Berita dan Informasi Terkini
Pasca putusan MK tidak ada reaksi bahagia dari rakyat. Rakyat berduka, sedih, menangis dan menjerit ternyata MK melegitimasi kecurangan.
Kemarin KPU juga sudah menetapkan Presiden dan Wakil Presiden terpilih versi KPU dan MK, bukan versi rakyat. Rakyat meresponnya dingin sedingin salju.
Tidak ada hiruk pikuk massa di depan KPU.
Tidak ada nobar.
Tidak ada potong tumpeng.
Tidak ada pesta kemenangan.
Rakyat tak peduli pemenang Pilpres versi KPU dan MK.
Sampai hari ini Prabowo-Sandi hanya, sekali lagi hanya menghormati putusan MK.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada rekonsiliasi dengan kecurangan.
Sesuai komitmen Prabowo-Sandi pasca 17 April 2019 akan selalu bersama rakyat.
Mayoritas rakyat bersama Prabowo-Sandi sampai titik darah penghabisan.
Pendukung Prabowo-Sandi sebagai bagian mayoritas penduduk Indonesia tidak menghendaki Prabowo-Sandi rekonsiliasi dengan kecurangan. Prabowo-Sandi diyakini tidak akan mau menyakiti perasaan pendukungnya yang telah banyak berkorban. Berjuang tanpa pamrih. Berjuang untuk kedaulatan Indonesia.
Berkuasa tanpa legitimasi rakyat pincang. Mesti pasang muka tembok dihadapan rakyat. Hanya orang-orang yang tidak punya malu bisa “cengar cengir” di depan rakyat.
Berkuasa diperoleh dengan cara curang. Pemilu di desain untuk curang. Presiden dan Wakil Presiden terpilih dari proses Pemilu curang dianggap sah karena kecurangan telah diakomodir dalam peraturan perundang-undangan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129)
by Tarmidzi Yusuf
Bandung, 27 Syawal 1440/1 Juli 2019