Politik Panggung Hiburan Kekanak-kanakan

Politik Panggung Hiburan Kekanak-kanakan

Politik Panggung Hiburan Kekanak-kanakan

Oleh : Hizbullah Ivan
_________

SAYA ingin mengajak kita semua utk mundur selangkah menjauhi analis sempit menyoal konflik di halaman KPU yang sebetulnya tak perlu terjadi insiden memalukan semacam itu.

Tapi betul kata Sang Bijak,, bahwa dibalik suatu kejadian, baik sengaja ataupun tidak direncanakan, akan selalu terdapat hikmah-hikmah dan pelajaran. (*Bagi orang yang mau berpikir tentunya).

Kejadian semacam ini bukanlah kali pertama terjadi. Melainkan sudah menjadi konfigurasi sosial politik yg rutin terjadi di setiap momentum pesta demokrasi. Yakni satu masa manakala individu-individu otonom dalam demokrasi mulai menyadari bahwa nilai & kepentingan yang dibawanya akan segera berhadapan dengan perjudian elektoral.

Inilah yang kemudian menyebabkan demokrasi elektoral, justru menjadi ajang baru bagi timbulnya konflik kekerasan dan benturan-benturan fisik antar individu-individu politisi beserta masing2 pendukungnya.

Ini pulalah yang kemudian membuat mekanisme demokrasi yang ada seolah melegitimasi munculnya kekerasan akibat perbedaan yang sulit ditolerir antara individu-individu otonom yang berkepentingan di arena demokrasi tersebut.

Dengan kata lain, desain tempurung demokrasi dimanapun, dalam konteks penyelenggaraan rotasi siklus kekuasaan, telah gagal menjadi jalan tengah untuk menjembatani atau mentransformasikan konflik kepentingan yg dibawa para politisi, kedalam cara-cara yang lebih berperadaban.

Baca juga:  Manipulasi QC, mungkinkah?

Bagaimana tidak..?

Demokrasi hingga hari ini, hanya mampu melahirkan aktor-aktor politik yang tampil seronok mengumbar janji dan dusta. Bagaikan janji sekawanan anak-anak kecil ketika dihadapkan pada ice cream dan gula-gula.

Dalam otaknya, hanya ada pilkada dan pemilu raya. Sehingga peran mereka hanya terlihat dan berfungsi pada moment moment seperti ini saja.

Pada waktu menjelang pemilihan_lah, masyarakat dapat berjabat tengan dengan erat, sekaligus melihat rupa dan proposal pekerjaan seorang calon wakil rakyat.

Dan disaat inilah, kawanan wakil rakyat baru bersedia tergopoh-gopoh mengunjungi pasar-pasar rakyat dan rumah-rumah. Akting bermesraan dengan rakyat di jalanan, lalu bertanya kabar masalah. Bahkan tidak sedikit yang rela ngesot bergantian keluar masuk septictank & got.

Ini fakta sistem politik demokrasi yg berlaku hingga hari ini. Arena panggung Hiburan bagi Politisi Kekanak-kanakan. Yakni Kawanan Para politisi karbitan yang hanya memikirkan citra diri menjelang pemilihan. Mereka rela melakukan apa saja, meskipun dengan jalan gontok-gontokan, bertaruh darah dan kehormatan. Sikut kiri dan kanan, baik di ranah privat maupun dijalanan.

Rupanya Guru Plato & Aristoteles luput menyampaikan pada kita, bahwa sisi lain Demokrasi adalah merupakan jalan rusak yang bisa membuat manusia terjebak dalam konflik & perpecahan antar golongan, jebakan egosentris berbalut chauvinism-nasionalisme, serta racun superioritas kemanusiaan. Akibatnya, akan semakin banyak manusia yang lupa dengan dirinya, sehingga tak lagi mengenali jalan Tuhan.

Baca juga:  Pancingan Sandiaga mengena

Dampaknya, kurang lebih potret semacam inilah yang akan terus lestari terjadi. Ketika manusia menempatkan kepentingannya sejajar dengan “Maksud Tuhan”, sehingga kepentingan selainnya dianggap sebagai rintangan yang wajib diaingkirkan.

Pertanyaannya kemudian adalah,
Jika tidak turun Azab Tuhan, lalu sampai kapan kita sanggup bertahan dalam sistem seperti ini… ???

END

-Hizbullah Ivan-

(Visited 74 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account