Kejanggalan Tragedi Mako Brimob dan Tuduhan Konspirasi Intel Polri oleh FPI

Kejanggalan Tragedi Mako Brimob dan Tuduhan Konspirasi Intel Polri oleh FPI

Kejanggalan Tragedi Mako Brimob dan Tuduhan Konspirasi Intel Polri oleh FPI

Oleh : Revaputra Sugito

Sebenarnya sejak berakhirnya Tragedi Mako Brimob beberapa waktu yang lalu, saya dan  mungkin banyak sekali masyarakat yang  sangat menunggu penjelasan dari Polri tentang kejadian yang sebenarnya tentang Penyanderaan di Mako Brimob yang menimbulkan korban 5 prajurit gugur. Bagaimana hal itu bisa terjadi dan bagaimana hasil penyelesaiannya.

Di sisi lain belum berapa lama  Kejadian Tragedi Mako Brimob, muncul peristiwa Bom Gereja Surabaya.  Ini membuat semua orang paham dan berpikir bahwa Polri belum sempat menjelaskan  Kejadian Tragedi Mako Brimob karena  saat ini semua perhatian terfokus pada rentetan kejadian Bom Gereja Surabaya dan aksi perburuan teroris yang menyertainya.

Mungkin saat ini ( Hari ke 12 Paska Tragedi Mako Brimob)  adalah waktu yang tepat untuk Polri menjelaskan hal-hal yang terjadi saat itu. Fadli Zon Wakil Ketua DPR beberapa hari lalu sempat meminta Kapolri menjelaskan Kejadian di Mako Brimbo.

Begitu juga dengan Rizal Ramli mantan Menko Maritim juga menyatakan keheranannya karena setelah peristiwa Mako Brimob, Pimpinan Mako yang ada tidak bersedia mengundurkan diri dan tidak juga dikenai sanksi.

Dengan demikian bila Kapolri  tidak kunjung juga menjelaskan  tragedy tersebut bisa jadi tetap menjadi polemic.  Bisa jadi masyarakat underestimated pada kemampuan Polri dan lain sebagainya.

KEJANGGALAN  PERISTIWA TRAGIS MAKO BRIMOB 8 MEI 2018

Saya sempat menuliskannya dalam 1 artikel  tanggal 10  Mei 2018 bagaimana keheranan saya melihat begitu mudahnya Markas Komando Pasukan Elit Polri diacak-acak Napi Teroris dari dalam.  Dalam artikel saya yang berjudul “Kenapa Mako Brimob Bisa Sampai Dikuasai Napi Teroris, TNI Mana?” itu saya mempertanyakan  mengapa sampai 30 Jam lebih Mako Brimob bisa dikuasai Napi Teroris. Mengapa tidak minta bantuan Kopassus/ TNI untuk mengatasinya kalau memang mengalami kesulitan.

Artikel itu saya tulis pada saat Kejadian masih berlangsung  jam 2 dini hari.  4 Jam kemudian  (Subuh nya) dari media online resmi dikabarkan Mako Brimob sudah dikuasai Polri kembali setelah mengerahkan 1.000 Personil Polri.

Dalam artikel tersebut saya sudah membahas beberapa kejanggalan peristiwa terutama kronologis kejadian dan beberapa hal lainnya. Sayangnya keesokan harinya soal kronologis kejadian tidak juga diterangkan/ dijelaskan ke public.

Sampai hari ini berarti lebih sebelas hari berlalu,  Kapolri tidak juga sempat memberikan penjelasan kepada public tentang kejadian tragis di Mako Brimob. Kondisi itu malah membuat semakin banyak pertanyaan di benak banyak orang atau istilah bahwa terkesan ada hal-hal yang terasa janggal dan menimbulkan tanya besar.

Saya mencoba menuliskan  hal-hal yang seharusnya dijelaskan ke public sebagai berikut :

▪Berapa sebenarnya  Jumlah Napi yang ada di Mako Brimob, berapa jumlah napi teroris dan berapa jumlah Napi Teroris yang menyandera 6 Polisi tersebut. Informasi pertama dari Polri pada hari pertama kejadian disebutkan jumlah total napi keseluruhan di Brimob sekitar 130 orang. Tetapi setelah Mako Brimob dikuasai kembali disebutkan jumlah Napi Teroris sebanyak 155 orang. Tidak jelaskan lagi berapa total keseluruhan Napi yang ada sebenarnya.

