TERTIB NALAR

Reformasi berhasil di-gulirkan, tentunya harapan menyertai. Ke-terkukungan selama 32 tahun, katanya, membuat kita perlu bersyukur, karena makna besar yang kita peroleh dan rasakan adalah, “kali ini kita bebas berpendapat”, hanya itu. Bull shit.

Bagaimana kita hendak men-syukuri, kita tak ubah lepas dari jerat srigala masuk ke-mulut buaya, bahkan bisa jadi lebih parah.

Korupsi, rasaya lebih mudah menghitung jumlah pasir di pantai dari pada membuat daftar panjang kasus korupsi di Indonesia. Mungkin lebay, — yahh, tetapi setidak-nya begitulah perbandingan yang layak digunakan, sangking banyak-nya. Dari sisi jumlah saja demikian, hingga tak ada lagi batasan.

Belum lagi dari sisi objeck, warbiasa, moral sudah tak ada lagi. Mulai dana haji, pengadaan Alquran, Century hingga mega korupsi eeeh-KTP.

Korupsi layak-nya kangker yang menggerogoti tubuh bangsa ini, begitu sulitnya di-obati. Kita menjadi marah karena ekonomi menjadi lesu.

Kita menjadi murka karena transparansi tak nampak dari proses peradilan setiap kasus korupsi yang terjadi. Kebusukan nyata diper-
tontonkan, saling tutup, saling rangkul, saling sandra.

Baca juga:  Komika Joshua Suherman Akan Dilaporkan Atas Tindak Pelecehan Agama

Keparat !!

Merekalah, koruptor, sumber kekacauan ekonomi di republik ini. Dana publik masuk kantong pribadi. Realisasi kebijakan yang sedikit berpihak pada rakyat menjadi macet.

Lapangan kerja potensial jadi hilang, perbaikan dan perkembangan pembangunan infra struktur tinggal mimpi, apalagi kesehatan publik, pesi-pesi, hanya lip servis, projeck lagi, kepentingan kantong penguasa dan pemangku kebijakan.

Mimpi mulia gerakan reformasi tergantung di awang-awang. Produck kebijakan tak ber-landaskan keadilan. Orietasi kebijakan, mutlak hanya pada bagaimana bisa menjaring investasi, bangsa kita kehilangan “dignity”.

Sebagai contoh, Aqua, air mineral, 90 persen sahamnya dimiliki Danone, prancis. Sabun mandi, sahmpo, hingga pasta gigi, produksi perusaha’an asing yang ketentuan saham-nya hingga 70 persen lebih menjadi milik asing dan tentu saja kapital berputar di luar negeri kita.

Sampoerna, Indonesia banget bunyi brend rokok itu, faktanya ,100 persen milik Amerika, “Philiph Moris”. Pembalut wanita hingga pempers bayi, produk prusaha’an KAO, pabrik asing lagi, dan masih banyak jika kita rinci, tak habis kita mengurut dada.

Baca juga:  Warga Morowali Buktikan TKA China PT. IMIP Banyak Pekerja Kasar

Lalu kita hanya jadi pasar potensial bagi perusahaan asing , kian lama semakin tercekik, karena pemerintah hanya mengambil pendapatan dari nilai pajak produck-produck tersebut, tanpa mengupayakan pembatasan exspansi pasar perusahaan asing.

Di otak, hanya bagaimana investasi masuk ke indonesia. Hal demikian itu tentunya akan ber-korelasi pada harga jual, untuk mengejar nilai ketentuan pajak, lalu, hasil pajak di-korupsi pisan, lacur.

Saya tidak hendak mengatakan kita harus anti dengan globalisasi, tetapi dignity haruslah di bagun sejalan dengan itu. Kita harus mulai berfikir masuk kepada dasar sebuah permasalahan,– dignity terbangun, tentunya mental korup akan sirna.

*ardi-tuan, wahai.

(Fransiskus widodo. IP-Center.)

(Visited 113 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account