Ketahanan Pangan, Pelajaran Berharga dari Kampung Adat Cireundeu

Siapa menyangka, dari sebuah Desa Kecil di Leuwigajah Kampung Adat Cireundeu kita akan mendapat pelajaran berharga tentang ketahanan pangan yang dirintis hampir seratus tahun lalu oleh sesepuh dan tetua Kampung Adat. Kampung Cireundeu merupakan desa adat yang terletak di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu, namun secara administratif Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Disini nilai-nilai leluhur dipertahankan oleh penduduk bertahun-tahun. Kampung Adat Cireundeu sendiri oleh Pemerintah Cimahi ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan Objek Daya Tarik Wisata (ODTW)

Salah satu yang terkenal dari Kampung Adat Cireundeu ini adalah RASI (Baca: RASI: Beras Singkong, Kearifan Lokal dari Kampung Adat Cireundeu). Disaat yang lain sibuk dengan terus menerus meningkatnya harga beras, belum lagi kelangkaan yang menyebabkan pemerintah harus melakukan import beras, penduduk Kampung Adat Cireundeu punya solusi sendiri melepas ketergantungan. Selain menjadi penghasil Rasi untuk dimakan sehari-hari, hasil olahan bisa dijual dan menjadi penghasilan tersendiri.

 

RASI, Kanji, Opak dan Dendeng Singkong

Pada kesempatan ke Kampung Adat Cireundeu kami berkesempatan melihat pengolahan RASI ini. Ditemani Kang Andri, kami sempat melihat lokasi dimana singkong ini diolah. Dilokasi ini kami melihat pengolahan dan menggali informasi lebih dalam soal ini.

Dari ketiga ibu-ibu yang sibuk mengolah singkong kita mendapat informasi. Bahwa Rasi adalah “ampas” hasil olahan singkong. Ampas ini yang dijadikan makanan utama masyarakat Kampung Cireundeu. Dengan sifatnya sebagai sisa bahan olahan, maka Rasi ini rendah Karbohidrat.

Baca juga:  Blunder 200 Daftar Mubaligh Berbuntut Panjang, Pengacara ini Cecar Menteri Lukman Hakim Landasan Hukum yang Digunakan Kemenag

Hasil olahan utama adalah kanji dan opak. Kanji Cireundeu merupakan kanji terbaik di Cimahi. Harganyapun relatif lebih mahal dari harga kanji yang lain, karena selain diolah secara manual, singkong disinipun merupakan salah satu kualitas terbaik. Karena itu biasa diincar oleh beberapa

Hasil olahan lain dari Singkong ini adalah Opak. Dan terakhir, hasil olahan yang berupa ampas itu yang menjadi pengganti Nasi.

Kulit singkong yang bagus masih bermanfaat untuk dijadikan makanan yang dikenal dengan “Dendeng Singkong”. Sementar kulit singkong yang burukpun masih bisa dimanfaatkan sebagai makanan kambing.

 

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ekonomi

Berapa nominal yang dikeluarkan setiap keluarga dalam mengkonsumsi beras dalam sebulan? Jika saja 1 keluarga membutuhkan 1 liter beras seharga 8000 Rupiah, artinya sebulan harus mengeluarkan 240 ribu perbulan untuk beras.

Sementara di Kampung Adat Cireundeu, 1,5 Kwintal singkong menghasilkan RASI 20 Kg yang bisa dimakan selama sebulan. Dari olahan menjadi Kanji dari 1,5 kwintal tersebut mereka bisa mendapatkan 15 Kg Kanji yang dijual 8000 perkilogram atau sekitar 120 ribu. Sementara dari hasil olahan menjadi Opak mereka perkirakan menjadi 50 ribu hingga 75 ribu per 1,5 kwintal singkong tersebut. Dari kulit yang dijadikan dendeng mereka bisa menjual seharga 150 ribu perkilogram dendeng matang.

Baca juga:  Twit Guntur Romli yang Nyinyir Terhadap UAS dan Masyarakat Aceh ini Dibuat SKAKMAT oleh Netizen!

Menganggumkan bukan? Kampung Cireundeu bukan hanya berhasil menciptakan ketahanan pangan dengan kebiasaan yang diturunkan tetua-tetua adat mereka, tetapi juga berhasil menciptakan ketahanan ekonomi bagi masyarakatnya.

 

Ibu Omah dan Nilai-nilai Luhur yang Dipertahankan

Adalah Ibu Omah Asnamah, Putra Bapak Haji Ali yang kemudian di ikuti oleh saudara-saudaranya di kampung Cireundeu. Ibu Omah Asnamah mulai mengembangkan makanan pokok non beras ini. Berkat kepeloporannya tersebut Pemerintahan melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “Pahlawan Pangan”, tepat nya pada tahun 1964.

Selanjutnya para orangtua di Kampung Cireundeu menularkan nilai-nilai dan cita-cita luhur yang dirintis oleh Ibu Omah Asnamah. “Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat”. Inilah pedoman hidup yang mereka anut.

Ibu Omah sebagai perintis ketahanan pangan dari Kampung Cireunde memang sudah meninggal duni, tapi nilai-nilai luhur yang diajarkannya akan selalu ada dan diteruskan generas-generasi muda Kampung Cireundeu.

 

Cireundeu, 10 Desember 2017

 

(Visited 275 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account