▪Dari angka 155 orang disebut Polri juga bahwa yang melakukan penyanderaan sebenarnya hanya 10 orang. Sementara sisanya tidak ikut-ikutan.  Pertanyaannya kemudian, kalau hanya 10 Napi Teroris yang membuat keributan, mengapa Polri harus mengerahkan 1.000 Personil untuk mengatasinya.

▪Disebutkan bahwa telah terjadi Penyanderaan selama 30 jam. Yang ganjilnya mengapa tidak ada tuntutan dalam penyanderaan tersebut. Tuntutannya hanya minta logistic makanan untuk ditukar dengandan 1 sandera . Setelah itu tidak ada tuntutan lagi dan para napi langsung menyerah  4 jam kemudian. Ini terkesan begitu mudah tetapi mengapa  sampai harus hampir 40 jam Mako bisa dikuasai para Napi Teroris?

▪Selanjutnya setelah Mako dikuasai dikabarkan bahwa  155 Napi Teroris langsung dipindahkan ke penjara Nusa Kambangan. Ini ganjil karena seharusnya setelah Mako Brimob dikuasai, Polri harus menjelaskan siapa saja 10 Napi yang melakukan Penyanderaan. Mereka harus dikenai hukuman tambahan karena telah menyandera apparat dan membunuh 5 prajurit Polri. Mengapa tidak ada proses hukum sama sekali terhadap 10 Napi tersebut?

▪Kembali ke pertanyaan dalam  artikel sebelumnya. Bahwa  Kronologis Kejadian juga tidak ada penjelasan yang masuk akal dari pihak Polri. Hanya disebut penyebabnya masalah Makanan. Mosok hanya gara-gara  1 orang protes makanan bisa membuat napi-napi lainnya mampu menjebol jeruji-jeruji  dan dinding penjara lalu kemudian bisa menyerang 10 petugas? Ini tidak jelas  dan sangat sulit membayangkan  kronologis kejadian seperti ini.

▪Ada informasi lain ketika media menanyakan siapa yang  harus bertanggung-jawab atas Tragedi Brimob, Kadiv Humas Polri menyatakan  Menkumham yang harus bertanggung jawab karena LP Brimob itu cabang LP Salemba.  Pernyataan ini kembali membingungkan.  Tahanan Napi itu tahanannya Brimob/ Densus 88. Kejadiannya di Mako Brimob. Mengapa Menkumham yang harus bertanggung-jawab?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kalau tidak dijelaskan akan  mengkondisikan masyarakat semakin kurang percaya pada Polri. Ini buruk sekali.  Kita tahu dalam 2-3 hari terakhir banyak Warganet yang berpendapat  Terorisme itu hanya pengalihan Isu. Itu adalah salah satu dampak bila Polri tidak bisa menjelaskan detail dari 1 peristiwa.

Benar sekali  soal Pendapat bahwa Bom dan Terorisme itu sebagai Pengalihan Isu itu pendapat yang amat sangat tidak berdasar.  Apa fakta yang bisa dipakai sebagai dasar pemikiran seperti itu.  Tetapi yang namanya masyarakat itu  cara berpikirnya sederhana dan  mereka saling mempengaruhi. Apalagi sekarang zamanya media social. Akhirnya terciptalah kesimpulan yang salah (tidak berdasar).

Salah satu sebab penyebab liarnya opini masyarakat yang salah adalah ketidak-mampuan Polri menjelaskan sebuah peristiwa.  Contoh : Dhita Bomber Surabaya disebut Kapolri baru saja satu keluarga pulang dari Suriah.

Ternyata kata tetangganya mereka belum pernah ke Suriah.  Kontroversi informasi seperti ini sangat mempengaruhi masyarakat.  Begitu juga (kalau tidak salah) ada Terduga Teroris ditembak mati Densus 88 di wilayah Surabaya. Menurut Polri yang bersangkutan Positif pengikut kelompok JAD. Sebaliknya menurut tetangganya itu tidak mungkin karena yang bersangkutan sudah tinggal belasan tahun di komplek itu dan prilaku keluarganya normal.

