Peduli-lah

Peduli-lah

Oleh : Tere Liye

Cukai adalah pungutan negara kepada benda2 yang masuk kategori sbb:

1. Konsumsinya perlu dikendalikan karena berbahaya
2. Peredarannya perlu diawasi
3. Pemakaiannya menimbulkan dampak negatif kepada masyarakat
4. dan atau pemakaiannya perlu dibebani pungutan negara agar adil dan seimbang.

Cukai lebih mirip denda, pinalti atas sebuah produk. Cukai berbeda dengan pajak. Tujuan utama cukai adalah: bukan pendapatan negara, tapi menekan konsumsi barang2 berbahaya tersebut, dengan adanya cukai diharapkan konsumsi bisa dikendalikan.

Maka, jika kalian membayar cukai rokok, ketahuilah, itu denda, alias pinalti atas barang merusak yang konsumsinya harus dikendalikan, serta menimbulkan dampak negatif. Entah siapa yang memulainya, eh, para perokok merasa bangga dia telah berkontribusi membangun negara. Dia bahkan tidak paham definisi cukai itu apa.

Nah, apesnya, pemerintah kadang lupa definisi cukai ini secara substansinya. Cukai rokok itu 153 trilyun tahun 2018; ngiler lihat angkanya yang besar sekali, mereka hingga hari ini tidak pernah mau meratifikasi WHO FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Wah, coba saja jika pemerintah Indonesia bersedia meratifikasi ini, bisa ketar-ketir itu industri rokok. Tapi mau bagaimana, pemerintah selalu enggan, ngiler lihat nilai cukainya. Tutup mata dengan dampak biaya kesehatan dan dampak ekonomi lainnya yang justeru berlipat ganda.

Pendapatan pabrik rokok di Indonesia itu boleh jadi tidak akan kurang dari 400 trilyun. Gudang Garam + Sampoerna saja menyumbang 200 trilyun sendiri. Belum Djarum, Wismilak, Benteol, dan ratusan pabrik2 kecil-menengah lainnya. Apakah Indonesia ini miskin? Tidak. Lihat, 400 trilyun dibakar jadi asap doang. Maka jika ada anak kurang gizi, stunting, terus lihat penduduk2 miskin, pendidikan tertinggal, kalian keliru jika bilang mereka ‘miskin’, karena mereka merokok tetap ngebul. Apanya yg miskin? 400 trilyun loh per tahun. Setara anggaran mindahin ibukota.

Baca juga:  MO-MONEY, LESS DEMOCRACY

Nah, yang sangat serius adalah, perokok pemula, anak-anak, remaja, naik dari tahun 2013 sebesar 7,2%, menjadi 8,8% tahun 2016. Kalian tahu berapa jumlah perokok anak usia di bawah 10 tahun di Indonesia? 239.000. Dan adalah fakta, mereka datang dari keluarga yang BPJS-nya ditalangi semua oleh Pemerintah. Puluhan juta lebih perokok di Indonesia itu dari keluarga tidak mampu. Yang BPJSnya ditalangi pemerintah.

Kita tidak bisa membiarkan anak-anak ini ditipu oleh rokok. Seolah merokok itu keren. Lihat, bubaran sekolah, SMP, SMA, bahkan SD, lazim sekali melihat anak remaja yang asyik merokok dengan seragamnya. Mereka ini korban. Sungguh mereka ini seharusnya dikasihani, tidak ada yang mendidik mereka, mengingatkan mereka tentang bahaya merokok. “Matikan rokokmu, Nak. Ganti dengan buka buku pelajaran.” Tidak ada. Karena siang-malam mereka digempur oleh teknik marketing tingkat tinggi dari industri rokok.

Baca juga:  Kejanggalan Tragedi Mako Brimob dan Tuduhan Konspirasi Intel Polri oleh FPI

Dan situasi ini diperparah lagi, sudah pemerintah tidak mau meratifikasi WHO FCTC, puluhan juta perokok di negeri ini bodo amat, bukan urusan saya dengan realitas perokok anak2. Mereka lupa tabiat mereka yang suka merokok sembarangan, adalah contoh paling ‘mulia’ bagi anak remaja di sekitarnya untuk ikutan merokok.

Saya sih tutup mata dengan perokok dewasa. Mereka mau merokok silahkan. Bebas. Ini negeri demokrasi. Sepanjang tidak melanggar peraturan dan UU, sah-sah saja merokok. Tapi sadarilah, mau jadi apa bangsa ini ketika perokok pemula terus bertambah? Bayangkan anak2 kita yang masih belasan tahun, mengepul asap rokoknya. Kalian kira ini kecil angkanya? Tidak. 8,8% itu mengerikan. Perokok remaja kita itu jutaan angkanya.

Saat negara maju, anak2nya sibuk belajar, sibuk berkompetisi, di sini, anak2 kita sibuk merokok? Sambil seragam dikeluarkan, bergaya macam cowboy. Sementara itu perokok dewasanya santai sekali, malah merasa menyumbang pembangunan; padahal dia bahkan tidak tahu blas beda definisi cukai dan pajak.

Semoga masih ada yang peduli. Minimal, mulailah berhenti merokok di depan anak2 kita, remaja2 kita. Masih ada banyak waktu dan tempat merokok lainnya, mulailah peduli.

*Tere Liye

(Visited 25 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account