Your turn, bro….

Your turn, bro….

saya kesulitan mencari penulis aslinya

tulisan berikut beredar di group komunikasi

==================

“Your turn bro,” kata Sandiaga usai menyampaikan closing statementnya. Terlihat Prabowo menoleh kepadanya. Tawa hadirin acara debat terakhir Capres-Cawapres di Hotel Sultan pun pecah.

https://twitter.com/wijaya_ento/status/1117284153530052610

Saya yang menonton lewat layar televisi juga terkekeh2. Masa Cawapres memanggil Capres nya “Bro”? Di acara formal kenegaraan semacam debat kandidat yg ditonton jutaan massa dalam dan luar negeri lagi!

Kalo bahasa anak 70-an, dasar slebor! 😂😂😂 Kalo bahasa anak sekarang, Sandi, spontanitas Lo tuh bikin petjaaaah!!! 😂

Gaya sapaan Sandi ke Prabowo, dan melihat gesture keduanya yang terkesan kocak pasca sapaan itu, makin mengukuhkan kesan saya dan banyak orang selama ini tentang pola relasi dua orang calon pemimpin bangsa itu.

Beberapa menyebut hubungan keduanya seperti bapak dan anak. Ada juga yang menilai keduanya seperti kakak adik. Apapun, semua pasti sepakat bahwa hubungan keduanya sangat hangat, penuh keakraban. Tidak kaku dan formal.

Dalam sebuah kesempatan, Prabowo mengatakan, mana ada di dunia, Wapres yang mau memijat pundak presidennya. Anda lihat foto2 ini, di bagian dunia mana Cawapres membetulkan peci Capresnya atau Capres dan Cawapres saling TOS? 😅

Bagian paling dramatis adalah saat debat berakhir, Sandiaga dan Prabowo saling merapatkan badan dan berpelukan erat! Yang tampil di panggung televisi kemudian adalah bukan impresi bhw keduanya adalah pasangan Capres-Cawapres, tapi dua sosok pribadi yang disatukan oleh tali kasih sayang.

https://twitter.com/AkunTofa/status/1117297319966199808

Citra simboliknya kuat sekali! Penonton melihat dua pribadi yang disatukan oleh perjuangan berat kampanye selama berbulan2. Entah apa yg dibisikkan keduanya, tapi saya yakin, keduanya saling puji, saling mengucapkan selamat dan saling melantunkan doa satu sama lain….

Baca juga:  Robohnya boneka kami

Momen itu mengharukan, dramatik dan membuat terkesima semua yg melihatnya, termasuk pasangan lawannya ! Saya ingat betul kontras saat kamera menyorot pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Ada kebekuan di pasangan itu selama beberapa detik. Kyai Ma’ruf dan Jokowi terlihat menatap momen pelukan Prabowo-Sandi itu. Selang beberapa detik, Jokowi lantas menyentuh lengan Kyai Ma’ruf.

Keduanya pun mendekat. Jokowi tidak memeluk Kyai Ma’ruf melainkan mengajak pasangannya itu mengadu pipi. Tetap ada jarak antara keduanya dan momen itupun terkesan formal dan dingin saja.

Entah apa yang menyebabkan Jokowi tidak ikut memeluk Kyai Ma’ruf. Mungkin ada perasaan segan karena pasangannya itu seorang Kyai. Atau ada kecanggungan politik antara keduanya. Kyai Ma’ruf seorg Kyai dan usianya jauh lebih tua, tapi Jokowi tetap kandidat presiden nya.

Namun saya meyakini bhw sedari awal Jokowi memang tidak memiliki chemistry dengan Kyai Ma’ruf. Itulah yg menyebabkan dia bersikap cenderung formal dan dingin pada pasangannya itu. Keduanya hanya disatukan oleh kepentingan politik untuk MENANG di pertarungan Pilpres tanpa ada ikatan perasaan. Hambar.

Hasilnya, kita melihat keduanya tanpa sadar di depan publik terkesan saling “menyakiti”. Saat ingin naik panggung kampanye di GBK sesaat sebelum debat, dalam sebuah video terlihat Jokowi menyetop Kyai Ma’ruf dan dia naik panggung sendiri.

Di sisi lain, untuk menjelaskan betapa penting dirinya dan guna menjawab keraguan orang akan usia dan kesehatannya, Kyai Ma’ruf pernah mengatakan bhw soal mati itu urusan Tuhan. Dan seandainya Jokowi mati lebih dulu, maka dialah yang akan menjadi presiden.

Dalam sistem presidensial murni seperti di Amerika, presiden memang memegang kendali atas segalanya. Peran Wapres tidak terlalu besar dan signifikan, kecuali dalam kondisi presiden tdk bisa menjalankan tugasnya.

Baca juga:  Kurs dolar, gorengan dan kodok rebus

Hal berbeda terjadi dalam sistem presidensial di Indonesia. Pasca reformasi, posisi Wapres sangat penting karena dia dianggap bisa membawa gerbong pengikut. Karenanya, hubungan Presiden dan Wapres bisa seperti api dalam sekam.

Gus Dur tdk bisa menyepelekan Megawati sebagaimana Megawati saat menjadi presiden, tdk bisa menyepelekan Hamzah Haz. Demikian pula SBY dan Jokowi, mereka tidak bisa mengabaikan seorang Jusuf Kalla.

Sejarah kepemimpinan politik di Indonesia selalu membuka kemungkinan bahwa presiden dan wapres saling intip pengaruh dan karenanya menimbulkan rasa “tidak suka” satu sama lain. Di era SBY-JK, bahkan mencuat istilah “Matahari Kembar”.

Saya memprediksi, jika Jokowi-Ma’ruf terpilih, kondisi politik Indonesia akan sama. Sesaat setelah terpilih, dua gerbong akan saling beradu kepentingan. Jokowi dgn gerbong PDIP dan partai nasionalis seperti Golkar, Kyai Ma’ruf dgn NU dan partai2 seperti PKB dan PPP.

Sebaliknya, saya boleh optimis, pasangan Prabowo dan Sandi akan membuka sejarah baru pemerintahan presidensial di Indonesia. Keduanya akan saling isi, saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain tanpa ada intrik2 kekuasaan antara keduanya.

Itu karena mereka terlihat sangat kompak dan saling menyayangi satu sama lain. Rasa itu muncul karena mereka disatukan oleh satu kepentingan dan ambisi: memperjuangkan nasib rakyat dan bangsa!

Para ulama bisa melihat itu. Rakyat pun melihat itu di Hotel Sultan dan berbagai momen yg terekam kamera dan medsos.

Saya melihat itu juga. Karenanya dengan penuh keyakinan saya berkata, “It’s your turn bro Prabowo and bro Sandi!

Selamat memilih pemimpin terbaik, Indonesia!

(Visited 74 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account