Rakyat Di”tilap”. Warga Jawa Barat harus sigap.

Rakyat Di”tilap”. Warga Jawa Barat harus sigap.

Rakyat Di”tilap”. Warga Jawa Barat harus sigap.

RAKYAT DI”TILAP”, WARGA JABAR HARUS SIGAP.
JANGAN LENGAH, APALAGI LEMAH!

Oleh :  Iramawati Oemar
•••••••

Di”tilap” (pakai “a” bukan “e”), saya sungguh tak tahu apa padanan katanya dalam bahasa Indonesia yang baku. Saya hanya bisa menerangkan maknanya. Kurang lebih begini :

Seorang anak rewel, merajuk ingin ikut kedua orang tuanya yang hendak pergi. Lalu ortunya menenangkan si anak, dengan mengatakan mereka tak akan kemana-mana, di rumah saja. Lalu si anak disuruh bermain-main, kalau perlu pergi bermain ke rumah tetangga.

Nah, ketika si anak sedang sibuk bermain dan tak lagi memperhatikan keberadaan ortunya, saat itulah kedua ortu pergi beneran. DITILAP, kata wong Jowo. Orang Sunda mungkin punya istilah lain dengan makna serupa.

Issu bakal diangkatnya Komjen Iwan Iriawan menjadi Pjs. Gubernur Jawa Barat menjelang digelarnya Pilkada serentak, sudah meruak sejak Februari lalu. Tak kurang forum ILC pun turut mengangkat topik itu jadi tema diskusi.

Ramai-ramai pihak terkait menolak, menyanggah. Kata Depdagri itu baru sekedar usulan dari Polri, belum tentu juga diproses.

Kenapa hanya nama dari Polri yang muncul, tak adakah ASN, birokrat karier yang pantas menjadi Pjs?! Alasannya saat itu baru Polri yang merespon surat Mendagri. Usulan dari institusi lain belum masuk. Don’t worry, waktu masih panjang, blablabla…
Intinya : rakyat tak perlu khawatir!

Empat bulan berlalu, di saat mayoritas rakyat Jawa Barat sedang sibuk merayakan Idul Fitri, suasana masih diliputi kemeriahan silaturahmi, sebagian besar masyarakat masih mudik ke kampung halaman masing-masing, mendadak muncul kabar “esok Komjen Iwan Iriawan dilantik!”

Ya, beritanya baru bocor ke media massa mainstream pada H-1 sebelum pelantikan. Hari Minggu, tepat di hari ke-3 lebaran.

Dan…, masih dalam suasana libur lebaran, dilantiklah Iwan Bule, sah!
Padahal, menjelang Ahmad Heryawan mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat, dikabarkan Sekda Jabar lah yang akan ditunjuk menjadi Penjabat Sementara. Itu running text di tv swasta sebelum Idul Fitri.

Tentunya running text itu muncul karena pihak redaksi pemberitaan stasiun tv mendapat berita demikian. Maka, sempurna sudah pe”nilap”annya!!!

Rakyat Indonesia, khususnya warga Jawa Barat, seperti anak kecil yang dibujuk dengan permen, disuruh bermain, dan saat sudah LENGAH, maka apa yang dikhawatirkan itupun terjadilah!

Jadi, masihkah kita bisa 100% percaya pada ucapan yang keluar dari mulut para pengelola negeri ini?!

Manusia yang dipegang ucapannya. Ketika ucapan itu tak lagi bisa dipegang, habis sudah integritasnya!!!

Kalau boleh usul kepada Pak Karni Ilyas, tolong diputarkan kembali ILC episode yang membahas soal Irwan Iriawan bakal jadi Pjs. Gubernur Jabar. Komplit tanpa editing, kami mau melihat wajah-wajah munafik dan mulut-mulut busuk yang tega menilap rakyat yang membayar gaji mereka.

* * *

Mendengar kabar pelantikan Iwan Bule, mendadak berkumpul dalam ingatan semua keping-keping puzzle yang bertebaran di Jawa Barat. Bermula dari rencana pembubaran/pelarangan kajian yang akan menghadirkan Ustadz Bachtiar Nasir di Garut, namun justru membuat kajian itu jadi tabligh akbar.

Lalu menyusul penganiayaan kepada beberapa figur ulama/ustadz, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Semua pelakunya adalah orang “tidak waras”, penderita gangguan jiwa hingga tak mungkin diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Tak lama disusul keributan yang dipicu oleh ormas tertentu, yang beranggotakan para preman, bikin onar. You know who-lah siapa di balik ormas tersebut.

