Jangan Banyak Mengeluh, Ferguso

Jangan Banyak Mengeluh, Ferguso

Oleh : Tere Liye

Saya naik KRL pagi2. Penuh sesak itu kereta dengan para pekerja, mereka berangkat pagi buta. Wajah2 mengantuk, wajah2 yang baru bangun beberapa menit lalu, langsung mandi, kemudian berlarian mengejar jadwal kereta. Jutaan jumlahnya. Lantas tiba di kantor, seharian bekerja, pulang sore hari, lagi2 mengejar jadwal kereta. Berdesakan. Tiba di rumah sekitar sudah gelap. Sebentar sekali rasanya istirahat, untuk esoknya, lagi2 sudah ada di gerbong KRL pagi2. Bagai robot. Terus bekerja.

Apakah rakyat Indonesia suka mengeluh? Tidak bersyukur? Pemalas? Omong kosong. Mereka semangat bekerja. Saksikanlah sesaknya KRL. Hanya demi gaji berbilang 3, 4, 5 atau 6 juta bulan saja mereka tetap semangat kerja. Sementara bos mereka, direksi BUMN (misalnya), ada yg pendapatannya bisa 3, 4, 5, atau 6 milyar per bulan. Wow? Hoax? Kalian terlalu lama dijejalkan pencitraan kelas tinggi di negeri ini, sampai tidak tahu bos BUMN bisa bawa pulang milyaran per bulan, sementara kalian terus memuja pemerintah dgn kehidupan begitu2 saja, lupa setiap hari ‘diberaki’ dari atas.

Saya pagi2 pergi ke pasar induk. Pukul 2 subuh. Itu pasar induk di kota2 besar sudah ramai. Mobil2 pengangkut sayuran berdatangan dari penjuru negeri. Pedagang sayuran telah bekerja bahkan saat elit politik negeri ini masih tidur lelap di hotel berbintang atau rumah megahnya. Pernah kalian datang ke pasar induk jam 2 subuh? Coba sesekali datang ke sana. Maka jika ada yang komen rakyat Indonesia suka mengeluh, penduduk Indonesia pemalas, itu benar2 orang sok tahu. Rakyat Indonesia terus bekerja meskipun impor produk dari LN membanjiri. Mereka terus bekerja meskipun harga2 naik-turun semaunya saja bikin jantungan. Sementara itu elit politik di gedung DPR, menghabiskan 5 trilyun lebih per tahun. Sementara itu elit politik asyik membagi2kan jatah komisaris BUMN.

Baca juga:  Saatnya netizen dan media sosial menggantikan peran jurnalis dan media mainstream menjadi pilar keempat demokrasi

Saya pagi2 menyaksikan jutaan penduduk Indonesia berangkat ke sawah, ladang, kebun karet, kebun kopi. Masih gelap di sekitarnya, mereka sudah semangat bekerja. Tidak apa meski penghasilan seadanya, yang penting keluarga bisa makan hari ini. Saya menyaksikaan jutaan nelayan pergi melaut, mencari ikan, tidak mengapa pendapatan kecil saja, yang penting keluarga bisa makan. Juga jutaan buruh2 dengan gaji UMP saja.

Apakah penduduk Indonesia suka mengeluh? Omong kosong. Negeri kesatuan republik Indonesia ini masih berdiri hingga hari ini karena penduduknya justeru tahan banting. Mereka bersabar sampai titik penghabisan. Bahkan ketika rasa sabar mereka habis, mereka tetap menerima semuanya. Bagi mereka, semua ada jalan keluarnya. Listrik mahal, tinggal kurangi penggunaan lampu. Biaya kesehatan mahal, tinggal jangan sering2 sakit. Bahkan saat tempe mahal, tinggal potong2 lebih kecil. Cabe mahal? Tinggal buka HP, makan gorengan sambil lihat cabe di layar HP. Lumayan pedasnya terasa. Mereka semua punya jalan keluarnya. Tidak apa. Padahal pemerintah itu adalah pelayan bagi rakyatnya. Tidak apa, pelayannya lebih tajir, lebih mewah, lebih segalanya dibanding bosnya. Tidak apa. Padahal BUMN itu punya rakyatnya, untungnya trilyunan, gaji direksi puluhan milyar, rakyat nyicil beli token atau mengemis nyari kreditan.

Baca juga:  Pemerintah membatalkan penambahan waktu cuti Lebaran

Lantas, masih ada yang mencekoki dengan propaganda: rakyat jangan banyak mengeluh, banyak2lah bersyukur, pemerintah telah bekerja keras. Lantas, masih ada orang2 yg sibuk memutar-balik semua fakta di sekitarnya. Sungguh, kalian telah termakan pencitraan kelas tinggi. Saat semua dibalik2, logika diputar2. Bahkan saat sebuah jeruk didatangkan dari planet Mars, kemudian dikasih bungkus merk Indonesia, kalian bersorak, ‘horeee, buatan Indonesia’. Berbaris memuja-muja kebohongan yg nyata.

Semoga masih ada yang melihat betapa tangguhnya rakyat Indonesia. Bukan di medsos lihatnya, lihatlah di KRL, bus2, angkot2, pasar2, kebun, ladang, pabrik, jutaan penduduk Indonesia terus bekerja–siapapun pemerintahannya, sesusah apapun kondisinya. Masih bilang mereka suka mengeluh? Situ memang fantastis bebalnya.

*Tere Liye
**Penulis novel politik “Negeri Para Bedebah”, “Negeri di Ujung Tanduk”, “Pulang” dan “Pergi”

(Visited 15 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account