Baca juga:  One way ticket, kisah inspiratif Sandi Uno

Kontroversi-kontroversi seperti ini harusnya diantisipasi Polri agar tidak berkembang menjadi isu liar dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Sekali lagi, untuk Tragedi Mako Brimob jelaskanlah  dengan baik, transparan dan lengkap. Agar itu bisa menjadi evaluasi semua pihak.

SEJAK TAHUN 2010 FPI SUDAH MENUDUH AGEN POLRI MENCIPTAKAN TERORISME DI INDONESIA

Dalam artikel  saya  3 hari lalu dengan judul : “Darimana Asalnya Teroris dan Mengapa Hanya Gereja dan Polisi yang Diserang”,  saya  memaparkan  analisa kelompok-kelompok Islam di Indonesia dan menjelaskan bagaimana sampai terjadi  salah satu kelompok Islam  terlibat tindakan Teroris.

Intinya hanya satu  yaitu  : Penyebab Terorisme adalah  Proses Radikalisasi. Dan Proses Radikalisasi itu kemungkinan besar dilakukan oleh 2 pihak yaitu  (Konspirasi dari Pihak tertentu atau Provokasi dari Kelompok Radikal Timur Tengah.

Dalam Tabel di artikel kemarin saya menuliskan Pihak-pihak yang bisa melakukan Konspirasi  Terorisme adalah : Negara Adi Daya, Negara yang Makmur, Negara Pesaing, Radikal Sekuler, Kaum Zionis dan Pihak Lainnya.  Pihak lainnya disini artinya adalah Bisa Pihak Siapa Saja.

Bisa juga Polri meskipun secara logika sangat sulit diterima.  Bisa dikatakan nyaris tidak masuk akal bila Polri (Pemerintah) merekayasa sebuah kejadian Terorisme.  99% tidak mungkin. Tapi memang  tetap ada 1% kemungkinannya.

Pada tanggal 09 Agustus 2010  Ustad Abu Bakar Baasyir ditangkap Densus 88 atas tuduhan melakukan rekruitmen pasukan teroris, membuat pelatihan militer di Janin Janto Aceh. Baasyir dituduh telah mendanai kegiatan tersebut sehingga harus ditangkap.

Kejadian itu akhirnya membuat FPI bersuara. Salah satu pengurus FPI yaitu Munarman mengatakan bukan Abu Bakar Baasyir yang  melakukannya tetapi  Sofyan Tsauri seorang mantan Brimob yang disusupkan ke jaringan teroris.

Munarman menyebut 10 orang angkatan muda FPI direkrut oleh Sofyan Tsauri dengan alasan akan diberangkatkan ke Palestina.  Mereka akhirnya dilatih Sofyan Tsauri di Mako Brimob Depok dan akhirnya diberangkatkan ke Aceh untuk pelatihan lanjutan.  Ketika sedang melakukan pelatihan  militer di Aceh, tiba-tiba mereka ditangkap Densus 88 dan dituduh akan melakukan terorisme di Indonesia.  Sofyan Tsauri sendiri menghilang entah kemana.

Tuduhan itu sempat dibantah  Sofyan Tsauri  pada waktu itu dan dirinya balik menantang pihak FPI untuk bersumpah Mubahalah kalau memang merasa benar. Sumpah Mubahalah adalah bersumpah berani menjemput maut bila apa yang dituduhkan tidak benar.

Sebenarnya tuduhan FPI ini bukan saja kepada Sofyan Tsauri tetapi pada Polri secara keseluruhan dimana secara tersurat Polri memang memiliki  Inteligen untuk melakukan hal itu.  Sayangnya pada saat itu Polri  mengabaikan tuduhan berat  tersebut.  Entah karena Polri tidak mampu membantah tuduhan itu ataukah Polri menganggap itu masalah Pribadi Sofyan Tsauri.

SIAPA SEBENARNYA  SOSOK  DARI  SOFYAN TSAURI?

