Prabowo, Nasionalisme dan Bayar Utang

Prabowo, Nasionalisme dan Bayar Utang


Cuitan : Lukas Majapahit

Berbicara tentang utang sudah lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada manusia di dunia ini yang luput dari utang. Semua pasti pernah berutang, walau secangkir kopi atau segelas teh di warung. Jika tidak bayar saat itu, dan baru bayar bbrp hari kemudian itu namanya utang. Utang juga sudah menjadi bagian transaksi kegiatan ekonomi sehari-hari masyarakat apalagi di negara berkembang seperti Indonesia ini.

Tidak hanya kami2 orang kecil ini yg memiliki utang, orang besar, orang yg dikatakan kaya raya, bahkan negara yang ekonominya nomor 1 dunia sekalipun ataupun negara super power Amerika Serikat, juga punya utang. Jadi kalau bicara utang, sudah lumrah dalam kehidupan manusia. Yang jadi persoalan adalah tanggung jawab bayar atau melunasi utang.

Tidak semua orang sadar untuk melunasi utang bahkan kalau ditagih banyak berkelitnya. Menagih kepada orang gede, orang kaya, perusahaan besar, banyak kelitnya dengan berbagai argument. Bahkan seringkali kalau di kampung-kampung kalau ada yang datang nagih utang, justru yang berutang lebih galak dari pada yang mengutangkan.

Juga di kampung-kampung jika ada yang meninggal, keluarga dan kerabat yang meninggal pada saat acara pemakaman selalu mengumumkan bahwa “Bagi saudara/i yang kebetulan memiliki utang-piutang dengan almarhum/humah agar dapat menghubungi saudara … Untuk menyelesaikannya”. Itu sering saya dengar di kampung-kampung.

Tapi saya belum pernah lihat atau dengar jika orang besar, orang kaya, meninggal ada pengumuman semacam di atas tadi. — ini karena saya belum mengikuti penguburan orang kaya, orang besar— jadi memang saya gak tau.

Ajaran agama pun mengajarkan agar melunasi utang, karena kalau utang tidak dilunasi baik selagi hidup ataupun sudah meninggal, yang tanggung jawabnya oleh keluarga, akan menjadi masalah untuk kehidupan di akhirat. Berarti itu dosa. **Maaf tolong jangan ditafsirkan yang macam-macam, karena ilmu agama saya tidak sampai sebesar biji sesawi**.

Soal Prabowo Subianto, Nasionalisme dan Bayar Utang. Sebagai manusia dan bisnisman pak Prabowo tidak bisa mengelakkan itu. Tapi pertanggungang-jawabnya bagaimana ? Itu pertanyaan yang penting. Bukannya mencecar Prabowo dengan kata-kata “kok punya utang ? Kok mau nyapres ?. Janganlah siapapun melabeli stigma demikian kepada Prabowo. Ntar anda akan meninggal dengan penasaran sebelum membaca dan mengamini mengapa Prabowo berutang.

Saya mengutip catatan singkat nan padat dari seorang wartawan senior Ibu Nanik S. Deyang. Dalam catatan singkat buku saku yang diberi judul “Prabowo Pembayar Utang Bank Terbaik di Indonesia Bahkan di Dunia” yang diterbitkan pada tahun 2014, diceritakan mengapa pak Prabowo utang ke bank BUMN dalam hal ini Bank Mandiri, dan proses pelunasannya.

Intinya menurut catatan Ibu Nanik, pak Prabowo dengan menggandeng seorang rekan bisnis (tidak perlu saya sebutkan, karena fokus saya adalah Prabowo) mau mengajukan utang ke Bank Mandiri sebagai rasa nasionalismenya untuk men-take offer (ambil alih) perusahaan PT. Kiani Kertas yang saat itu menjadi ‘pasien’ BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).

Karena hitung-hitunganan secara bisnis memiliki PT. Kiani Kertas tidak menguntungkan secara ekonomi, atau dengan kata lain cost nya besar. Tetapi karena perusahaan tersebut terletak di posisi yang strategis di sebuah pulau di daerah kabupaten Berau Kalimantan Timur, jadilah menggugah rasa nasionalisme pak Prabowo sehingga mau berutang untuk menyelamatkan PT. Kiani.

Karena menurut daftar yang antri yang akan men-take offer PT. Kiani Kertas salah satunya adalah JP Morgan, sebuah perusahaan internasional dari Amerika Serikat. **Sekali lagi saya tidak mendetailkan mengapa begitu tinggi nasionalisme Prabowo sehingga tidak mengijinkan JP Morgan memiliki PT. Kiani**, terlalu panjang diceritakan.

Yang pasti Prabowo, melunasi utang untuk menyelamatkan Kiani secara “Luar Biasa” Kenapa luar biasa ? Siapapun baik perorangan maupun perusahaan berusaha sedemikian rupa agar utangnya memperoleh keringanan pelunasan mulai dari hanya bayar pokoknya saja, meminta tambahan waktu (istilah perbankan hair cut) dengan berbagai alasan. Tapi pak Prabowo tidak seperti itu.

Dari catatan ibu Nanik itu; Prabowo memanggil Direktur utama Bank Mandiri saat itu bapak ECW Neloe dan menanyakan utangnya. Dari pinjaman awal 1,8 T, membengkak karena bunga menjadi 2,2 T. Angka sebesar itu saat itu juga dibayarkan oleh Prabowo. Pak Neloe jadinya terkesima, kok ada debitur yang begitu ikhlas mau membayar utang sebesar itu (2,2 T) sekaligus.

Pak Neloe bilang ke Ibu Nanik (Biasa akrab dipanggil Deyang). “Deyang, saya mau bilang dia (maksudnya Pranowo) pembayar hutang terbaik di Indonesia, mungkin malah dunia” Jadi yang menilai itu Dirut bank besar —Mandiri—

Waktu terus berjalan, naluri seorang wartawan dalam diri Ibu Nanik S. Deyang terus mengusik. “Kok Prabowo, mau bayar hutang sebegitu besar secara spontan tanpa minta keringanan-keringan, padahal hampir semua debitur berbondong-bondong baik secara terang-terangan maupun lewat belakang untuk diberikan keringanan”.

Prabowo tidak melakukan itu. Maka dapatlah Bu Nanik jawaban langsung dari Prabowo. “Saya tidak mau membebani negara dengan saya mendapat ‘hair cut’. Itulah jawaban spontan Prabowo.

Tapi sayang media dalam negeri, kurang berminat memberitakan itu kepada publik, sehingga hal-hal baik seperti itu tidak banyak diketahui publik.

Tapi okelah, biarkanlah waktu yang akan membuktikan. Yang pasti sebagai rasa nasionalismenya yang tinggi pak Prabowo sudah melakukan apa yang menurut beliau baik buat bangsa dan negaranya.

Hidup Pak Prabowo, menuju Istana Merdeka pada tahun 2019. Merdeka***

**Maaf, Ini hanya pengetahuan saya yang sangat minim, abaikan aja jika ada salah tutur kata**.

(Visited 413 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account