Gus Nur dan dukungan Jamaáh “Netizeniah

Gus Nur dan dukungan Jamaáh “Netizeniah

Gus Nur dan dukungan Jamaáh “Netizeniah

Oleh: Nasrudin Joha

Sulit, melepaskan sosok Gus Nur dengan dunia sosial media, karenanya tidak mungkin aktivitas pengajian termasuk perihal panggilan polisi terhadap Gus Nur tidak diketahui netizen.

Era sosmed, telah membentuk pola relasi dan interaksi unik.
Kehangatan dan kedekatan, dukungan dan pembelaan bisa saling migrasi, dari dunia nyata ke dunia jejaring sosmed, atau sebaliknya.

Karenanya, Gus Nur alias Cak Nur alias Sugi Nur Raharja, ketika mendapat panggilan polisi untuk hadir di Polrestabes Surabaya, tidak mungkin tidak diketahui netizen.
Dukungan netizen pasti membanjiri dunia maya, dan boleh jadi bermigrasi dalam bentuk dukungan nyata untuk ikut mengawal Gus Nur di polrestabes Surabaya.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari pola relasi dan interaksi sosial yang dibangun Gus Nur secara berjenjang, baik secara langsung melalui berbagai ceramah dan safari dakwah langsung, maupun melalui rekaman video yang diunggah di berbagai jejaring sosial media. Sisi Gus Nur, memiliki pesona tersendiri yang menempati dan mengisi ruang kosong hati masyarakat netizen.

Gus Nur, mampu menjembatani emosi dan aspirasi netizen tentang adanya penindasan dan kezaliman yang dipertontonkan rezim.

Gus Nur mampu memangkas rantai birokrasi penyadaran umat, dengan memilih pilihan bahasa langsung, terbuka, to the poin, dan mendamprat wajah kezaliman rezim secara terbuka.

Gus Nur, mampu menyederhanakan kritik terhadap kezaliman dengan bahasa kaum jelata, bahasa kaum sudra, bahasa yang langsung mewakili suasana kebatinan umat.
Tanpa basa basi, tanpa ewuh pakewuh, tanpa pakem dan setumpuk norma kultural yang menghambat diterimanya pesan.

Baca juga:  Tiga amalan dengan pahala tanpa batas

Mungkin juga, karena bahasa langsung ini, rezim dan begundalnya merasa resah, gelisah, dan akhirnya Tersulut amarahnya.

Celakanya, amarah itu tidak disalurkan melalui diskusi terbuka, yang membahas pikiran dengan pikiran, yang melawan ujaran dengan ujaran.
Alat kekuasaan negara, telah diambil alih dan dijadikan sarana untuk menundukkan Gus Nur, bukan diskusi intelek dengan mengadu argumentasi.

Karenanya, akan ada potensi besar keterlibatan netizen pada proses pemeriksaan Gus Nur di Surabaya, baik dukungan dan pembelaan kepada Gus Nur melalui sosial media, bahkan dengan ikut turut hadir langsung mengawal Gus Nur di Polresta Surabaya.
Fenomena ini wajar dan lumrah, masyarakat cenderung akan mencari sosok pembela kepentingan dan pahlawan.
Dan Gus Nur mewakili sosok itu.

Meskipun Nasrudin Joha juga memiliki jemaah, fans sebagaimana Gus Nur, tetapi tidak akan mungkin menyamai Gus Nur.
Nasjo hanya eksis di dunia maya, nasjo hanyalah hantu bagi penguasa.
Sedang Gus Nur, adalah sosok nyata yang mendobrak tirani kekuasaan secara langsung dan terbuka.

Sangat mungkin, dukungan jutaan netizen di dunia maya akan bermigrasi menjadi dukungan nyata. Dukungan dalam bentuk pengawalan, pendampingan, mengantarkan langsung Gus Nur hadir dalam pemeriksaan di Polrestabes Surabaya.

Baca juga:  Suaka via perkosa : menguak kebenaran perkosaan di kerusuhan Mei 1998

Sulit untuk menghalangi apalagi mencoba melawan arus dukungan.
Persepsi publik terhadap kezaliman penguasa, dan pandangan umum yang memberi predikat Gus Nur sebagai “pahlawan pembela umat” akan mengalirkan dukungan deras pada Gus Nur, baik secara maya hingga secara nyata.

Selamat Gus, engkau bersama apa yang kau cintai, yakni dakwah Islam menyampaikan yang hak dan menolak kebatilan.

Tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi langkah pengemban dakwah, setiap ujian yang datang akan semakin meninggikan derajat dan kemuliaan.
Barakallah. 😇[].

(Visited 251 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account