Kenapa susah sekali pahamnya?

Kenapa susah sekali pahamnya?

Oleh : Tere Liye

Crazy. Itulah respon pertama saya membaca ‘Insights & Interpretations’ laporan PISA 2018. Kalian tahu PISA? Kepanjangannya Program for International Student Assessment, salah-satu survei (studi) paling penting dalam dunia pendidikan. Yang melakukan survei adalah Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Juga salah-satu lembaga penting di dunia.

Apa tujuan PISA ini? Mengukur ‘keberhasilan’ sistem pendidikan anak2 di berbagai negara. Dari studi mereka, kita bisa tahu negara mana saja yang mencapai skor tertinggi mutu pendidikan. Skor dilihat dari tiga aspek: Reading, Mathematics, dan Science. Sampel diambil rata2 dari 10.000 murid di setiap negara, dengan sampel murid usia 15 tahun-16 tahun (setelah mereka kurang lebih melewati SD dan SMP).

Studi ini dilakukan setiap tiga tahun sekali, dan laporan terbarunya 2018 sudah keluar. Kalau mau baca, silahkan kunjungi website OECD. Bagaimana studi dilakukan? Simpel. Murid2 ini diberikan test, ada pilihan ganda, ada jawaban essay. Contoh untuk aspek Reading. Mereka dikasih bacaan beberapa paragraf.

Lantas ditanya: apa gagasan utamanya, dll. Akan kelihatan sekali apakah murid tsb skill membacanya tinggi, atau cuma abal2 saja. Ada 6 level skill Reading (Level 1 maksudnya kurang lebih ini anak cuma bisa baca doang; Level 6 maksudnya–meski agak hiperbolik, itu anak bahkan setelah baca tulisan tsb, dia bukan cuma paham, bisa menangkap gagasan utamanya, bahkan dia bisa menuliskan tulisan yg lebih keren lagi). Juga aspek Math dan Science, kurang lebih sama tesnya dan level2nya.

Lantas apa hasilnya? China. Adalah bintang terang dari laporan terbaru. 10 tahun lalu, China ini entah ada di mana rankingnya. 2018, mereka merajai 3 aspek. Reading. Mathematics, Science. Mereka menumbangkan Singapura, Macau, Finlandia, Jepang, Kanada, yg selama ini dikenal sbg negara2 dgn sistem pendidikan terbaik. Crazy.

Naiknya China dalam ranking teratas, bisa membuat peta pendidikan dunia berubah. Kenapa? Karena China digerbong terdepan memaksa habis2an anak mereka sekolah. Di sana, anak2 masuk jam 7/8 pulang jam 5. Itu SD. SMP dan SMA-nya pulang malam. Beberapa negara yang sistem pendidikannya lebih ‘selow’, seperti Finlandia, yang anaknya masuk jam 9 pulang jam 2, tetap masuk 10 besar; tapi merangseknya China dalam studi ini, bisa membuat perdebatan ttg: apakah anak sebaiknya dibiarkan santai belajar atau dipaksa habis2an belajar akan memasuki ronde berikutnya.

Baca juga:  Rocky Gerung: Salah Kaprah Tentang Fiksi dan Fiktif

Saya sih tetap percaya yg selow. Karena survei ini jelas tidak bertanya apakah murid2nya bahagia atau tidak. Tapi itu saya, kalian boleh mendukung China. Karena toh, metode mereka setidaknya terbukti sejauh ini. Entah di masa depan. Baik sekarang kita lompat ke Indonesia. Di mana ranking kita? Crazy.

Untuk skill Reading, Indonesia hanya ada di urutan 72 dari 77 negara yg disurvei. Dengan skor 371, yang aduuuh, turun dari skor 2015, yg 397. Murid2 di Indonesia itu hanya ada di level 1 kemampuan membaca. Cuma bisa baca doang. Yeah, itulah faktanya. Sorry, murid2 kita itu, usia 15 tahun, dikasih satu artikel belum tentu paham apa maksudnya, apalagi disuruh menulis ulang gagasan baru dari artikel itu.

