Insyaa Allah #2019PrabowoPresiden !

Insyaa Allah #2019PrabowoPresiden !

Oleh : (Iramawati Oemar)

Hari Ahad, nettizen masih euphoria dengan rekomendasi hasil ijtima’ Ulama.
Hari Senin nettizen terbelah sama kuat. Tapi hari ini, setidaknya “warna” tulisan yang berseliweran di timeline saya sudah banyak yang condong ke Ustadz Abdul Somad.
Bahkan banyak komentar di status beberapa teman, dibanjiri dengan dukungan dan harapan agar UAS bersedia jadi cawapres Pak Prabowo.

Pasti diam-diam sudah ada lembaga survey yang langsung bergerak, bikin survey elektabilitas Prabowo jika dipasangkan dengan Ustadz Somad.
Dan jangan heran kalo hasil surveynya rendah.

Bagi saya, siapapun pendamping Pak Prabowo, maka ia haruslah menjadi “aset” bagi Prabowo, bukan “liability”.

Dari sisi elektabilitas, harus mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo.
Dan elektabilitas diawali dengan popularitas.
Bagaimana orang akan memilih kalau kenal saja tidak?!
Jangankan Pilpres, pemilihan Ketua RT saja warga pasti pilih yang paling dikenal.

Dari sisi integritas, haruslah orang bebas dari kemungkinan dikorek-korek dan dicari-cari kesalahannya, terutama jika pernah jadi pejabat publik yang punya otoritas pengambil keputusan yang terkait dengan dana/uang.

Dari sisi “isi tas” juga perlu. Tak dipungkiri Pilpres diperkirakan akan membutuhkan dana hingga trilyunan rupiah untuk berkampanye di seluruh wilayah Indonesia raya.

Tapi…, bukan berarti Pak Prabowo akan mencari yang sanggup mendanai pencapresannya. TIDAK!!!

Baca juga:  Pohon Plastik di Tengah 'Post Truth Society

Karena itu ketika kemarin ada akun milih kader salah satu parpol koalisi membuat cuitan di twitter bahwa hanya partainya saja yang SANGGUP MENDANAI pencapresan hingga 7 Triliun, saya merasa tersinggung. Kesannya kok arogan, seakan Pak Prabowo akan dibeli.

Sepertinya dia sedang bicara “hai Prabowo, kami siap nih mendanai anda maju pilpres, 7T kami siapkan, asal anda pilih tokoh kami jadi cawapres anda”.

Padahal, Ibu Rahmawati Soekarno sudah berniat memberikan asetnya senilai lebih dari 1T, tanpa syarat dan ketentuan berlaku, hanya demi membantu perjuangan Pak Prabowo, eeeh…, tidak diterima oleh Pak Prabowo.

Sudahlah, lebih baik tidak usah mengumbar kemampuan dana trilyunan. Nanti malah dicurigai lho, dari mana punya dana segitu banyak.

Lagi pula, jangan-jangan nanti malah bakal jadi FITNAH besar kalau Pak Prabowo mengambil cawapresnya dari tokoh parpol itu.
Bisa diisukan Prabowo dibeli.

Sebenarnya cara “intimidasi” halus seperti itu malah jadi BLUNDER.
Alih-alih meraih simpati publik, bisa jadi malah sebaliknya.

Pak Prabowo tidak ingin bergantung pada satu orang tertentu, atau parpol tertentu, atau lembaga tertentu atau apalah, yang bisa meng-klaim sebagai “CUKONG” yang MENDANAI pencapresan beliau.
Sehingga kelak jika menang dan jadi Presiden RI, yang merasa mendanai ini akan merasa punya hak mengatur-atur dan ikut campur dalam pengambilan keputusan penting.

Baca juga:  Defisit Guru Dan Kebisuan Pemerintah

Lihatlah bagaimana Pak Prabowo menggalang dana bagi perjuangannya.
Beliau memilih membuka “fund raising” uang transparan, melalui channel telegram, ditransfer melalui bank sehingga bisa dengan mudah dilacak siapa saja yang menyumbang dan berapa besar sumbangannya.

Kalau seandainya Pak Prabowo berpasangan dengan Ustadz Somad, lalu siapa yang akan mendanai?! Saya tidak pesimis. Rasanya banyak yang bersedia ikut menyumbang. Jumlahnya mungkin tidak trilyunan, tapi kalau se-Indonesia dan kontinyu hingga Pilpres, insyaa Allah tak akan kekurangan juga.

So, jangan sekali-kali merayu Pak Prabowo dengan iming-iming uang.
Itu BUKAN pertimbangan utama baginya.

Yang terpenting, bagaimana kita memenangkan pertarungan deadly match ini!

Insyaa Allah #2019PrabowoPresiden !

(Visited 39 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account