Saya sendiri  selama ini tidak tahu / belum pernah mendengar sama sekali nama Sofyan Tsauri ini. Sosok ini pertama kali saya lihat pada saat menonton ILC  TV One  yang bertema  Peristiwa Mako Brimob.  Saat itu  Sofyan Tsauri diberi kesempatan Karni Ilyas untuk berbicara pengalamannya sebagai Teroris. Karni Ilyas menyebut  Sofyan Tsauri ini adalah mantan Napi Teroris. Jadi awalnya setahu  saya sosok ini adalah “Hanya” seorang Mantan Napi Teroris.

Ketika Sofyan berbicara di ILC saya menyimak dengan teliti. Tapi ada Satu hal aneh menurut saya ketika Sofyan Tsauri dengan kesungguhan  (sangat ngotot) mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada namanya Konspirasi dalam sebuah peristiwa Terorisme.

Sofyan mengatakan paham Radikal dari Teroris karena mereka mempelajari  buku-buku tertentu.  Saya terkejut pernyataannya karena itu berlawanan dengan apa yang sudah saya ketahui selama ini.  masa iya mantan Teroris tidak tahu bahwa potensi Konspirasi itu  selalu ada dalam setiap peristiwa Terorisme?

Akhirnya pernyataan Sofyan tentang tidak ada Konspirasi dalam Terorisme disanggah oleh Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Dien Syamsudin.  Dien menjelaskan dengan detail pengalamannya sewaktu bersekolah di Amerika dan Dien sangat yakin Terorisme itu berhubungan dengan Konspirasi.   Penjelasan Dien Syamsudin ini juga di-Amini oleh pembicara dari BIN (saya lupa namanya). Bahwa teori Konspirasi itu  memang ada.

Selanjutnya beberapa hari kemudian saya sudah melupakan sosok Sofyan Tsauri  ini.  tetapi akhirnya saya  menemukan nama ini diberita-berita  Detiknews sejak 2 hari terakhir.  Kemarin malam saya membaca berita di Detiknews bahwa Mantan Napi Teroris ini akan mempolisikan Habib Rizieq yang telah menuduhnya sebagai  Intel Polisi dan menuduh dirinyalah yang menciptakan Teroris di Indonesia.

Berita ini cukup mengejutkan. Kapan sebenarnya Habib Rizieq menuduh orang ini tanya saya dalam hati. Bukankah Habib Rizieq hampir setahun di Luar negeri?

Akhirnya saya browsing internet untuk mencari tahu kapan sebenarnya  Rizieq menuduh  Sofyan Tsauri adalah seorang Intel Polri yang disebutnya telah merekrut banyak  kalangan muda  Islam (termasuk 10 dari FPI) untuk dilatih jadi Teroris.

Salah satu penelusuran lewat google akhirnya saya mengetahui bahwa nama Sofyan Tsauri sudah cukup terkenal sejak tahun 2010 seperti yang saya sebutkan diatas bahwa sosok ini sudah lama dituduh FPI sebagai Inteligen Polri.

TERNYATA SANGAT MUDAH MENEMUKAN JEJAK DIGITAL TENTANG  SOFYAN TSAURI

Dengan keyword  “Sofyan Tsauri”  pada google,  anda akan langsung menemui  puluhan entri data (artikel) yang terkait Sofyan Tsauri.  Ternyata sejak tahun 2016 hingga sekarang, setiap ada Diskusi-diskusi level Elit sosok Sofyan Tsauri selalu hadir dan menjadi Pembicara.

Berita yang paling banyak dari Sofyan Tsauri pada tahun 2016 adalah tentang keluhan dan kesedihan Sofyan yang sulit mencari Pekerjaan karena statusnya mantan Napi Teroris.  Ini cukup kontradiksi karena dengan kondisi yang sepertinya Kekurangan Ekonomi tapi Sofyan Tsauri selalu eksis jadi Pembicara di berbagai Diskusi Terorisme sejak tahun 2016 hingga sekarang.

Bahkan sesaat setelah kejadian Tragedi mako Brimob, Sofyan Tsaurilah yang diundang CNN Indonesia untuk menjelaskan kronologis peristiwa.  Dari Youtube yang diunggah CNN Indonesia bisa dilihat bagaimana mahirnya Sofyan Tsauri  menjelaskan Denah Mako Brimob dan menganalisa cara Napi Teroris menyerang Petugas.

