Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Felix Siauw
Kita harus berhati-hati dengan narasi, sebab ia adalah sebab dari kejadian, asal mula dari perubahan. Ada perubahan baik, dan tentu saja ada perubahan yang buruk
Para penjajah misalnya, membangun narasi bahwa mereka adalah penolong, mengenalkan modernitas, ras lebih unggul, untuk menutupi perampokan dan penjarahan
Narasi ini yang dipakai Amerika untuk membantai Indian, Belanda untuk kuasai Nusantara, sampai Israel yang membunuhi Muslim di Baitul Maqdis
Contoh lain, kaum anti agama, baik dari komunis atau liberalis sedari dulu membangun narasi, bahwa masalah utama bangsa adalah radikalisme agama
Narasi ini pernah terjadi di tahun 1955 - 1960 yang berujung pada pembubaran Masyumi dan teror bagi mereka yang mendukung perjuangan Islam di masanya
Saat ini, narasi radikalisme ini kembali digiatkan, kemana narasi ini ditujukan, semua sudah paham. Yaitu indonesia tanpa aturan agama, Indonesia yang sekular
Lihat saja yang sedang ramai, dosen IPB yang ditangkap dengan tuduhan merencana kerusuhan, dan itu seperti “mengamini” penelitian yang selama ini digencarkan
Bahwa radikalisme itu ada di kampus, bahwa ini masalah yang sangat besar. Tertutuplah bencana di depan mata di negeri ini, tentang kedaulatan, ekonomi, korupsi, hilang
Siapa yang disalahkan setelah itu? Rohis, masjid, dan tiap-tiap kegiatan “Islami” yang ada di kampus. Biangnya? Siapa lagi kalau bukan HTI dan Ikhwanul Muslimin. Klise
Di negeri ini, tak ada dosa selain radikalisme. Tak ada pendosa kecuali HTI, Ikhwanul Muslimin, FPI, dan siapapun yang Islami akan dituduh sama
Sedangkan, pembunuhan bisa hilang kasusnya, pelanggaran HAM berat bisa dicitrakan baik, pembantaian bisa direka dan diedit dengan angle yang pas dan kamera yang bagus
Dulu, saat narasi ini digencarkan, HAMKA dijuluki penghianat negara, Natsir dikata pembangkang negara. Sementara yang benar-benar menghancurkan bangsa, lewat begitu saja
Yang bakar hutan, yang korupsi ratusan milyar dan trilyun, yang jual beli jabatan, yang izinkan tanah negeri jadi tempat buang sampah negeri lain, yang jual kekayaan negeri pada asing, yang sibuk memperkaya diri, disilakan
Asal jangan taat Allah, sebab itu radikal
📷 by @sigpras