Bukan (hanya) salah Fir’aun

Bukan (hanya) salah Fir’aun

Oleh : Rendy Saputra

Direktur Sulaiman Institute

 

Waktu di kuliah di ITB, Saya tinggal di kost-kostan anak aktivis. Waktu itu mereka lagi bahas buku yang judulnya lucu: “Bukan (Hanya) Salah Fir’aun”. Buku yang ditulis oleh tokoh muslim yang kalo Saya sebut namanya nanti malah pada ramai. Mendingan Anda cari sendiri penulisnya.

Buku ini kami bahas dalam malam-malam iseng kami. Maklum anak aktivis. Mau keluar uang pas pas an, mau pacaran pun kan haram. Ha ha ha… Jadi malam hari kami bahas topik-topik seputar pergerakan.

Fir’aun ini bukan nama orang. Ia nama sebutan bagi Ramses penguasa mesir. Pharaoh. Dalam Al-Quran disebut dengan Fir’aun.

Fir’aun ini kelewat batas zalimnya, mengaku Tuhan, menggorok semua anak laki-laki, melakukan kerja paksa pada Bani Israil. Dan banyak lagi kezaliman yang ada.

Didalam buku ini diceritakan bahwa kezaliman Fir’aun ini karena diamnya orang-orang disekitar Fir’aun. Semua orang bungkam pada kezaliman. Semua lingkaran elite Fir’aun memilih untuk terus memuja muji Fir’aun, mendukung kezalimannya, taat penuh, menyenangkan hatinya.

Akhirnya Fir’aun gede rasa. Lama kelamaan dia merasa jadi Tuhan. Apalagi ada riwayat Fir’aun gak pernah sakit, segar terus, memiliki kekayaan, kekuasaan, bahkan berbagai penyihir tunduk pada Fir’aun.

Sehingga inilah yang digaris bawahi, Ternyata ini semua terjadi pun tidak penuh salahnya Fir’aun. Tetapi para elite inilah yang menciptakan suasana gede rasa. sehingga lahirlah perasaan jadi Tuhan. Fir’aun jadi begitu karena bentukan lingkungan.

Baca juga:  Tiga amalan dengan pahala tanpa batas

Dalam berinteraksi dengan tokoh publik, terkadang secara tidak langsung Saya merasakan suasana mekanisme Fir’aun ini.

Ketika seorang tokoh sedang meniti jalan naik, tawadhunya luar biasa. Ramah. Menegur sapa. Baik. Dan luar biasa menyenangkan.

Begitu sudah diatas puncak, follower nambah, viral, skala panggung nya mulai naik, maka sangat terasa aura Fir’aun menyeruak.

Mengapa? Karena orang sekitarnya jarang ada yang mengingatkan. Semua sibuk bertepuk tangan memuji. Akhirnya sang bintang hilang kendali. Tanpa sadar merasa jadi tuhan. Dorrr. Terjebak dalam rasa Fir’aun.

Didalam organisasi bisnis, Firaunisme ini sangat sering terjadi. Terutama pada kepemimpinan bisnis yang keras dan otoriter. Jika keras dan otoriternya di jalan yang benar sih gak papa. Tetapi kalo kepemimpinannya keras dan otoriter di jalan yang salah, subhanallah. Semua bakal repot.

Seorang pengusaha di Jawa Barat. Sahabat baik. Saya diminta masuk ke workshopnya. Minta semuanya dibenerin. Suatu momen saya ditinggal. Diberi akses untuk bincang dengan semua karyawan.

Betapa terkejutnya, semuanya bilang:

“Kang Rendy aja yang ngomong, kami gak sanggup”.

Bayangkan saja, hutang modal kerja dari bank dengan suku bunga berjalan, dipakai untuk beli asset rumah pribadi. Malah bukan untuk modal kerja putaran.

Hal itu dilakukan. Direktur Keuangan mengetahui. Admin mengetahui. Santer di organisasi. Tapi semuanya diam.

Semua cari aman. Gak mau menegur. Gak mau berkonflik dengan sang bos. Karena mereka juga mengerti, menegur sang bos sama saja dengan cari mati. Apalagi menyinggung keputusan tarik cash modal kerja ke beli rumah, bisa naik pitam beliau.

Baca juga:  Mind Games : Permainan Berbahaya KPU?

Akhirnya Saya beranikan bicara. Dan benar saja itu hari terakhir saya di perusahaannya. Ha ha ha…

Saya yang waktu itu bisnis konselor muda belum memahami cara berkomunikasi. Dia gak nyaman, Saya pun gak nyaman kalo dia gak terima. Gimana mau dibaikin perusahaannya, wong masalahnya ada di pak bos.

Begitulah kurang lebih. Banyak perusahaan yang menciptakan Fir’aun nya sendiri. Pak Bos selalu benar. Tidak pernah salah. Jangan kritik atau kasih masukan ke pak Bos. Jika disalahkan jangan membela. Jika disudutkan diam saja. Jika diinjak injak terima saja.

Atas nama menjaga stabilitas perasaan pak bos dan keamanan kelanjutan karir karyawan, semua diminta DIAM dan tetap menjunjung pak bos, apapun yang terjadi. Bahkan dibumbui dengan nasehat “sabar”.

Inilah yang akhirnya melahirkan Fir’aun ditengah organisasi.

Tidak ada kritik. Tidak ada yang berani menegur. Tidak ada yang bisa memberitahu. Tidak ada yang bisa mengutarakan pandangan lain.

Akhirnya,

Merasa paling kuasa.
Merasa keputusannya paling benar.
Merasa hebat dan sukses.
Merasa berhak berbuat apa saja.
Yang lain hanya pengikut dan penggembira.

Jika perasaan ini sudah menjangkit mendalam ke sanubari seorang pemilik bisnis, maka mohon kesadaran ini kita usahakan terobati, karena jangan sampai jadi Fir’aun, Fir’aun itu ujungnya tenggelam.

 

(Visited 33 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account