Baca juga:  Jangan jadi pengemis!

Pada entry-entry Google teratas tentang nama Sofyan Tsauri, begitu banyak yang memuat berita pernyataan-pernyataan Sofyan di acara-acara Diskusi Terorisme.  Akhirnya saya mencoba searching lebih dalam lagi barulah menemui banyak informasi tentang sosok ini.

TUDUHAN KEDUA DARI FPI TERHADAP SOFYAN TSAURI  DATANG  DARI HABIB RIZIEQ

Pada tanggal 30 Januari 2016 di Pengadilan Negeri Cilacap yang mengadili Ustad Abu Bakar Baasyir, Habib Rizieq memberi kesaksian di Pengadilan.  Rizieq menyebut bukan Abu Bakar Baasyir yang mensuuplay Teroris melainkan  Sofyan Tsauri.

“Ustadz Abu Bakar Baasyir memang benar beliau memberikan dananya untuk perjuangan umat islam di Palestina, namun beliau tidak tahu-menahu terkait pelatihan militer di Aceh. Adapun pendanaan terkait pelatihan militer di Janin Janto, Aceh tersebut murni seutuhnya dibiayai oleh Sufyan Atsauri alias Abu Sayaf alias Marwan yang terungkap sebagai desertir Brimob,” tegas Habib Rizieq saat bersumpah memberikan kesaksiannya di Ruang Wijayakusuma, Pengadilan Negeri Cilacap, Jawa Tengah, Selasa, (26/01).  (Sumber: Kiblat.net)

Jadi Video tuduhan Habib Rizieq  yang beredar belakangan ini sepertinya dibuat pada tahun 2016 sesaat setelah pengadilan Ustad Abu Bakar Baasyir.

Dari kiblat.net juga Sofyan Tsauri telah membantah tuduhan FPI.  Sofyan membantah perihal FPI   mengatakan  Sofyan datang ke DPD  FPI Aceh dan menawarkan diri jadi Instruktur Pelatihan Militer. Menurut Sofyan dia hanya berdakwah saja tetapi  anggota teroris di Aceh memintanya menjadi Instruktur Militernya.

Mengenai  Tuduhan lain dari ketua FPI Aceh  Tengku Yusuf Qhardawi bahwa Sofyan yang mengirim 17 peserta pelatihan Teroris ke Jakarta.  Menurut Sofyan justru Tengku Yusuflah yang melakukannya.  Sofyan malah balik menuduh Tengku Yusuf adalah Intel  dari BAIS-TNI.

Pada saat itu juga Sofyan membantah semua tuduhan FPI dan mengancam akan mempolisikan FPI. Sayangnya  hal itu tidak dilakukan juga. Padahal tuduhannya sudah ada sejak tahun 2010.  Sampai dengan kemarin berarti sudah 3 kali Sofyan Tsauri mengancam akan mempolisikan FPI atas tuduhan diatas. Tahun 2010, tahun 2016 dan 2 hari yang lalu. Sayangnya Sofyan Tsauri terkesan tidak serius mempolisikannya.

POLRI  SEMPAT MEMBANTAH SOFYAN TSAURI MANTAN ANGGOTA BRIMOB  TAPI MEMBENARKAN SOFYAN PERNAH MELATIH  TERSANGKA TERORIS DI MAKO BRIMOB

Dari 2 berita Tempo.co tanggal 9 Agustus 2010,  Juru Bicara Mabes Polri yaitu  Irjen Edward Aritonang membantah Sofyan Tsauri  adalah mantan anggota Brimob.

“Tapi dia bukan anggota Brimob melainkan anggota Sabara Polres Depok” kata Edward kepada Tempo di Jakarta. Pada tahun 2004 Sofyan dikirim ke Aceh paska pemulihan Tsunami Aceh. Di tanah rencong itu, Sofyan beristri gadis Aceh. “Pulang dari Aceh, ia tidak pernah masuk tugas” . Akhir tahun 2006 dia dipecat.

