Dibalik besarnya dosa riba

Dibalik besarnya dosa riba

oleh : M. Putra, M.Esy.

Ketika pertama kali membaca hadits tentang dosa riba, saya sempat terkejut dan bertanya-tanya. Segitu besarkah dosa riba? Atau jangan-jangan hadits ini tidak shahih? Karena di antara ciri-ciri hadits yang terindikasi palsu adalah sangat tidak sepadannya besar pahala dengan sebuah perbuatan baik atau dahsyatnya dosa dengan sebuah perbuatan jahat. Perbuatan baiknya kecil tapi pahalanya bisa mengalahkan perbuatan-perbuatan baik yang tergolong besar. Atau perbuatan jahatnya kecil tapi dosa atau ancamannya mengalahkan perbuatan jahat yang tergolong besar atau berat. Nah, karena ciri-ciri tersebut, mungkinkah hadits tentang dosa riba ini palsu atau minimal dhaif?

Hadits yang saya maksud adalah hadits yang mungkin juga sudah sering Anda dengar, yaitu :

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

dan hadits berikut :

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi)

Bagaimana menurut Anda, tidakkah dosanya teramat sangat besar? Bahkan saking besarnya, memakan harta riba 1 dirham saja (sekitar Rp 40.000 untuk kurs sekarang) mengalahkan dosa berzina sebanyak 36 kali. Na’udzubillah… Padahal mencuri uang milik orang lain dengan jumlah yang sama atau lebih pun belum tentu dosanya sebesar itu. Lalu pada hadits kedua, dosa riba malah lebih seram lagi. Dikatakan dosa riba yang paling ringan saja sudah setara dengan dosa menzinai ibu kandung sendiri. Astaghfirullah….

Jadi, apakah hadits ini dhaif atau palsu? “Sayangnya” ternyata dua hadits di atas shahih. Bukan dhaif apalagi palsu. Itu artinya dosa riba, 100% asli sangat sangat besar. Bahkan dua kali kata sangat pun mungkin belum cukup untuk menyatakan kebesarannya.

Tidak itu saja, beratnya ancaman riba juga dinyatakan Allah dalam al-Quran. Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan riba padahal dia tahu, maka sama saja dengan menyatakan perang terhadap Allah dan rasul-Nya (QS. 2 : 279).. Duh, begitu banget kata Allah.. lha perang sesama manusia saja kita bisa sengsara apalagi perang sama Allah. Gak kebayang deh..

Sekarang timbul pertanyaan dalam pikiran kita, kenapa ya ancaman dan dosa riba itu begitu besar. Padahal kalau diliat-liat perbuatannya tidak jahat-jahat amat. Ups…🙊

Tapi benar kan ya secara zhahir perbuatannya gak jahat-jahat amat? Kita pinjamin orang lain uang lalu atas pinjaman tersebut kita dapat sedikit imbal jasa. Kayaknya mencuri lebih jahat deh.

Nyata-nyata mengambil milik orang lain tanpa membantu sedikit pun. Mungkin itu yang terpikir dalam benak kita. Tapi benarkah demikian? Betulkah perbuatan riba itu tidak jahat-jahat amat?? Kalau memang gak jahat-jahat amat gak mungkin dong dosanya begitu besar.

Baca juga:  FPI, Kalian radikal sekali !!!

Setelah melalui perenungan yang cukup panjang dan melelahkan (ciee..), Alhamdulillah saya akhirnya menemukan titik terang. Ternyata benar riba itu sangat jahat bahkan lebih jahat daripada zina dan mencuri. Maka tak salah ancamannya juga lebih berat. Paling tidak ada beberapa alasan mengapa riba itu sangat jahat.

Pertama, saya ingin Anda menjawab dengan jujur. Tapi cukup dalam hati. Pernahkah Anda berzina? Mungkin sebagian besar dari kita menjawab tidak. Apa alasannya? karena kita takut dosa. Atau boleh jadi juga karena gak ada kesempatan. Coba kalau ada kesempatan, belum tentu juga rasa takut dosa kuat menghalangi kita..

Tapi sukurlah kesempatan itu jarang bahkan tak ada. Dengan adanya perasaan takut dosa plus tak ada kesempatan, kita alhamdulillah bisa terhindar dari zina.

Sekarang coba kita bandingkan dengan riba. Sudahkah kita takut riba? Kalau iya kenapa kita masih menabung di bank konvensional dan tidak punya sama sekali rekening bank syariah?

Mengapa kita masih menggunakan kartu kredit? Mengapa kita masih kredit kendaraan dengan leasing ribawi? Mengapa pula masih kredit rumah dengan sistem ribawi? Dan parahnya, kesempatan melakukan riba itu begitu banyak.

