Kontrol Sosial Media dan Respon Berlebihan Penguasa

Kontrol Sosial Media dan Respon Berlebihan Penguasa

Gambar: padamu.net

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demikian baris kata-kata indah tentang Demokrasi pada Wikipedia.

Terjemahan Demokrasi ini bahkan menjadi salah satu acuan dalam menjalankan Pemerintahan. Peran Serta Masyarakat menjadi slogan-slogan indah dalam Undang-undang, Rencana Pemerintahan dan peraturan-peraturan penting lainnya.

Sampai pada pelaksanaannyapun, ada Musrembang dan dengar pendapat dengan Masyarakat baik tentang kebijakan maupun penyusunan rencana program pembangunan. Peran Serta Masyarakat seakan jadi alunan indah Demokrasi sebagai penghargaan terhadap pemilik kedaulatan untuk ikut menentukan kehidupannya sendiri.

Demokrasi juga membuka seluas-luasnya bentuk kontrol masyarakat terhadap pemerintah yang telah menerima mandatnya. Bentuknya tentu bermacam-macam, termasuk salah satunya adalah Sosial Media. Peran Sosial Media tentunya seiring dengan program pemerintah yang berniat transformasi digital seperti yang digembar-gemborkan.

Baca juga:  Negeri tanpa pajak, hanya Islam yang bisa

Sebagai keresahan masyarakat terhadap berbagai masalah yang berkembang, setiap kontrol tentu harus dijawab sebagai bentuk tanggung jawab penguasa atas setiap permasalahan. Tidak masalah apakah kontrol itu benar atau tidak! Hoax maupun Fakta. Karena jika itu tidak benar apalagi hoax, tentu penjelasannya akan lebih mudah bagi pemerintah karena memiliki fakta yang lebih valid. Jika kontrol itu benar, tentu juga menjadi sebuah perbaikan bagi pemerintahan kedepan.

Sayangnya pemerintah acap kali memilih jalan “menakutkan”, respon yang berlebihan dan ancaman penahanan. Sementara penjelasan yang ditunggupun tidak pernah kunjung memuaskan. Tentu bukan begini terjemahan Demokrasi yang kita bayangkan.

Akhirnya rakyat hanya mengelus dada, tercengang, bahkan ada saat rakyat juga berlinang air mata sambil menyesali jalan yang dipilih saat geruduk gedung Dewan meminta perubahan (reformasi).

Baca juga:  Al Gazali dan Dendam Anak-anak Revolusi

Respon berlebihan penguasa menyebabkan rakyat merasa tidak lebih baik dari era yang digaung-gaungkan sebagai era Diktator. Karena jika dulu kita dibatasi menggunakan semua fasilitas untuk bersuara, saat ini kita seakan diberi semua fasilitas bersuara sambil diancam dengan berbagai undang-undang jika melakukan sedikit saja kesalahan.

Jika dulu dianggap kita tidak bisa “keluar rumah” karena semua pintu “digembok” kuat dari luar, saat ini pintu-pintu terbuka, tetapi yang melewati palang maka siap-siaplah menerima hukuman. Ironis!

 

DU 25 April 2019

(Visited 85 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account