MENANGGAPI “ANALISIS CERDAS ROCKY GERUNG DI ILC 13/02/18”

MENANGGAPI “ANALISIS CERDAS ROCKY GERUNG DI ILC 13/02/18”

Judul link ILC 13 Feb 2018 ini “Analisis Cerdas RG”. Saya pengagum RG sejak lama. Saya menyukai gaya bicara, diksi, dan artikulasinya. Kecerdasannya juga tampak pada kemampuan menyusun analogi yang tepat, sederhana, dan tajam.
Kehadiran pemikir dan kritikus sekelas RG tentu saja amat dibutuhkan oleh publik, ketimbang nyinyiran nggak jelas yang asal beda. Kontribusi RG pada keberanian mengkritik patut diapresiasi. Maka mari sedikit analisis komentarnya semalam.
Saya mau mengambil satu potong dulu, soal Kader Mia yang diceritakan RG. Ini adalah kisah nyata Amartya Sen tahun 1944, ketika menghadapi kekerasan yang amat brutal di India, antara Hindu vs Muslim. @rockygerung meminjam kisa Kader ini utk menjelaskan soal kekerasan.
Jika @rockygerung memahami kuliah @sahaL_AS soal kewargaan, saya mencoba memahami kuliah RG soal kasus Kader Mia, pemikiran Sen, dan ketepatan analoginya dg kasus di Indonesia. Sy rujuk ke buku “Identity and Violence” karya Sen.
Lamat2 saya ingat kisah itu ketika membaca karya Sen bbrp tahun lalu. Lantas sy bongkar arsip dan ketemu buku ini. Di Bab 9 berjudul “Freedom to Think”, Sen membuka analisisnya dg kisah Kader Mia, seorang Muslim Dhaka yg minoritas.
Menurut saya di sini RG separo benar, maka separo salah. Saya akan tunjukkan beberapa, lalu kaitannya dg relevansi dan implikasi yang bisa menyesatkan. Ini problem serius, hal yg diterima sebagai benar tanpa dipertanyakan, bisa berbahaya.
Kader Mia, seorang Muslim, minoritas di Dhaka. Ketika usia 11 thn, Sen mendapati Kader tertelungkup di pagar rumahnya. Ia ditikam oleh segerombolan orang Hindu, yg bahkan tak pernah mengenalnya. Ayah Sen, dosen, membawa Kader ke rumah sakit. Sayang Kader tak tertolong.
Di perjalanan, Kader sempat bercerita ke ayah Sen. Ia seorang miskin, yg terpaksa keluar rumah meski sdh dilarang istrinya krn ada huru hara, karena mereka tak bisa makan lagi. Kader buruh rendahan, berjuang sekadar utk bisa makan. Dan ia tewas dibunuh.
Hal yg tak masuk akal Sen adalah, kenapa orang yg tak saling kenal dan tak ada urusan personal, saling bunuh? Mereka hanya digerakkan oleh racun ilusi identitas tunggal: religious ethnicity. Toh orang2 Hindu ini juga miskin. Kader seolah hanya punya satu identitas: Muslim.
Padahal baik orang Muslim dan Hindu di sana, sebagian besar miskin. Lantas kenapa identitas sbg “orang miskin” ini bukan malah menyatukan mereka? Sen lalu mengkonstruksi relasi antara deprivasi ekonomi dan kebebasan komprehensif. Ini titik pijak analisisnya.
Seluruh hidup dan karya Sen berpijak dari titik tolak ini: kemiskinan dan kebebasan. Di buku lain ia memberi judul “Development as Freedom”. Sen ekonom liberal yg gigih mengenalkan kapabilitas sbg ukuran alternatif bagi keberhasilan pembangunan dan keadilan.
Kelak di “The Idea of Justice”, Sen mengelaborasi teori-teori raksasa tentang keadilan dan mengkritiknya, karena dianggap tak memadai lagi. Bagi Sen, problem keadilan bukan melulu “metafisik”, melainkan pragmatis: menciptakan keadilan melalui penghilangan hambatan2.
Saya tak akan membahas itu sekarang. Kembali ke Kader. Jika dikaitkan dg komentar dan posisi RG yg menarik hubungan kekerasan, teror, dan kemiskinan, ada hal yg tidak tepat dan perlu diluruskan. Pertama, maksud dan konteks kisah ini. Kedua, relevansi analitiknya.
RG hanya benar separo dan mengambil secara eklektik kisah ini, sehingga keluar dari inti kritik Sen. RG benar bahwa deprivasi ekonomi menyebabkan kekerasan, tapi tidak bertolak lebih jauh seperti Sen: kenapa orang miskin terilusi identitas tunggal?