Baca juga:  PHK Krismon vs PHP Krismen. Mana yang lebih parah?

Dan yang masih segar di ingatan kita, bulan Ramadhan kemarin, 2 kardus berisi e-KTP atas ijin Allah “menjatuhkan diri” dari atas truk engkel pengangkutnya. Dari sanalah kemudian publik tahu masih ada berkardus-kardus lainnya di sebuah gudang di Bogor.

Semua rentetan kejadian itu terjadi di wilayah JAWA BARAT!!!
Propinsi berpenduduk terbanyak, otomatis pemilik hak suara pun terbanyak ada di Jawa Barat.

Lumbung suara nasional ada di JaBar, sehingga asumsinya : siapa bisa menguasai JaBar, maka akan menguasai nasional.

Jawa Barat juga punya posisi strategis sebagai wilayah penyangga DKI. Bekasi, Depok, Bogor adalah kota-kota yang berdempetan langsung dengan ibukota Jakarta.
Maka, tak diragukan lagi Jawa Barat adalah Propinsi paling penting untuk dikuasai.

The ruling party sudah kalah di Banten, propinsi yang bertetangga dengan DKI. Hanya cukup sekali putaran saja, petahana yang didukung oleh PDIP dan Nasdem itu kalah dari penantangnya.

Di DKI, meski harus berlaga di 2 putaran, namun pasangan petahana yang didukung penuh parpol-parpol pendukung penguasa, akhirnya kalah telak hingga 2 digit dari Paslon yang awalnya hanya didukung Gerindra dan PKS saja.

Kerjasama dan soliditas masyarakat DKI dibantu masyarakat dari luar Jakarta, berhasil mengawal Pilgub DKI putaran kedua bebas dari kecurangan dan pemilih ‘siluman’ sehingga kemenangan oposisi bisa diraih.

Kini tinggal Jawa Barat. Jika di DKI ada kepentingan pengembang reklamasi teluk Jakarta, maka di Jawa Barat ada kepentingan pengembang Meikarta.

Sejak awal ‘pertarungan’ memang sudah tidak imbang, karena dari 4 Paslon yang berlaga, peta-nya mengerucut jadi 3 : 1.

3 paslon yang diusung parpol-parpol pendukung Pemerintah VS Paslon yang didukung partai oposisi. Dalam satu kesempatan di acara Mata Najwa, tegas ketiga Paslon menyatakan mendukung pak Jokowi untuk lanjut 2 periode pada Pilpres 2019 nanti.

Hanya Paslon ASYIK (Ajat/Sudrajat dan Syaikhu) saja yang berani berkomitmen untuk ganti presiden pada 2019 nanti. Ketegasan itu bahkan diekspresikan pada debat cagub-cawagub Jabar.

Dilihat dari kekuatan logistik kampanye di lapangan, harus diakui bahwa Paslon ASYIK memang keteteran alias kewalahan dan tak sanggup menyaingi 3 kandidat lain.

Maklum, pengadaan logistik kampanye (baliho, spanduk, poster, dll) semua butuh uang. Bahkan distribusi dan pemasangannya pun perlu dana tidak sedikit. Karena sejak awal Paslon ASYIK ini TIDAK ADA YANG MEMBERI UANG, alias tak punya bohir, wajar kalau agak kelimpungan dalam urusan atribut kampanye. Partisipasi simpatisan sajalah yang membuat kampanye ASYIK tetap asyik-asyik aja.

* * *

Kini, tantangan bagi Paslon ASYIK semakin berat. Pengangkatan mantan Kapolda Metro Jaya menjadi Pjs. Gubernur Jawa Barat tak pelak menyulut keraguan publik atas netralitasnya mengawal Pilgub Jabar.

Apalagi salah satu kontestan adalah mantan Kapolda Jabar yang menjadi Cawagub, diusung oleh PDIP.

Mendagri yang mengangkatnya adalah kader bahkan mantan Sekjen PDIP. Jadi komplit sudah alasan masyarakat untuk tidak percaya. Jangan salahkan keraguan masyarakat, apalagi proses pelantikannya yang seolah menilap masyarakat.

Tapi, terkadang kita memang butuh tantangan, butuh “dikeroyok” dulu agar solid. Banyak pelajaran bisa dipetik dari Pilgub DKI. Saat putaran pertama, banyak laporan masyarakat di medsos soal penggelembungan perolehan suara di TPS. Pada hari pencoblosan, di beberapa tempat disinyalir ada pemilih “siluman”.

