Angka cantik yang sangat spesial : 212

Angka cantik yang sangat spesial : 212

*REUNI 212 Yang Amat Spesial Bagi Alumni ITB Penulis Kisah Paling Inspiratif Aksi 212*

Siapa yang tidak pernah membaca Kisah Super Inspiratif Aksi212 oleh seorang arsitek Alumni ITB dan tak menitikkan air matanya? Lalu kecintaan jutaan muslim di negri ini pada islam pun makin bertambah?

Kisah Haru Biru di Balik Aksi Super Damai 212

Penulisnya adalah Joni A Koto, seorang pria kelahiran Bukittinggi 44 tahun lalu, profesinya adalah arsitek, developer dan pengamat masalah perkotaan, dia adalah junior Ridwan Kamil di jurusan Arsitektur ITB walau dalam pilihan politik sekarang sudah berbeda.

Bang Jonkot, sapaan akrabnya sejak taubat dari ahokers mulai aktif di kegiatan kegiatan yang cukup strategis, beliau adalah salahsatu perintis Petisi 1000 Alumni ITB Tolak Reklamasi Jakarta bersama rekannya Muslim Armas, Eriyon dan Akhmad Syarbini yang kemudian menjadi bola salju dukungan oleh alumni universitas universitas lain dengan kajian ilmiah dan seksama dan Gub Anies Baswedan pun makin mantap menghentikan Reklamasi Jakarta. Bagi bang Jonkot, Reklamasi Jakarta bukan lagi hal urgent dan penting karena dalam era digital manusia tak akan wajib lagi tinggal di zona perkotaan, dan kota ke depan bukanlah kota kaum eksklusifisme tapi kota yang ditata ulang untuk semua kelas sosial.

Bang Jonkot disela kesibukannya sebagai arsitek dan masterplanner juga aktif bersama GMB ITB membantu Jakarta untuk program seperti Urban Farming, OK OCE, Kali Bersih, Ekowisata Kep.1000 dan lainnya. Beliau juga terakhir aktif di Sahabat PADI ITB bersama Akhmad Syarbini dalam memberi dukungan pada Paslon Capres No 2 Prabowo Sandi.

Bang Jonkot juga mengajak teman temannya alumni ITB untuk tidak apatis dan harus mulai aktif di politik tapi dengan niat benar benar ingin memperbaikin negeri, atau paling tidak peran eksekutif dan legislatif tak jatuh ke tangan orang orang yang tidak memiliki integritas, kapasitas dan skill memadai seperti yang sudah terjadi selama ini.

Bang Jonkot sendiri ikut nyaleg bersama puluhan teman Alumni ITB lainnya. Ketika ditanya apakah sudah mulai kampanye dia jawab, “Saya masih malu mas kampanye, saya ini bukan siapa siapa dan merasa belum memberikan apa pun buat bangsa ini, saya juga tak mau memberi janji2 yang tak pasti bisa saya penuhi, biarkan teman2 lain duluan kampanye..”, tukasnya.

Bang Jonkot nyaleg untuk DPRD DKI Dapil 3 partai PBB (kec. tanjung priok, penjaringan, dan pademangan) karena passion dia di pembenahan perkotaan dan baginya warga di wilayah utara Jakarta sangat perlu perhatian khusus sejak adanya reklamasi, setelah kita cek di DCT DKI nama aslinya ternyata Joni Trianto, nama Koto adalah nama sosmed, nama marga atau sub suku minang.. untuk DPRD DKI juga ada rekan perjuangannya Eriyon yang nyaleg di dapil 4. Sementara teman akrabnya Rudi Abdulrahman seorang Ahli Lingkungan nyaleg untuk DPR RI dapil 1 Sumut dan Ahli IT, Ahli Kawal Pemilu, Hairul Anas di dapil Madura..

Selamat bergabung kembali bersama bang Joni A Koto ditengah jutaan ummat muslim di Reuni Spesial 212 tanggal 2 Desember ini… Semoga 2019 Indonesia kembali berjaya Adil dan Makmur..

Nah, untuk Nostalgia lagi, berikut kisahnya… :

_*ADAKAH SAYA AKAN TAK IKUT LAGI AKSI 212?*_

desember 2016

…. _Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan. Bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yang dipunya dan sedikit jalan-jalan menikmati dunia. Saya anggap orang yang maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool. Janganlah sesekali dan ikut-ikutan jadi orang norak. Ikut kelompok jingkrang-jingkrang dan entah apalah itu namanya._

Baca juga:  Dosa Anies terbesar adalah karena ia menjadi gubernur DKI

_Saya tak ikut aksi bela agama ini itu kalian jangan usil, jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak.. Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal. Saya bantu orang-orang, bantu saudara-saudara saya juga. Jangan kalian tanya-tanya soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang-orang respek pada saya, temanpun aku banyak. Tiap kotak sumbangan saya isi._

_Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi dia baik aja kok. Saya bisa hargai apa yang sudah dia buat bagi Jakarta. Saya anggap aksi ini itu hanya soal politik. Karena kebetulan ada pilkada. Saya tak mau terbawa-bawa arus seperti teman-teman kantor dll yang tiba-tiba juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari-cari sensasi. Paling juga mau selfie-selfie._

Sampai satu saat…

_Sore ini (Kamis, 1 Desember 2016) dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat, saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki. Saya melambat. Mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih-putih, rompi hitam dan hanya beralas sendal. Muka mereka letih. Tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah-wajah itu. Mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yang mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh-aneh atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yang ugal-ugalan._

_Ini aneh, biasanya kalau sudah bertemu orang ramai-ramai di jalan aromanya kita sudah paranoid. Suasana panas dan penuh tanda tanya negatif. Sore ini, di jalan, aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah-wajah dan baju putih mereka yang basah terkena gerimis. Papasan berlalu, aku setel radio lain. Ada berita, rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota-kota lain sudah memasuki kota (Jakarta), ada nama jalan yang mereka lalui. Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu. Aku tertegun._

_Lama aku diam. Otakku serasa terkunci. Analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yang sesuai dengan pemikiranku, apa yang membuat mereka rela melakukan itu semua? Apa kira-kira?. Aku makin sibuk berfikir. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka-muka ikhlas itu. Apa mereka ada tujuan-tujuan politik? Aku rasa tidak. Kebanyakan orang sekarang mencapai tujuan bukan dengan cara-cara itu. Apakah orang-orang dengan tujuan politik yang gerakkan mereka itu? Aku hitung-hitung, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yang mau ongkosi karena nilainya sangatlah besar._

_Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga. Terlihat di pinggir-pinggir jalan anak-anak sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas dan sedikit kue-kue warung ke mereka. Sepertinya itu dari uang jajan mereka yang tak seberapa. Aku terdiam makin dalam. Ya Allah, kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini? Kenapa hanya hal-hal jelek yang mau aku lihat tentang agamaku. Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku?_

_Aku mampir ke masjid, mau sholat Ashar. Aku lihat sendal-sandal jepit lusuh banyak sekali berbaris. Aku ambil wudhu. Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer. Muka mereka lelah sekali, mereka duduk, ada yang minum, ada yang rebahan, dan lebih banyak yang lagi baca AlQuran._

_Aku sholat sendiri. Tak lama punggungku dicolek dari belakang, tanda minta aku jadi imam, aku cium aroma tubuh-tubuh dan baju basah dari belakang. Aku takbir sujud, ada lagi yang mencolek. Nah, kali ini hatiku yang dicolek. Entah kenapa, hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam. Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku. Ya Allah, aku tak pantas jadi imam mereka. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka. Bagiku agama hanya hal-hal manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style, bla bla bla. Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka. Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku?_

Baca juga:  Karena politik selalu punya dua panggung

_Hanya 3 rakaat aku imami mereka, hatiku luluh ya Allah. Mataku merah nahan haru. Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum. Agak malu-malu aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali. Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yang telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh. Dia demam sedikit aku panik. Aku nangis dalam hati. Di baju putihnya ada tulisan nama sekolah, SMP Ciamis. Ratusan kilo dari sini. Kakinnya bengkak karena berjalan sejak dari rumah, dia cerita bapaknya tak bisa ikut karena sakit dan hanya hidup dari membecak. Bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yang capek, tapi dia larang. Aku dipermalukan berulang-ulang di masjid ini. Aku sudah tak kuat ya Allah. Mereka bangkit, ambil tas-tas dan kresek putih dari sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid. Rasa-rasanya melihat punggung-punggung putih itu hilang dari pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yang menuju surga. Kali ini aku yang norak, aku sujud, lalu aku sholat dua rakaat, air mataku keluar lagi. Kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian._

_Sudah jam 5-an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini. Meeting dengan klien sepertinya batal. Aku mikir lagi soal ke-Islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yang telah ciptakan aku, yang memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini. Dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini? Ada dimana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?_

_Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yang telah lepas dalam benakku selama ini. Ada satu kata, sederhana sekali tanpa bumbu-bumbu: Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada._

_Aku mampir di minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional. Ini kebangganku yang pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali. Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalan-Mu yang lurus, yang lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati._

_Yaa Allah ijinkan aku besok ikut Shalat Jumat dan berdoa bersama saudara-saudaraku yang sebenarnya. Orang-orang yang sangat ikhlas membela Mu. Besok, tak ada jarak mereka dengan-Mu ya Allah. Aku juga mau begitu, ada diantara mereka, anak kecil yang basah kuyup hari ini. Tak ada penghargaan dari manusia yang kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku. Mohon Kau terima dengan sangat_ .. _Bismilahirahmanirahiim.._

_-TAMAT-_

*Kisah ini ditjeriteratakan oleh Alumni ITB 93, Joni A Koto. Kini sebagai Arsitek dan Urban planner.

Sumber: catatan FB Maria Prambudhiarty Hsp

(Visited 84 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account