HARI IBU ADALAH PERJUANGAN POLITIK PEREMPUAN

Peringatan Hari Ibu kerap disalahartikan sebagai bentuk terima kasih kepada ibu yang telah melahirkan dan mengurus rumah tangga. Secara umum, Hari Ibu diartikan sebagai peringatan atau perayaan bagi peran seorang ibu dalam keluarga. Hari Ibu ini bercermin pada Mother’s Day di Amerika Serikat dirayakan pertama kali pada tahun 1908, ketika anak Anna Jarvis mengadakan peringatan atas kematian ibunya di Grafton, West Virginia. Anna Jarvis adalah seorang ibu yang menginisiasi gerakan untuk menyatukan kembali keluarga-keluarga yang tercerai berai akibat perang saudara di Amerika.

Sementara itu, sejarah mencatat bahwa Hari Ibu di Indonesia lahir dari peristiwa perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan. Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kongres tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari perkumpulannya Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah dan Jong Islamieten Bond. Hari Ibu yang diperingati di Indonesia setiap 22 Desember dimaksudkan sebagai hari kebangkitan dan persatuan serta kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa.

Misi diperingatinya Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan permpuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Semangat itu tercermin dalam perjuangan Sofie Korneliq Pandean, seorang perempuan kelahiran Minahasa yang tanpa rasa takut berseru tentang kemerdekaan bangsa. Pandean adalah satu-satunya wanita yang ikut membacakan naskah Sumpah Pemuda. Hingga pertemuan ketiga, Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menetapkan hari untuk mengenang keberanian para perempuan yang turut membela negara. Dipilihlah 22 Desember sebagai Hari Ibu. Tanggal ini dikukuhkan dalam Kepres No. 316 tahun 1959 tentang Hari Nasional yang bukan hari libur dan diperingati hingga sekarang.

Pada masa lalu, peringatan Hari Ibu diasosiasikan dengan pergerakan politik sejumlah organisasi perempuan. Konsep perempuan atau ibu itu bermuatan politik, revolusioner, ibu yang juga ikut perang dalam artian membuka dapur-dapur umum saat situasi Indonesia belum stabil dan menjadi kurir politik. Kongres Perempuan Indonesia lantas bertransformasi menjadi Perikatan Perempuan Indonesia, lantas Kowani pada 1946. Sukarno memilih istilah wanita pada saat itu karena dirasa lebih halus. Padahal secara etimologi, istilah itu berasal dari bahasa Sansekerta, vanita, yang artinya yang diingini. Di sini bisa dilihat dinamika makna perempuan atau ibu.

Baca juga:  Felix Siauw: Al-Aqsha Memanggil Kaum Muslim

Pada masa pemerintahan Soeharto, semangat revolusioner ibu semakin dipudarkan. Gerwani dan unsur kiri dibersihkan dari Kowani setelah kongres luar biasa Kowani digelar pada akhir April 1966. Definisi ibu yang dibuat Suharto dalam pidatonya: ibu adalah ibu bangsa, ibu adalah yang melahirkan anak, dan ibu adalah seorang istri atau pendamping suami. Berikutnya, dalam Panca Dharma Wanita juga disebutkan tentang wanita sebagai pencari nafkah tambahan. Sejak masa Orde Baru peran ibu didepolitisasi. Hari Ibu secara perlahan dimaknai sebagai perayaan ungkapan kasih sayang atau apresiasi untuk ibu. Yang tercipta sejak saat itu adalah ibu yang subordinasi suami, tidak lagi progresif, sehingga ibu dalam kaitan dengan hari ibu tidak lagi berasosiasi dengan pergerakan politik.

Lalu di pengujung pemerintahan Suharto muncul Suara Ibu Peduli. Pengertian ibu adalah simbolisasi menggeser konsep ibu yang didomestikasi selama Orde Baru, dieksploitasi oleh kapitalisme. Memang ada yang mengatakan bahwa penggunaan kata ibu adalah taktik karena lebih cenderung didukung. Selain itu, di mata rezim militer, kata ibu juga dianggap lebih lunak, sehingga pilihan kata tersebut bisa menyamarkan keradikalan gerakannya. Gerakan perempuan baru yang lahir pada tahun 1980-an mengubah atau menolak istilah wanita dan domestikasi Orde Baru. Gerakan ini mengembalikan istilah perempuan, sesuai dengan aspirasi Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.

Istilah perempuan adalah pernyataan politik. Dalam gerakan ini pula diusung ide bahwa perempuan bukan lagi pencari nafkah tambahan. Kata tambahannya dihapus, sama dengan laki-laki. Maka, definisi ibu menurut gerakan ini adalah sosok yang bekerja, memberi kontribusi nafkah pada keluarga. Ibu juga merupakan sosok yang berpartisipasi dalam politik, sosok yang harus dibebaskan dari kapitalisme dan otoritarianisme. Jika dulu namanya ibu progresif revolusioner, sekarang konsep ibu adalah ibu yang radikal dan otonom. Perempuan yang memiliki peluang dan kesempatan bisa meningkatkan kualitas hidupnya secara mandiri. Perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara juga mampu menjadi penggerak perubahan.

Baca juga:  YUSRIL Khutbah Tentang Persatuan di Mesjid AKBAR, Sorong, PAPUA BARAT

Momentum Hari Ibu adalah perjuangan dilandasi rasa nasionalisme, perjuangan demi persatuan nasional, perjuangan atas hak perempuan untuk maju; perempuan tidak boleh diperdagangkan; perempuan bebas bekerja; perempuan berhak terdidik; perempuan berhak terampil; perempuan berhak tolak poligami dan berhak tolak perkawinan dibawah umur. Sudah seharusnya Hari Ibu dijadikan sebagai bahan perenungan berbagai upaya yang dilakukan dalam rangka memajukan pergerakan perempuan di semua bidang pembangunan. Perempuan harus maju terus, menjadi sosok yang mandiri, kreatif, inovatif, percaya diri dan berkualitas, sehingga bersama laki-laki mejadi kekuatan yang besar dalam membangun keluarga, masyarakat dan bangsa.

Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda, akan makna Hari Ibu sebagai hari kebangkitan dan persatuan serta kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa. Adalah tepat bila tema “Perempuan Berdaya Untuk Indonesia” dalam PHI ke-89 Tahun 2017. Perjuangan kaum perempuan Indonesia telah menempuh jalan panjang dalam mewujudkan peranan dan kedudukan perempuan Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hari Ibu yang selalu diperingati setiap tahun membuktikan bahwa telah ada perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan. Perempuan harus mendapatkan peluang dan kesempatan, agar mampu meningkatkan kualitas hidupnya secara mandiri. Perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara juga mampu menjadi motor penggerak dan motor perubahan (agent of change). Perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan, akses, serta peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

(Visited 123 times, 1 visits today)

Yu Na

leave a comment

Create Account



Log In Your Account