meminta pendapat beliau SAW perihal tanah itu.

“Wahai Rasulullah, saya mendapat tanah di daerah Khaibar, dan saya belum pernah mendapat harta benda seindah itu dalam pandangan saya. Apakah yang engkau perintahkan kepada saya berkaitan dengan tanah itu ?”

“Jika engkau mau, waqafkanlah,” usul Nabi Muhammad SAW.

Jadilah Sy. Umar RA mewaqafkan tanah tersebut. Tidak menjualnya dan juga tidak mewariskannya kepada keluarganya. Buah dari pepohonan yang tumbuh dalam tanah tersebut dibagikan kepada fakir miskin, karib-kerabat, musafir yang sedang dalam perjalanan, dan menjamu tamu-tamu. Selain itu juga untuk memerdekakan hamba sahaya dan untuk membantu mensyiarkan agama Islam. Sedangkan orang yang memeliharanya boleh mengambilnya dengan jalan yang patut. (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Sy. Ibnu Umar RA mengabarkan, bahwa ayahnya, Sy. Umar bin Khaththab RA menemui Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, sungguh aku memiliki harta yang menurutku sangat berharga, tetapi aku ingin menyedekahkannya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sedehkahkanlah sebagai waqaf yang tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan. Namun, hanya diambil buahnya.”

Baca juga:  Peta distribusi kekayaan negeri

Maka Sy. Umar RA menyedehkakan kebun kurma tersebut, dan hasilnya untuk kepentingan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, untuk memenuhi kebutuhan fakir miskin, kaum kerabat, menjamu tamu, ibnu sabil, dan untuk memerdekakan budak. Tidak ada salahnya orang yang mengurus kebun itu memakannya dengan cara yang ma’ruf (maksudnya secara baik dan wajar). (HR. Abu Dawud).

Ada pula Sy. Abu Thalhah orang Anshar yang terkaya di Madinah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sy. Anas RA, beliau menceritakan bahwa Harta milik Sy. Abu Thalhah yang paling dicintainya, yaitu kebun Bairaha yang ada di depan Masjid. Rasulullah SAW sering masuk ke dalamnya dan meminum airnya yang tawar.

Sewaktu turun ayat yang artinya, “Kamu tidak akan memperoleh kebaikan, sebelum kamu menginfaqkan sebagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran, 92), maka Sy. Abu Thalhah segera menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Sungguh harta yang paling aku cintai adalah Kebun Bairaha, sekarang kusedekahkan karena Allah, dengan harapan agar aku mendapat pahala di sisi-Nya. Oleh sebab itu, manfaatkanlah Bairaha sesuai dengan kehendak engkau.”

Nabi Muhammad SAW bersada, “Itulah harta yang berpahala besar. Akan tetapi, menurutku sebaiknya engkau jadikan kebun itu untuk kaum kerabatmu.”

Lalu Sy. Abu Thalhah membagi-bagikan kebun Bairaha kepada kaum kerabat dan anak-anaknya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).

(Visited 36 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account