Negeri Yang Diberkahi

Negeri Yang Diberkahi

Saya berjalan lambat saja, arah menuju masjid, tidak jauh dari tempat saya tinggal. Suara corong masjid mengalunkan puji-pujian, teduh terasa.

Di antara panas menyengat terdengar mengalun meghujam qolbu pujian bagi Allah pemilik semesta Alam. Panas yang beberapa hari ini enggan muncul, tertutup mendung, muncul begitu menyengat seolah menguji kesungguhan.

Namun ada syahdu dalam alunan pujian itu, seolah menghantarkan kesejukan dari dalam, iman, semoga saja.

Masjid komplek perumahan kami belum sepenuhnya rampung, sebagian lantai masih peluran, belum usai pengerjaan pemasangan ubin keramik. Jemaah penuh sesak. Saya berusaha meringsek ke dalam, Alhamdulilah seolah tak muat menampung jemaah, namun kenyataannya selalu tersisa tempat bagi siapapun untuk bersujud menghadap illahi Raabi.

“Pada dasarnya, proses pembentukan iman itu diawali dengan proses mengenal Ajaran Allah, sebelum menuju kepada kecintaan kepada Allah. Bagaimana mungkin manusia akan bisa mencinta Allah jika ia tak mengenal ajaran Allah, bagaimana bisa terisi kedamaian dalam hati dan jiwanya jika ia tidak berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui pemahaman akan ajaran mulia yang dibawa Rasululah SAW.

Demikian awal khotbah jumat Ustad Rohman, menyampaikan khotbah-nya dengan suara datar dan saya pun larut dalam hening.

Baca juga:  Pesan Keprihatinan Seorang Guru di Pondok Gede: Waspada! Ancaman LGBT Begitu Dekat

Iman, sesuatu yang jamak kita ucap meluncur dari lidah, mengalir begitu fasih, saya membatin pada diri saya sendiri. Acap kali kita berlagak menampilkan diri menjadi sorang muslim, tapi abai dengan laku Islami.

“Jika saja laku islami itu didasari dengan keimanan yang benar, menghamba hanya kepada Allah, Insya Allah nafsu manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi ini akan berkurang”.

Saya teringingat kembali khotbah ustad Rohman, — berujar demikian.

Indonesia Negara yang diberkahi. Negeri tempat dimana anak-anak kecil dengan fasih mendendangkan sholawat sambil berjalan memeluk Quran menuju langgar untuk mengaji.

Negeri dimana ribuan masjid mengalunkan puji-piju kepada Allah pemilik semesta Alam tanpa henti. Negeri dimana tidak sulit engkau temui gemericik suara air orang berwudhu disaat dingin begitu menusuk tulang.

Lalu mengapa kini berita duka berseliweran seolah yang terjadi menampakkan bahwa Negeri ini sudah tidak punya hati lagi. Seorang ustad dihabisi, dianiaya hingga tewas saat subuh buta, sulit untuk tidak mereka dan menduga-duga.

Selama ini saya menyaksikan insan sakit jiwa, hanya sebatas tertawa-tawa, berteriak, menangis. Tetapi berbeda kini, mereka sudah mampu keluyuran membawa pipa dan menghabisi ulama di saat subuh buta , ada apa dengan negeri yang diberkahi ini.

Baca juga:  Membuat RAMP yang Ideal untuk Parkir Basement Gedung atau Rumah

Saya juga tidak habis pikir, mengapa Negara juga begitu tega menahan seorang ustad tua renta yang sudah tak berdaya dengan tuduhan begitu kejam, “terorisme”. Padahal hingga kini tuduhan terhadap sang ustad sesungguhnya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Lalu sebenarnya ada apa dengan negeri yang diberkahi ini.

Iman, kita kehilangan iman.
Negeri ini kehilangan Imam dan Iman, ujar ustad Rohman.

*ardi-tuan, wahai.

(Visited 108 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account