Tapi jika pakai kisah RG, posisinya terbalik. Kader yg miskin ini tak punya pilihan dan kemewahan utk terhindar dari kematian, beda dg Muslim kaya misalnya. Padahal Sen ingin menyoroti dua sisi: Kader, dan fakta brutalitas berdasarkan ilusi identitas.
Implikasinya bisa panjang, yakni relasi antara kemiskinan dan kekerasan. Benar bahwa kemiskinan memicu orang utk melakukan kekerasan. Tapi Sen lebih jauh, kemiskinan membuat deprivasi kapabilitas. Kemampuan memahami identitas dan berjarak dg jargon politik.
Di sini relasi menjadi semakin tegas. Maka proyek Sen adalah, utk melawan kekerasan dan kemiskinan, deprivasi kapabilitas, melampaui deprivasi ekonomi, harus menjadi agenda. Sen menunjukkan relasi erat antara kebebasan dan kapabilitas. Kembali ke RG ya…
Anehnya, RG sama sekali tdk kritis dan menerima begitu saja pelaku teror ini karena kemiskinan, bukan karena ideologi radikal atau mungkin yang ia samar2 ajukan: agenda terselubung. Sayang, ia terburu-buru mengasalkan dalang ini ada di sekitar Monas. Entah apa maksudnya.
Bukankah yg lebih relevan bukan soal kemiskinan, di mana kondisi 1944 jauh berbeda dg 2018, tetapi deprivasi kapabilitas yg melahirkan kebencian. Ilusi akan adanya identitas tunggal, yg di Sen agama, di RG disederhanakan sbg persoalan ekonomi belaka.
Kekeliruan atau kegagalan mengidentifikasi ini tentu saja berimplikasi jauh. RG gagal melihat kompleksitas rangkaian teror ini sebagai misalnya, dinamika politik yg jorok dg memanfaatkan kaum intoleran dan stagnasi ekonomi sebagai latar belakang.
Bahkan RG mengecoh dengan bermain silogisme. Hanya karena pernyataan Jokowi tidak memuaskan, maka dalangnya ada di sekitaran Monas. Ini dua hal yang berbeda, bisa berkaitan, tapi tidak niscaya sebab-akibat. Visi Jokowi satu hal, motif teror hal lain.
Bahwa respon Jokowi normatif dan mengecewakan, saya kira sebagian besar sepakat. Namun melihat parbrikasi teror, termasuk melalui paramiliter ini bukan hal baru, agaknya kesimpulan musti ditunda. Jika tidak, yang terjadi tak lebih dari opini.
Entah kenapa RG yang garang, dan menurut pengakuannya menghindari diskusi soal ayat2 kitab suci, terkesan tidak mau menyinggung, dan toleran dg fakta radikalisme, yg sama sebangun dengan masa Sen belia? Apakah ini wujud absennya diskursus kewargaan juga?
Lalu strategi ini hanya menggiring pada model “either/or”: atau Jokowi atau RG yang salah/benar? Tak mungkin kedunya benar. Nihilnya model ‘both/and” ini aneh, karena justru RG bisa memberikan saran2 praktis agar Jokowi dan RG menjadi benar, thd radikalisme dan politik higienis.
Itu dulu. Jadi, harus dikritik tegas RG kurang tepat memahami inti gagasan Sen, baik dlm arti sebenarnya (ketepatan isi), maupun proyek Sen. Padahal, ini peluang dan tantangan besar utk mengarusutamakan kapabilitas sbg jangkar pembangunan.
Terlebih banyak faktum menjelaskan, bahwa kemiskinan tak serta merta berkorelasi dengan teror dan kekerasan. Jika terorisme adalah anak kandung modernitas, jelas bahwa di Peristiwa 11/9, para pelaku bukan orang miskin, bodoh, dan frustrasi. Sekian.

Baca juga:  Saran Netizen, Ketika Ingin Mengkritik Mahfud MD ; "Baca Ayat Kursi Dulu Sebelum Diposting"

*Tulisan ini di copy paste dari isi twitnta Prastowo Yustinus ( @prastow ) tgl 14 feb 2018

etapi… penulis sangat setuju dgn apa yg prof RG sampaikan.. hehehe
semoga dalangnya bukan dari sekitaran monas beneran ya…

(Visited 742 times, 1 visits today)

Mas Pri

leave a comment

Create Account



Log In Your Account