Berapa Saldo Kita Yang Tersisa

Berapa Saldo Kita Yang Tersisa

Berapa Saldo Kita Yang Tersisa

Oleh : Tere Liye

Ada guru honorer yang harus mengajar dengan tersenyum, semangat nan ceria kepada murid2nya, untuk saat pulang, dia harus kembali ke realitas, uang buat beli beras tidak ada, listrik belum dibayar, cicilan hutang masih menumpuk. Besok pagi, dia kembali ke kelas, mengajar lagi dengan tersenyum, semangat nan ceria, menghadapi murid2 yang suka melawan, susah nurut.

Ada penjaga loket, yang dimaki oleh customernya yang tidak sabaran, padahal penjaga loket ini terlambat melayani karena harus membantu yang lain dulu. Dimaki begitu kasarnya, membuatnya menangis. Dia seka diam2 air matanya, lantas saat customer berikutnya datang, dia tetap tersenyum, tersenyum, dan tersenyum.

Ada driver transportasi online yang dikomplain, diomelin pelanggannya karena makanan telat datang. Padahal dia telah antri begitu lama untuk dapat makanan tersebut, jalanan macet, hujan turun, semua diluar kendali dia. Diomelin seolah tidak ada harganya perjuangan dia–hanya karena pelanggan telah membayar. Dia tetap tersenyum, bilang maaf berkali2, menahan tangis. Untuk kemudian kembali mengambil order berikutnya dengan semangat.

Ada penyanyi, penulis, pembuat film, pekerja kreatif yang berminggu2, berbulan2 kurang tidur untuk menyelesaikan karyanya. Saat karyanya terbit, dia dikritik habis2an, dihina habis2an. Padahal Ya Tuhan, yang mengkritiknya ini ternyata cuma nonton bajakannya, baca dari bajakannya, atau mendengarkan musik dari internet yang ilegal juga. Menangis terisak pekerja kreatif ini. Tapi dia menyeka air matanya, kembali berkarya. Sementara tukang bajak ini, terus menonton film2 ilegal, mencuri serial2 bajakan, untuk kemudian kembali bergaya mengkritisi, memaki2.

Baca juga:  Al Gazali dan Dendam Anak-anak Revolusi

Ada seorang pembantu yang dimaki oleh juragannya. Ada seorang karyawan dimaki oleh atasannya. Dibilang ini kenapa nggak beres, ini kenapa belum selesai, ini, itu. Padahal dia boleh jadi sedang sakit, memaksakan diri bekerja. Padahal dia boleh jadi sedang ada beban hidup berat di keluarganya, tapi terus bekerja sambil tersenyum. Karena itulah satu-satu pilihannya.

Hidup ini keras, Kawan.

Dunia modern telah menghabisi begitu banyak saldo saling menghargai, bertenggang rasa, saling membantu kita semua. Berapa saldo kita sekarang soal ini? Jangan-jangan sudah minus. Kata-kata “terima kasih”, “tolong”, “maaf”, mulai menguap dimana-mana. Orang2 lebih sibuk menuntut haknya. Sibuk sekali, bahkan saat dia lupa melaksanakan kewajibannya, dia tetap menuntut haknya.
Kita lebih sibuk membahas diri sendiri: saya, saya, dan saya. Semua dari kaca-mata saya. Bahkan jika saya tidak bahagia hari ini, maka itu salah orang lain. Saya, saya, dan saya. Sampai lupa, boleh jadi kitalah bajingan tak bergunanya.

Baca juga:  Untuk Pak Prabowo : Saya - Kita - Kami, tetap mendukung penuh sejak 2014

Coba bentangkan lagi hidup kita 10 tahun terakhir. Catat semua kebaikan yang pernah kita lakukan buat orang lain? Pertolongan yang kita berikan. Catat semuanya. Lantas catat juga semua kebaikan yang orang lain lakukan buat kita. Catat semuanya. Bukankah berat sebelah? Justeru orang lain-lah yang banyak sekali membantu hidup kita. Padahal kita belum menghitung kebaikan yang Tuhan berikan kepada kita, udara segar, air bersih, kesehatan, tubuh yang sempurna, panca indra yang utuh, dsbgnya, dsbgnya. Kita juga belum menghitung: hei, hidup kita jauh lebih berkecukupan dibanding orang lain. Apakah kita termasuk dari orang2 yang harus jadi babu, mandi di parit kotor, hidup di dipengungsian, perang, dsbgnya? Tidak.

Hidup ini keras, Kawan. Tapi pastikan, kita tetap menjadi ‘manusia’-nya. Jangan sampai kita berubah jadi batu, hilang sudah sisi-sisi kasih-sayang, dan pedulinya. Atau malah jadi “binatang”-nya, buas sekali menghardik orang2 yg kita anggap rendah di sekitar kita.

 

(Visited 36 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account