Merayakan “Cap” Intoleran yang Kalian Berikan

Ketika mereka mempertanyakan untuk apa melaksanakan Reuni 212?

Ahok Sudah Ditahan, untuk Apa Gelar Reuni 212?”

Pertanyaan simple yang mengandung perlawanan terhadap diadakannya Reuni Alumni 212 yang dilaksanakan di Monas, Sabtu 2 Desember 2017. Bukan saja pemerintah melalui Menkopolhukam yang angkat bicara. Beberapa pengamat juga menyebut “Reuni Alumni 212” Sebagai Aksi Genit Jaga Eksistensi”.

Bahkan saat Aksi Reuni Alumni 212 itu sudah selesai dilaksanakan, masih ada saja sebuah Stasiun Televisi yang menyederhanakan permasalah Aksi yang dilaksanakan hari itu dan mencapnya sebagai “Merayakan Intoleransi”.

Mereka lupa, bahwa kalimat sederhana yang mereka sampaikan sendiri ternyata sebagai pengakuan bahwa ada masalah “tidak sederhana” yang menakutkan bagi eksistensi mereka. Bahwa sebenarnya merekalah yang terlalu “genit” untuk mengotak-atik kebebasan Demokrasi yang seharusnya jadi hal biasa dilakukan dinegara yang mengadopsi azas Demokrasi dalam perilaku bernegara.

Mereka yang menyatakan Aksi Reuni 212 sebagai “Merayakan Intoleransi” sebenarnya sedang mengintimidasi sistem Demokrasi agar sesuai dengan kemauan mereka. “Memaksa” bahwa kebenaran mutlak terjemahan toleransi adalah milik mereka sembari melabeli “Intoleransi” bagi sebagian yang lain.

Apa terjemahan dari Reuni Aksi 212 benar-benar sesederhana itu? Mari sedikit mundur ke belakang, bisakah kami sedikit mengenang bahwa proses dari mulai pelaporan hingga berujung pada putusan penjara itu penuh liku yang bukan hanya menguras tenaga, tapi juga kepedihan dan air mata.

Kami tidak akan pernah lupa bagaimana sulitnya membuat sebuah laporan di Bareskrim untuk seorang Ahok. Kami tidak akan pernah lupa soal alasan yang diluar kewajaran tentang keharusan adanya Fatwa MUI untuk diterimanya sebuah Laporan. Meskipun banyak pihak melaporkan. Dari Politisi, Advokat, hingga tokoh masyarakat. Ini tantangan berat pertama, seakan menegaskan bahwa “melawan” Ahok bukanlah hal yang mudah.

Kemudian terbitlah Fatwa MUI soal Penistaan Agama yang dilakukan Ahok sebagai syarat yang diberikan oleh Bareskrim. Dan ini adalah masa-masa yang menyakitkan bagi kami, sebagian besar umat Islam. Alih-alih dengan Fatwa yang didesak oleh Bareskrim ini Ahok akan dijadikan tersangka dan ditahan, malah hujatan demi hujatan mengalir deras pada Ulama-ulama kami yang tergabung dalam Majelis yang sangat kami hormati dan Ulama-ulama lain yang mendukung proses yang adil lewat jalur yang konstitusional dalam memproses penistaan yang dilakukan Ahok. Sungguh baru kali ini penghinaan demi penghinaan dilakukan secara telanjang tanpa perasaan kepada Ulama. Penghinaan ini membuka ruang penghinaan-penghinaan lain dan berlangsung hingga saat ini karena pembiaran dan kesan “pembelaan” yang menurut kami berlebihan.

Baca juga:  Felix Siauw: Ketidakadilan Yang Telanjang

Proses mencari keadilan yang harusnya sederhana ini dengan mengikuti prosedur hukum, tiba-tiba seakan menjadi masalah Nasional yang besar. Umat Islam meradang, tapi kami hormati setiap jalan kontitusi yang memungkinkan. Aksi-aksi yang digagas oleh para Ulama yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) adalah wujud umat Islam menghargai setiap jalur konstitusional. Aksi massa tentu bukan “barang haram” yang mesti mendapat hujatan demi hujatan. Luar biasanya Ahok dan pertahanan disekitarnya, hingga kami harus melakukan beberapa Aksi yang seharusnya tidak akan kami lakukan jika proses hukum berjalan normal. Tapi tangan-tangan kekuasaan, Media dan Buzzer disekitar Ahok “memaksa” kami untuk menunjukkan seberapa serius kami ingin ini dilakukan. Aksi Bela Islam 1 hingga 4 bukan Aksi senang-senang seperti joged-joged yang kalian lakukan. Aksi kami berlumuran darah dan air mata para syuhada.

Kami akan terus mengenang, berapa banyak Ulama dan aktifis Islam yang musti “dikorbankan”. Kesan yang kami dapatkan atas kejadian ini adalah perlindungan yang kuat bagi seorang Ahok. Kivlan Zein, Ahmad Dhani, Ratna S Paet, Sri Bintang Pamungkas, Rizal Kobar, Jamran, Al Khathat, Buni Yani serta beberapa banyak nama lain yang mesti merasakan jeruji penjara bahkan disaat tidak adanya laporan. Terlebih istimewa lagi, bahkan kepolisian tidak mampu menunjukkan kesalahan yang mereka lakukan. Tapi apa lacur, dinginnya lantai penjara dan berpisah dari keluarga, hak kebebasan yang seharusnya tidak diambil serampangan, sudah mereka rasakan.

Baca juga:  Mencari Jalan Pulang

Terakhir dan yang ini akan jadi penguat bagi kami, bahwa label Intoleransi, label Radikalisme, dan pemberian label lain yang hingga sekarang kalian sematkan akan terus kami lawan dengan menunjukkan betapa kami sungguh toleran bahkan meski kami terus menerus ditekan. Radikalisme yang kalian harapkan terbukti bahkan membusuk seiring bebasnya kalian melakukan penghinaan demi penghinaan dan penistaan demi penistaan. Karena kami percaya, hukum suatu saat akan berjalan sesuai relnya. Kami hanya perlu mengkoreksi, tanpa perlu anarki. Kami hanya perlu bersatu, tanpa perlu memburu.

Dan kalianpun akan terus tersiksa dengan fitnah-fitnah yang tidak akan pernah terbukti.

Disini, kami merayakan Ukhuwah dan Silaturahim yang akan jadi penguat kebangkitan Islam, sementara kalian asyik masyuk dengan melabeli kami tanpa sadar kalian lemah memahami kekuatan yang ada dalam semangat Aksi bela Islam.

Disini, kami merayakan “cap” Intoleran yang terus menerus kalian berikan…

 

 

(Daud)

 

 

(Visited 172 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account