Rusuh dan bimbangkah Tuan melihat Abdul Somad hilir mudik menghimpun massa?

Rusuh dan bimbangkah Tuan melihat Abdul Somad hilir mudik menghimpun massa?


dari berbagai sumber

Kesini sebentar, Tuan

Sebagaimana sudah Tuan maklumi juga, Ustadz Abdul Somad jadwal ceramahnya berpindah tempat dengan cepat, dari satu negeri ke daerah lain. Bahkan dalam sehari, sudah ghalib lintas propinsi, lintas negara juga ada. Tapi tetap saja yang menunggu kehadiran Ustadz tidak terhitung-hitung massa. Kalau Tuan tak percaya, datang dan cobalah berbilang angka. Berapa konon jamaah yang hadir?

Lain lagi di alam maya, video Ustadz Abdul Somad menghiasi halaman medsos semacam Facebook, Youtube, Instagram, lain sebagainya juga ada. Tuan khan juga pakai itu. Tak terhitung-hitung, Tuan. Semua-mua Abdul Somad. Sharing-sharing cuplikan videonya juga bersiliweran dari satu grup chat ke grup lain. Memang begitu nyatanya Tuan.

Rusuh dan bimbangkah Tuan melihat Abdul Somad hilir mudik menghimpun massa? Tak usah takut Tuan. Ustadz Abdul Somad tidak kemana-mana. Dia sudah menetap, berdiam dan tinggal di hati ummat. Ummat begitu mencintai Ustadz mereka. Yang sudah tinggal di hati jamaah, sudah terlalu susah untuk tanggal, lepas begitu saja. Pake linggis-pun Tuan ungkit dan Tuan sorongkan upaya untuk mencerabut Abdul Shomad dari hati ummat, percuma! Apatah lagi peniti patah yang Tuan tusukkan. Tapi namanya juga usaha. Jadilah, Tuan.

Tuan pakai gaya yang mana untuk mencegah Ustadz Abdul Somad berkibar di nusantara ini? Tempuhlah!

Hadir beliau ke Bali, Tuan hambat, Tuan cari ke tempat Ustadz menginap. Hinaan, persekusi serta ancaman Tuan lontarkan. Tidak ingatkah Tuan bahwa Abdul Somad bukan sebatang kara di Nusantara ini. Tak Tuan lihatkah hatta ribuan jamaah di Bali menunggu kedatangan beliau. Tak usah Tuan heran, karena memang begitulah ummat merindukan kehadiran beliau.

Tuan-tuan suruh Ustadz menyanyikan Indonesia Raya, hormat bahkan cium bendera sebagai timbang tanda beliau cinta NKRI dan berbhineka. Halah, Tuan. Cium bendera sudah tidak level beliau lagi, anak Tuan yang baru masuk TK juga bisa cium bendera. Ustadz Abdul Somad sudah berpeluh-peluh masuk ke pedalaman, berjam-jam diatas arus sungai yang menderas.

Menggigil beliau bersama rombongan ditengah guyuran hujan. Jauh ke dalam rimba belantara Riau menemui anak bangsa yang masih hijau, mengajarkan menggerek bendera, menyanyikan lagu kebangsaan. Bukan sekali waktu seperti model-model pencitraan sahaja, Tuan, tapi nanti akan berulang lagi insya Allah. Bagi Tuan ini bukan cinta pada Indonesia?

Beliau penuhi undangan taushiyah ke negeri Hongkong. Menemui saudara sebangsa setanah air jugalah itu pastinya. Adakah Tuan yang melapor-laporkan bahwa Abdul Somad tak boleh berceramah di Hongkong sebab karena Ustadz terorist, radikal dan ekstrim? Beliau itu eskrim, Tuan.

Tapi tak apa Tuan. Paling tidak live streaming with skype menjadi solusinya. Bolehlah Tuan tersenyum sungging sedikit dengan peristiwa ini. Karena kami tersenyum senang tak alang kepalang ketika melihat beliau disambut oleh jamaah di Aceh. Kabarnya satu koma dua juta orang, Tuan.

Tuan ada pula menulis-nulis artikel, bahan bacaan untuk mengkritisi kajian guru kami Ustadz Abdul Somad? Tuan sanggah kaji Ustadz Abdul Somad dengan berbagai paparan, qaul dan dalil. Ini istiwa, apa itu itsbat, abdul shomad mentakwil, manhaj rusak, aqidah penuh syubhat dan lain sebagainya. Tuan! Apa yang Tuan tuliskan itu sudahpun diurai oleh alim ulama berabad silam.

Tuan hanya memutar ulang kaset lama. Tak ada yang baru dari yang tuan goreskan. Copy paste, edit-edit sikit, khan begitu caranya yang Tuan tempuh. Tuan ibarat memanjat pokok kelapa rebah. Tak usah diulangi lagi, Tuan. Bersorak orang sekeliling kampung melihat tingkah Tuan. Apalagi sampai melorot celana Tuan memanjat pokok kayu yang rebah itu.

Atau Tuan bersorak-sorai bersama jamaah medsos Tuan mengejek Ustadz Abdul Somad terkait peristiwa pesek-memesek itu dan ejekan receh lainnya? Haha. Tuan kan tak bergeraham, tak usah dikunyah jua yang liat dan kuat ini. Cocoknya makanan Tuan itu biji cempedak dikasih mentega, tak payah kunyah. Telan saja bulat-bulat.

Tak kami ragukan memang, kalau Tuan tak bergeraham lagi, sebab kami lihat Tuan gemetar tampil di tv. Adapun teman Tuan itu, samalah dengan Tuan. Payah!!

Macam-macam tingkah Tuan nampaknya. Tuan senggal-senggol Ustadz Abdul Somad “ilmu nya tak seberapa”, “tukang dakwah keliling”, “hanya pintar melawak”, “tidak ada yang istimewa” dan ungkapan rendahan lainnya. Apakah Tuan takut mata Tuan hilang satu, hingga ikut bersemangat mengipas-ngipasi ummat? Kalau memang bukan itu mata pencarian Tuan, lalu why? Atau kalau Tuan merasa lebih pintar, lebih berilmu, lebih hebat, ayo maju ke depan, jangan bergumam di belakang. Biar sama kami lihat juga lepas tangkas tangan Tuan ikut membenahi kami yang awam agama ini. Kami sebagai jamaah memang awam dan bingung tapi masih mau diajari, kalau Tuan cerdik, bijak laksana apa bisa diikut dan ditauladani?

Satu lagi, bagi tuan-tuan yang hanya bisa berkumur-kumur di postingan-postingan medsos menceramahi Ustad Abdul Somad. Sudahlah.. Daripada tuan-tuan menggerutu tidak keruan, baiknya temui beliau, ajak diskusi. Jangan membelalak di tempat gelap, menyipak di sebalik bukit. Payahnya saja yang akan tuan-tuan tuai, hasilnya tak menaruh manfaat barang sedikitpun.

Terakhir, Tuan-tuan semua, menghadang laju dakwah Tuan Guru Kami Ustadz Abdul Somad itu bak menghambat badai dengan telapak tangan. Sia-sia Tuan. Salah-salah Tuan bisa digulungnya!!!

(Visited 380 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account