Bukan Tentang Ahok Saja

Bukan Tentang Ahok Saja

Bukan Tentang Ahok Saja

Catatan Thamrin Dahlan

Jika Anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan. (Abraham Lincoln, Presiden Amerika ke 16). Kalau mau melihat tabiat asli seseorang maka berilah dia kekuasaan. “Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.”

Bukan tentang Ahok tetapi tentang NKRI. Amanah kata kunci ketika berniat menunjuk seseorang warga negara menduduki jabatan strategis. Sebenarnya semua jabatan harus memenuhi kaedah the right man in the right place and right time.

Tetapi mari batasi pada jabatan yang menyangkut kepentingan orang banyak bersebab disanalah terhimpun darah rakyat Indonesia. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina, PLN dan Karakatau Steel laiknya di awak i seorang profesional.

Secara umum profesional dimaknai 3 unsur yang wajib melekat pada diri seseorang yaitu Science, Skill and Attitude. (SSA). Tiga unsur tersebut harus terintegrasi atau terpadu pada diri seseorang berdasarkam rekam jejak.

Science (Ilmu pengetahuan) tentang satu bidang dikuasai sampai detail ibarat mengaji sudah khatam berkali kali. Artinya jangan beri amanah pada orang yang tak berilmu bisa rusak negara ini.

Seorang pekerja berilmu harus dibuktikan dari pengalaman bekerja di bidang tertentu dan sudah teruji serta terbukti berhasil memberi manfaat bagi negara. Pekerja telah mencapai taraf Skill : He Do He Can not He See He Know lebih parah lagi kalu cuma ketrampilan He Hear He Understand.

Baca juga:  Posisi Indonesia Terancam?, #2019GantiPresiden

Science dan Skill tidak ada gunanya apabila tidak dilengkapi Atittude. Apalah artinya kepintaran dan ketrampilan ketika seseorang oknum calon penerima amanah itu berprilaku buruk. Tak perlu lagi diuraikan makna terselubung dari prilaku buruk ketika secara umum ada penolakan khalayak terhadap kehadiran oknum mantan pejabat publik.

Bukan soal Ahok tetapi soal NKRI. Kembali ke ungkapan Presiden Amerika ke 16 Abraham Lincoln: Jika ingin menguji karakter seseorang beri dia kekuasaan.

Karakter atau katakanlah atittude seseorang terang benderang telah tercatat abadi di media sosial. Tidak bisa dihapus jejak digital di internet dan juga di memory setiap warga. Itulah sebabmya di awal awal wacana menempatkan seseorang siapapun dia sudah menimbulkan kegaduhan.

Terdapat hubungan bermakna antara kekuasaan dengan jati diri asli seseorang. Seseorang yang baik misalnya sangat peduli kepada kesejahteraan orang lain ketika memperoleh amanah dalam bentuk kekuasaan maka dia akan lebih banyak berbagi atau bersedekah.

Sebaliknya seorang oknum yang memiliki sifat pemberang dalam kehidupan sehari hari ketika dia berkuasa apa yang akan terjadi. Sewaktu menjadi orang biasa yang dimarahi mungkin orang sekitar keluarga atau lingkaran terdekat, namun ketika kekuasaan ada dipundak maka anak buah dan juga warga terlepas benar atau salah akan terkena dampratan si Boss.

Baca juga:  Memberi makan 100 orang setiap hari?

Teori Abraham Lincoln sudah terbukti. Kini keputusan terpulang kepada para pemberi amanah apakah akan tetap memaksakan kehendak tanpa mempedulilkan kaedah profesionalitas dan the right man and the right place plus right time.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun yang mungkin kurang berkenan bersebab ada alasan atau pertimbangan lain ada baiknya di tawarkan jalan tengah.

Memang seseorang itu bisa berubah drastis setelah mengalami cobaan hidup sangat keras. Perubahan karakter menjadi warga negara yang baik akan terlihat pada pergaulan di masyarakat. Perlu waktu cukup panjang untuk menilai apakah perubahan tersebut significan dengan cara memberi peluang kepada yang bersangkutan untuk bekerja di bidang sosial kemanusiaan.

Cintoh sederhana pada pertandingan sepak bola dimana wasit menghukum seorang pemain yang melakukan pelanggaran keras. Kartu merah ganjaran paling tepat sehingga oknum pemain tersebut di keluarkan dari lapangan. Bukan itu saja hukuman yang diberikan tetapi ada larangan tidak boleh bermain pada petandingan selanjutnya sesuai peraturan disiplin internasional.

Point yang ingin disampaikan disini adalah bahwa jabatan publik strategis hendaknya diamanahkan kepada warga yang memiliki kapasitas profesional dan integritas teruji. Kegaduhan akan segera sirna sementara jabatan sosial kemasyarakatan bolehlah diuji coba kepada seseorang apakah nanti akan muncul teori baru.

19112019

Salamsalaman

TD

(Visited 27 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account