Selepas dipecat, tahun 2008, Sofyan ikut kelompok Oman Abdulrahman, tersangka bom Cimanggis, dan dibawa ikut pelatihan ke Aceh. “Mereka berencana berangkat ke Jalur Gaza sebagai sukarelawan jihad.” Namun batal. Mereka akhirnya membubarkan diri. Tahun 2009, Sofyan disebut terlibat transaksi jual-beli senjata ilegal di Kalimantan Timur dan jadi buronan polisi.

Jadi menurut Jubir Mabes Polri pada saat itu Sofyan Tsauri  sebelumnya bukan Anggota Brimob melainkan Anggota Sabara Polres Depok. Mungkin karena Polres Depok dan Mako Brimob Depok berdekatan lokasinya sehingga orang salah sangka.

Disisi lain mengenai tuduhan Munarman pengurus FPI bahwa Sofyan Tsauri  memberi pelatihan menembak pasukan teroris di Mako Brimob ternyata dibenarkan oleh Juru Bicara Mabes Polri.

Delapan tersangka teroris yang ditangkap di Aceh ternyata pernah mendapat pelatihan menembak di Markas Komando Brimob Kelapa Dua. Pelatihan itu bisa digelar karena peranan Sufyan Tsauri. “Mereka berlatih secara ilegal lewat seorang teman Sufyan di Brimob,” kata Juru Bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang kepada Tempo lewat sambungan telepon, Senin (9/8).

Sampai disini saya begitu terperangah. Ternyata Sofyan Tsauri  bukan orang sembarangan. Sebagai anggota Polri yang dipecat, ternyata dia masih bisa menyelundupkan 8 orang Pasukan Teroris ke Mako Brimob untuk berlatih menembak disana.

KESIMPULAN

Dari sekian banyak paparan diatas saya tidak ingin masuk pada suatu kesimpulan bahwa Sofyan Tsauri sebenarnya  itu Intel Polri yang menciptakan Teroris atau bukan. Bukan kapasitas saya untuk menilainya. Saya malah berharap Sofyan Tsauri  segera mempolisikan FPI agar semua masalahnya menjadi jelas.

Sebenarnya juga ada info lain di google tentang media investigasi yang dilakukan Wartawan ANTV  Ahmad Sumardjoko pada bulan September 2010.  Ahmad  pada tanggal 23 September 2010  pada saat meliput terkejut dengan minimnya pengawalan persidangan Sofyan Tsauri di PN Depok. Padahal sebelumnya Sofyan disebut sebagai Gembong Teroris Aceh dan terhubung dengan Peristiwa Perampokan Bank CIMB Medan.  Ahmad Sumardjoko akhirnya menemukan fakta Sofyan Tsauri punya toko Softgun dan berhasil mewawancarai  Suyono pegawai yang mengelola toko selama Sofyan di Penjara. Wartawan ANTV juga sempat mewawancari Istri Pertama Sofyan Astri dirumahnya yang Megah dan Asri di kawasan Depok. Dan seterusnya. Intinya investigasi Wartawan ANTV ini semakin memperkuat kontroversi sosok Sofyan Tsauri.

Yang saya harapkan sebenarnya Polri lebih proaktif dalam Isyu-isyu bahwa ada Intel Polri terlibat.   Tuduhan FPI terhadap Sofyan Tsauri itu juga sebenarnya menyangkut nama baik Polri. Jadi harus segera di-Clear-kan agar tidak menjadi bahan gunjingan masyarakat dan membuat mereka beropini yang liar.

Satu hal yang menjadi pertanyaan besar saya adalah Bagaimana sebenarnya keamanan Mako Brimob Depok selama ini. Pada sekitar tahun 2009 Sofyan Tsauri yang dipecat Polri malah bisa menyelundupkan 8 orang Teroris ke Mako Brimob untuk latihan menembak. Dan terakhir pada tanggal 9 Mei 2018,  Mako Brimob bisa dikuasai Napi Teroris sehingga 5 prajurit gugur.

Mengapa yang seperti ini bisa terjadi?

Sekian.

sumber :https://www.kompasiana.com/angrybird/5b02d1f5f1334453a8667222/kejanggalan-tragedi-mako-brimob-dan-tuduhan-konspirasi-intel-polri-oleh-fpi

(Visited 1.363 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account