DEFISIT AKAL , SURPLUS EMOSI

Gilak, saya membaca tulisan seorang pengamat politik lokal NTB , saya ulang hingga dua kali.

“Obyektifitas nampak-nya menjadi masalah dalam kerangka berpikir-nya”

Setidak-nya ada dua garis besar yang hendak di-kupasnya. Gelar prestisius doktor, salah satu paslon yang tidak ia yakini memiliki program untuk memajukan NTB, hanya copas punya TGB dan itu ia artikan sebagai wujud dari ke-tidak mampuan untuk men-ciptakan program untuk di-tawarkan ke masyarakat NTB,– wow, edyan tenan.

Ia mengatakan, dengan kualitas calon pemimpin semacam itu, “tak mampu membuat program”, yang menurutnya justru merupakan hal prinsip, tentunya akan menyebabkan semakin dalam-nya jurang kemiskinan yang terjadi di NTB. Ketimpangan pembangunan semakin meningkat dan — bla bla bla,– jiaaah,-
“orang itu nulis pakai pemahaman berlandaskan data atau hanya sinis-me level VII,— level ter-pedas pada gerai makan Richeese.

Justru yang terjadi di NTB, sila cek data, – penurunan tingkat kemiskinan terjadi 1 persen per tahun, fakta. Perkembangan pembangunan infra struktur, ngak perlu pake mata telanjang, tutup mata aja udah terasa kok.

Lalu, dimana ia nemu kalimat, “semakin mem-perlebar kemiskinan dan ketimpangan pembangunan”,- fix — pembualan, dan tentunya melecehkan hasil kerja pemerintahan di-bawah komando TGB,–” tuang guru bajang” Zainul Majdi Gubernur NTB 2 periode.

Saya tak ada kepentingan dengan paslon atau pilkada NTB. Sekedar pengantar, mengapa saya tulis ini, tak lain hanya untuk mencoba men-duduk-kan “tertib bernalar” bagi calon pemilih,- sehingga tidak ter-giring opini menyesatakan yang di-tulis oleh — orang yang katanya, -“pengamat politik”, namun, pengamatan-nya tanpa menyertakan data-data akurat. Sila nilai sendiri.

Baca juga:  Tanggapan Yusril Atas Surat Terbuka Adik Ahok

Saya merasa, masyarakat berhak menentukan pilihan-nya, menilai dengan logika benar, tak terpengaruh opini-opini plintiran yang sesat dan menyesatkan.

Melanjutkan ikhtiar TGB, tag line itu coba di-me’ntahakan dengan kesimpulan yang sangat terasa ia paksakan. ” Ooee, — dua doktor itu nga punya otak, nga bisa bikin program sendiri. Kira-kira demikian maksud-nya, asem,- tak jauh berbeda dengan pola berfikir anak kecil saja cara ia mengambil sebuah kesimpulan.

Jika ia pernah membaca buku “Ikhtiar tiada henti”, maka akan ter gambar jelas disana, bahwa permasalahan fundamen pembanguanan yang terjadi di-NTB selama ini adalah “ketidak ada-nya ke-sinambungan program dari era satu pemimpin dengan pemimpin berikut-nya”.

Tongkat estafet berganti, program pun berganti.
Padahal justru hal semacam itu penyebab gagalnya pembagunan secara merata dan menyeluruh.

Lalu kemudian kesimpulan anak kecil tadi di-kembalikan kepada pembaca, memilih “melanjutkan program– berarti tidak bisa membuat program”, demikiaan ia berusaha menggiring pembaca untuk ber-kesimpulan.

Padahal jika kita masuk kepada tataran akademik, tidak untuk membela gelar doktoral,- tetapi logika “tidak tertib” yang di gunakan si pengamat politik di-atas, menjadi aneh saja untuk disajikan pada publik.

Bayangkan saja, jika setiap terjadi pergantian pemimpin maka pemimpin yang baru akan membuat program baru dengan tidak me’ngindahkan program kepemimpinan sebelum-nya, padahal nyata-nyata program sebelumnya berhasil membawa NTB lebih maju, dan program tersebut juga terdiri dari tahapan jangka menengah pun panjang dan masih on progres.

Baca juga:  Aktivis '98: Masinton dan Inas Lebih Baik Mikirin Dirinya Daripada Sibuk Kepoin Prabowo

Demikian itu menurut hemat saya, dari aspek pengangaran saja kita meninjaunya, maka akan kacau balau ,perlu penyesuaaian dan rawan penyalah guna’an, high risk.

Apa lagi jika kemudian pemerintah baru terpilih itu lima tahun berikutnya tak terpilih lagi, lacur.

Saya rasa sebab itu-lah pasangan doktor yang disebut-nya, “menurut saya”, justru pastinya telah melakukan riset secara komprehensip, bahwa melanjutkan apa yang menjadi program jangka menengah dan panjang pemerintahan TGB adalah program terbaik yang akan mereka tawarkan.

Karena masyarakat secara nyata merasakan bahwa “program TGB berhasil memajukan NTB”.

Ke-luhuran Budi pekerti dari kedua doktor tersebut, mau menerima dengan kelapangan hati, menyingsingkan ego dan mengakui kebarhasialan pembangunan pemerintah sebelumnya adalah ” modal” tepat untuk memimpin dan memajukan NTB, tentunya lebih dari sebelumnya. “Blue print” udah ada, ngapain aneh-aneh, riset baru, biaya lagi.

lanjutkan saja program TGB , toh program sebelumnya terbukti berhasil, maka pembangunan lanjutan akan berjalan lebih cepat dan lebih nyata hasilnya, masyarakat-pun lebih mudah untuk ikut mengawasi. So,– “melanjutkan ikhtiar TGB” itu adalah tag line yang keren. Dah gitu aja. Rebo pahing 17 Januari 2018

*ardi-tuan, wahai.
Pengamat pasar, pagi-pagi sekali.

(Visited 172 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account