Terang benderang dan legal secara hukum. Jika kita menjauh dia malah datang mendekati. Seperti saat saya membeli mobil. Saya sudah siapkan uang untuk membeli cash.

Tapi penjualnya melancarkan rayuan maut agar saya lebih memilih kredit. Dan entah sudah berapa kali pula saya ditelponin pegawai bank yang menawarkan kartu kredit. Nah kalau sudah begini, tidakkah riba lebih berbahaya daripada zina..??

Kedua, ancaman riba sangat besar karena riba itu dianggap biasa dan bahkan dilegalkan oleh hukum. Tidak hanya satu dua negara, tapi hampir di seluruh negara di dunia ini.

Na’udzubillah… Orang demo kebijakan miras, itu sudah sering. Demo keberadaan lokalisasi, juga sering. Tapi pernahkah kita mendengar orang demo meminta dicabutnya riba?? Saya sendiri belum pernah mendengar.

Jika ada sepasang muda mudi tertangkap berzina, orang-orang pada ribut. Tidak hanya menggerebek, kadang-kadang mereka juga melakukan persekusi. Tapi kalau ada orang lagi melakukan transaksi riba, pernahkah ada yang menggerebek?

Kalau ada yang menggerebek petugas bank lagi mencatat riba, pasti yang menggerebek yang bakal masuk penjara. Coba aja kalau ga percaya. 😁

Nah, dengan ancaman yang super duper dasyhat saja, riba masih dilegalkan, dijalankan dan dijadikan mata pencaharian, apalagi jika ancamannya biasa-biasa saja. Tentulah riba ini akan makin merajalela. Benar apa betul??

Ketiga, alasan mengapa riba lebih berbahaya daripada zina adalah kalau zina sangat mudah diidentifikasi (diketahui bahwa itu zina), sedangkan riba tidak. Kalau dalam istilah fiqih, baru dikatakan zina (mohon maaf) jika zakar masuk ke dalam farji tanpa ikatan pernikahan. Dari dulu sampai sekarang, defenisinya tidak berubah. Tak ada inovasi dalam kegiatan intinya tersebut.

Baca juga:  Mengapa dan untuk apa harus melakukan teror?

Sedangkan riba, inovasinya sungguh luar biasa. Jangan bayangkan riba itu hanya pinjaman berbunga saja. Tidak hanya itu. Riba telah menjelma ke berbagai bentuk transaksi, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Sampai-sampai orang tidak tahu kalau transaksi itu riba. Bahkan tak jarang pula, pembuat transaksi riba itu melabeli dirinya dengan Syariah. Na’udzu billah..

Keempat, pernahkah anda mendengar negara yang hancur karena rakyatnya suka berzina? Misal lelaki dari negara A menzinai perempuan dari negara B, lalu negaranya menjadi hancur? Saya belum pernah.

Tetapi pernahkah Anda mendengar negara yang hancur karena riba? Negara A menguntangi negara B dengan sistem riba, lalu negara B pun hancur akibatnya. Yang begini banyak. Di antaranya adalah Zimbambwe. Negara ini bangkrut karena tak mampu membayar utangnya pada China. Tentu saja bukan sekadar utang, tetapi utang yang berbunga alias riba. Akibatnya berbagai asset vitalnya pun diambil alih oleh China.

Selain Zimbabwe, juga ada Yunani di Eropa. Argentina di Amerika Selatan. Lalu ada Anggola, Ekuador, Jamaica, Puerto Rico dan Nauru. Indonesia jika tak berubah, masih di bawah presiden yang sekarang 5 tahun lagi, mungkin saja juga akan mengalami nasib yang sama. 😠 Bayangkan, kata si Presiden, setiap tahun bunga dari utang Indonesia adalah 250T. Duaratus lima puluh triliun!! Itu baru bunganya saja, belum pokok utangnya.

Maka wajarlah ada yang meramalkan Indonesia ini akan hancur di tahun 2030. Bahkan jangan-jangan sebelum itu, jika presiden yang sekarang jadi dua priode..

Nah, sahabat sekalian, masihkah kita berpikir riba itu lebih ringan daripada zina….??

Tulisan ini dikirim dengan fitur Pesan Massal (Broadcast). Jadi gak perlu dijawab. Cukup dibaca, direnungkan dan syukur-syukur bisa diamalkan. Jangan lupa dishare agar saudara kita yang lain juga merasakan manfaatnya. Semoga yang share mendapatkan bagian dari sedekah jariyah

(Visited 240 times, 1 visits today)

Dee Sagita

comments
  • Coba lihat video Syaikh Imran Husein tentang riba:

    https://youtu.be/_iyVR-apZJk

  • leave a comment

    Create Account



    Log In Your Account