Baca juga:  Surat terbuka untuk Wiranto

Apalagi sudah didahului dengan temuan bea cukai soal kiriman dokumen e-KTP dari luar negeri. Belum lagi fenomena intimidasi terhadap pemilih di TPS oleh oknum Iwan Bopeng.

Pengalaman putaran pertama itu kemudian menyadarkan warga DKI dan luar DKI, tentang perlunya mengawal TPS. BUKAN HANYA KEHADIRAN SAKSI UTUSAN PARPOL, namun hadirnya para relawan pemantau yang memonitor kondisi TPS hingga selesai perhitungan suara.

Alhamdulillah, tak ada lagi preman ala Iwan bopeng berkeliaran di TPS, tak ada pemilih “siluman” yang mendadak hadir di TPS sejam menjelang TPS ditutup dengan hanya bermodalkan e-KTP. Pun juga tak ada yang berani mengubah komposisi perolehan suara di TPS hingga ke KPUD.  KEMENANGAN TELAK pun berhasil diraih. Kerja keras semua pihak membuahkan hasil.

Menjelang Pilgub DKI putaran kedua, Paslon Anies-Sandi juga dikepung berbagai serangan. Selain video kampanye bernuansa SARA yang diunggah oleh Ahok di akun Twitternya sekitar 2 pekan menjelang pencoblosan, juga guyuran hujan deras sembako yang melanda seantero Jakarta. Terang-terangan, masif, seakan dengan cara itu mereka bisa membeli suara pemilih.

Wamakaru, wamakaraLlah. WaLlahu khoirul maakiriin…

Kini, Paslon ASYIK di Jawa Barat sedang dikeroyok dari berbagai sisi.
Akankah kita diam?!
Akankah kita pasrah, menyerah?!
Akankah kita lesu darah karena kalah modal?!
TIDAK!!!
Pilgub DKI telah membuktikan bahwa tanpa materi berlimpah, hanya bermodal UKHUWAH, kita bisa bikin musuh kalah!!!

Ayo, warga Jabar pendukung ASYIK, kerahkan seluruh anggota keluarga anda untuk berpartisipasi MENGAWAL proses Pilkada. Ajak seluruh sanak famili yang sudah dewasa, untuk tidak hanya datang ke TPS, mencoblos, lalu pulang. Jangan!

Datanglah ke TPS lebih awal, lalu jaga TPS sampai proses penghitungan suara selesai dan dibuat berita acaranya. Dokumentasikan setiap kejadian, apalagi kalau ada yang mencurigakan.

Atur dan bicarakan dengan keluarga, siapa yang berjaga di TPS mana. Anggota keluarga yang perempuan berjaga di TPS terdekat yang petugas KPPS nya sudah kenal baik. Sementara yang laki-laki berpencar ke TPS sekitar.

Jangan mengandalkan droping konsumsi dari parpol, karena memang tidak memungkinkan. Bawa bekal dari rumah, nasi bungkus atau roti dan botol minuman. Saat tiba waktu sholat, bergantian menjalankan sholat di musholla terdekat. Usahakan survey lokasi TPS yang akan dipantau dan dikawal.

Siapkan gadget dalam kondisi siap pakai. Kosongkan memori, pindahkan foto dan video ke laptop atau PC. Hapus aplikasi yang tidak penting, toh nanti bisa diinstal kembali.

Bagi warga luar Jawa Barat, khususnya DKI, saatnya membalas bantuan warga Jabar. Usahakan bisa ikut membantu pilkada Jawa Barat, memantau dan mengawal.

JANGAN LENGAH, JANGAN LEMAH!!!
KITA TIDAK AKAN MENYERAH!!!
WASPADAI SETIAP POTENSI KECURANGAN, SEKECIL APAPUN!!!

Dan yang jauh lebih penting lagi :
PASTIKAN SELURUH SANAK KELUARGA ANDA YANG BERUMUR 17 TAHUN ATAU KEBIH DAN SUDAH/PERNAH MENIKAH, SUDAH TERDAFTAR DAN MENDAPAT UNDANGAN MEMILIH.

Jika keluarga sudah semua, coba tanyakan tetangga anda, apalagi yang tergolong orang awam. Jika belum terdaftar, bantu mereka MENGURUS HAK PILIHNYA.
Dan tentu saja ajak mereka memilih Paslon nomor urut 3, ASYIK.

KENALKAN DENGAN FOTO PASLON SUDRAJAT & SYAIKHU.

Mari kita paripurnakan kemenangan di Banten dan DKI dengan kemenangan juga di Jawa Barat!

(Visited 886 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account