Resiko pejuang politik

Oleh : Syahid As Syafi’i

Yang paling ditakuti musuh Islam adalah apabila umat Islam menguasai Politik dan Ekonomi. Umat islam yang ahli ibadah akan dibiarkan bahkan didukung dibiayai asal tidak berpolitik dan syukur jika mau jadi mendukungnya.

Mengapa khususnya politik ditakuti, karena dengan politik akan dapat leluasa mengelola dan berkuasa atas : Aturan/Undang undang, Ekonomi, Keuangan, alat kekuatan negara dan segalanya termasuk Dakwah khususnya.

Oleh karena itu bagi umat islam yang bejuang di politik untuk memperjuangkan agamanya bisa dipastikan akan mendapat sebutan tuduhan oleh musuh musuhnya sebagai : Radikal, Ekstrimis, Anarkis, Tidak Toleransi, Tidak Pancasilais, Tidak Bhineka Tunggal Ika, Mau mendirikan negara Islam, Tidak NKRI. Tujuannya untuk melemahkan, menghancurkan kegiatan tersebut.

Tuduhan yang tanpa dasar ini ternyata sudah ada sejak komunis PKI dan kroninya ketika hendak mendaklarasikan NASAKOM ingin menguasai Indonesia, mengalamatkan kepada para umat Islam yg menentangnya, yg akhirnya dibubarkanya Masyumi (partai Islam).

Juga sebelumnya pada zaman penjajah Belanda, tuduhan dan fitnahpun yang juga dialamatkan kepada Pejuang Muslim yang ingin memyelamatkan Negara dan Aqidah islam.

Termasuk belum lama ini di DKI, para pendukung Ahok, melontarkan tuduhan kepada yang tidak mendukung Ahok (sang penista Agama), dg sebutan Tidak Bhineka Tunggal Ika, Rasis, Ekstrim, Radikal, hanya karena tidak mendukung Ahok yg beda aqidah, Penista Agama Islam, Penggusur rakyat pribumi, mendatangkan china lewat reklamasi.

Baca juga:  Geliat Kebangkitan Islam

Termasuk di Singapora, ketika China ingin menguasai Melayu. yang tidak menerima China (umat Islam yang bersih dari suap ketika itu) dikatakan Militan, tidak toleran, menimbulkan Radikal., garis keras, sehingga terjadilah benturan sendiri dengan saudara muslim.

Yang suka ndepel penguasa pun mendukung Lee Kwanyu jadi pemimpin, Setelah berhasil, menyesal-lah umat islam Melayu, karena ternyata tertipu, Didatangkannya orang orang China dengan menggusur penduduk asli Melayu, hingga sekarang penduduk muslim Melayu tinggal 15 persen.

Di Palestina Partai Fattah (yang dekat dg Yahudi Isral), menyebut Hammas itu Ekstrim, Radikal, Tidak Toleransi, Teroris, hanya karena Hammas tidak mau kompromi dan berani menentang kepada Yahudi Israel yang menjajah ingin menguasai tanah Palestina.

Di Mesir, pemerintah sekuler, (dekat dg Yahudi, kejam terhadap umat islam Palestina karena menutup pintu perbatasan ke Palestina, yg mana rakyat Palestina sedang menderita), karena tidak mau kehilangan kekuasaannya mengopinikan Ikhwanul Muslimin gerakan Radikal, Ekstrimis, Makar hanya karena Ikhwanul Muslimin menang politik dan ingin menegakkan aturan negara supaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam dengan secara damai.

Baca juga:  Panggilan sejarah Mahfud MD dan hilangnya "Political Ethics"

*Akibat tuduhan*
Bagi orang awan hal tersebut sebagai hal yg dianggap benar, shg bicara Politik saja takut, tabu apalagi berjuang di politik untuk dakwah. takut dan menganggap kotor.

Pelajaran dan propaganda ini akankah terjadi, terulang lagi di Indonesia dan dinegara muslim lain…? Apakah kita yang dituduh atau yang menuduh bahkan ikut menuduh…?

Wallahu a’lam.

(Visited 57 times, 4 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account