Tentu saja ada murid2 kita yang jenius, itu benar, tapi rata2 seluruh Indonesia begitu faktanya. Situ mau ngaku atau nggak begitu, dul. Termasuk, situ mau ngaku atau nggak, 3 tahun terakhir: pemerintah gagal total mengurus soal beginian.

Karena score Maths kita juga buruk, ranking 72 dari 78, level 1 saja Mathsnya. lagi2 juga turun dari skor 2015. Dan Science, ranking 70 dari 78. Juga turun skornya dari 2015. Dari tiga aspek, kacau semua.

Apakah elit politik membaca studi ini? Mbuh. Lah, situ nyuruh baca orang yg level membacanya cuma 1. Paling juga tanggapan mereka: itu studinya jangan2 di NTT, Papua. Bukan di sekolah unggulan. Itu studi ngaco, tidak penting. Atau bilang: alaaah, kalau berdasarkan skor versi saya, Indonesia itu malah rangking 1. Dan mungkin respon top mereka; itu studi isinya HOAX.

Mereka tidak melihat fakta, bahwa mereka gagal total mengangkat mutu pendidikan nasional tiga tahun terakhir. 2012 ke 2015 masih mending lah, naik dikit. Ini malah turun lagi. Dan please, kalau kita bicara ttg keberhasilan, selalu pakai data, jangan pakai perasaan. Kayak ngomongin korupsi, kacau kalau situ pakai perasaan. Lihat indeks korupsinya dong. Juga hasil pendidikan. Perasaan sih bagus. Apalagi ngomongin ekonomi; perasaan sih meroket. Tapi lihat itu pertumbuhan ekonomi, lihat angkanya, stuck.

Baca juga:  Apakah saya seorang pedofil?

Bandingin dgn hutangnya, dll. Lihat itu Vietnam dll lari mereka, angkanya kelihatan. Tapi kalau dibilangin begini, nanti ngeles lagi, ooh, itu karena negara mereka dikit penduduknya, bla bla bla. Ampun dah, semua selalu ada alasannya. Seriusan, skor PISA Indonesia itu tdk bertambah nyungsep 3 tahun terakhir lebih karena kita masih punya banyak guru2 yg setia di luar sana.

Dengan segala keterbatasan mereka, guru2 ini tetap semangat mengajar. Beruntung kita masih punya aktivis2 pendidikan yg diam2 mengirim ribuan buku2 ke sekolah2. Punya orang2 yg peduli pd pendidikan yg diam2 membantu, minimal mempertahankan skornya tdk tambah buruk.

Kalau cuma ngandelin pemerintah, apalagi ngandelin oportunis, belagak peduli pendidikan, tapi ujung2nya tertawa bahagia dpt jabatan dll, itu sih ngimpi. Kenapa sy kesal sekali lihat hasil studi ini? Karena kita ini tidak pernah berubah loh. Aduh, kenapa situ susah sekali pahamnya. Lihat hasil studi ini.

Kita itu tidak berubah. Gayanya doang yg seolah ada kemajuan dalam sistem pendidikan dasar nasional, tapi kita ini nyungsep terus. Lihatlah skor skill reading kita. Literasi kita. Duh, Gusti, anak2 Indonesia hanya ada di level 1 dari 6 level kemampuan membaca. Tahu artinya level 1 dari 6? Artinya, kita ada di strata paling rendah memahami bacaan, dll, dll.

Saya tahu, ada anak2 kita yang jenius; tapi dari Sabang sampai Merauke itulah faktanya. Maka tolong, kalian yg rebutan berkuasa, yang hepi sekali jadi pejabat, janji2 ini, janji2 mikirlah dikit. Kan sekarang itu ada 38 Menteri/setara menteri, 12 Wakil Menteri, 14 staf khusus. Ini sudah mirip Kabinet Dwikora 100 menteri loh. Masa’ mikirin naikin skor PISA saja tdk bisa. Dan kongkrit, jangan pakai perasaan, apalagi pencitraan saja. Sampai bertemu dengan PISA berikutnya.

Semoga ada perbaikan skornya. Sungguh, saya orang paling duluan yang akan bilang terima kasih kepada kalian jika skor PISA kita membaik.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account