Gita Durma, sebuah puisi karya WS Rendra

Gita Durma, sebuah puisi karya WS Rendra

Gita Durma, sebuah puisi karya WS Rendra

Sebuah puisi karya : WS Rendra – Depok, Oktober 1981

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?Angin menderu lewat terali besi tingkap penjaramu
Kau terbaring di atas lembaran-lembaran koran
Dan rakyat di kampung yang kau belabersembahyang tasbih melewatkan malam

Deru-deru hujan tiba badai dan prahara tiba
Semangat hidupmu adalah kali yang purba.
Selalu hadir dan mengalir
Menghanyutkan gunung sampah ke samodra
Dan samodra sebagai pangkuan ibunda selalu membasuh dosa-dosa manusia

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika tengah malam kau dibangunkan dan dikawal ke kamar interogasi
Wajahmu pucat tetapi matamu menyala dan ibu-ibu di kampung yang kau bela memasak rendang dan ketupat untuk dikirim kepadamu

Fajar akan muncul menembus kabut yang menyelimuti pulau-pulau
Matahari adalah kenyataan yang tak bisa dikhianati
Engkau adalah putera matahari kerna engkau melindungi kehidupan Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika di tengah panas terik siang hari kau hadapi pengadilan yang sumpeg dan jaksa menuntutmu dengan undang-undang orang kulit putih yang dipakai untuk menindas orang pribumi

Guntur membelah udara untuk menciptakan keseimbangan angkasa kesabaran menyala menjadi semangat perjuangan untuk membela keseimbangan kehidupan

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika engkau dan para tahanan berderet di muka barak penjara untuk appel sore hari sebelum tiga lapis pintu besi digrendel untuk mengurungmu
Dan para abang becak akan bercerita kepada puteramu bagaimana kau telah berdiri dan merumuskan keadaan.

Ya, mata bayonet memang berkilat
Raung sirene memang menerpa batin Dan para oportunis menuduhmu teatral dan sok pahlawan
Ya, barangkali kau pun juga terkencing di celana
Tetapi kau menolak untuk meletakkan hati nurani di atas sampah
Kau menolak untuk menukar hukum dengan kekuasaan
Dan aku, si penyair, memihak kepadamu.Penyair bukan hakim
Penyair adalah orang yang memberikan kesaksian.

Menguraikan simpul-simpul kelesuan dan kebisuan akan terdengar alu-alu dipukulkan ke lesung penumbuk padi,menjadi genderang bertalu untukmu.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Di saat engkau bertapa memasuki kesepian penjara?
Dari pulau ke pulau dari ufuk ke ufuk dari puncak-puncak gunung berap iarwah leluhur telah bangkit menanggapi tapamu
Di tengah-tengah masa beratmu, ketika kau memukuli tembok sel dengan buku-buku tanganmu, kenangkanlah, saudaraku, bahwa genderang langit telah dibunyikan menyambut keprihatinan sang putera matahari

***

 

(Visited 85 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account