Pemilu di India sudah pakai Electronic Voting Machine, kapan Indonesia?

Pemilu di India sudah pakai Electronic Voting Machine, kapan Indonesia?

Pemilu di India sudah pakai Electronic Voting Machine, kapan Indonesia?

Senin 22 April 2019, oleh : Dahlan Iskan_

_Adakah pemilih yang merasa salah coblos di TPS? Lalu minta kartu suara yang baru?_

_Saya belum pernah menemukan yang seperti itu. Pun kalau kelak tidak pakai kartu selebar koran lagi. Diganti dengan kartu elektronik._

_Yang mesin coblosnya tidak mengenal pilihan ‘cancel’ di layarnya. Begitulah yang dipakai di India. Di Pemilu sekarang ini. Sampai pemilih yang merasa salah pencet pun memotong ujung jarinya. Yang ada tintanya (DI’s Way: Tinta di Jari)._

_India sendiri tidak ujug-ujug begitu saja pakai coblosan elektronik. Ujicobanya sudah panjang. Sejak lebih 30 tahun lalu. Secara bertahap. Berjenjang pula._
_Mula-mula hanya untuk pilkada. Itu pun hanya di beberapa kota kecil._

_*Isu paling utama tentu kepercayaan. Apakah mesin elektronik itu bisa dipercaya.*_
_Maka untuk memperoleh kepercayaan itu di satu pilkada dilakukan paralel: pakai mesin dan pakai kertas. Yang diakui secara hukum adalah yang kertas._

_Dari situ lantas dilihat: apakah hasilnya berbeda._
_Ternyata tidak. Hasilnya benar-benar sama. Orang mulai agak percaya pada mesin itu._

_Isu krusial berikutnya adalah: apakah tidak ada kecurangan. Misalnya: penyelenggara pemilunya memihak incumbent. Bagaimana kalau itu terjadi?_
_Perancang mesinnya sebenarnya sudah menjamin. Data yang masuk ke mesin itu tidak bisa diubah oleh siapa pun. Pun oleh pembuat mesinnya._

_Jangankan data yang masuk. Programnya pun dibuat permanen. Begitu program itu diinstall langsung tergores di silicon. Tidak ada yang bisa menghapus atau mengubah. Program itu tergores permanen di saat mesin itu di produksi._

_Tapi, siapa percaya?_
_Kan manusia penuh curiga?_
_Bukankah ayat khusnudzon tidak berlaku di setiap pemilu?_
_Tidak masalah. Akan dijawab dengan bukti._

Baca juga:  Dia akan mati ditawur oleh rakyatnya sendiri

_Maka uji coba yang lain pun dilakukan. Di beberapa distrik. Saat pilkada. Carannya: mesin itu dilengkapi printer. Untuk mencetak semacam ‘kwitansi’. Setiap pemilih diharuskan mencetak pilihannya. Print-out itu dilihat oleh si pemilih. Cocok atau tidak. Dengan tombol yang dipencetnya tadi._

_Berulang kali ujicoba jenis ini dilakukan. Hasilnya memuaskan._
_Setiap pemilu selalu dilakukan ujicoba. Untuk menjawab seluruh keraguan para politisi. Enaknya ujicoba itu bisa dilakukan sering kali. Di banyak daerah. Di India begitu banyak pemilu. Atau pileg. Ada pileg lima tahunan. Ada pileg sela. Kalau ada anggota DPR atau DPRD yang mati harus ada pileg di distriknya. Untuk menggantikannya._

_Uji coba itu dilakukan lebih dari 100 kali. Di begitu banyak daerah. Hasilnya selalu memuaskan. Mengapa?_

_Karena: justru programnya simpel. Hanya untuk pemilu. Tidak bisa digunakan lainnya. Tidak seperti komputer pada umumnya. Yang bisa diapakan saja._
_Setelah dipercaya, diproseslah legalitasnya. Lewat pengadilan tinggi. Di setiap negara bagian. Ada yang cepat menyetujuinya. Ada yang bertahun-tahun._

_Penggunaan Electronic Voting Machine (EVM) ini akhirnya meluas. Semua pengadilan tinggi akhirnya menyetujuinya._
_Barulah Mahkamah Agung membuat putusan: boleh dilakukan secara nasional. Di Pemilu tahun 2019 ini. Yang waktu pencoblosannya 36 hari. Mulai 28 April lalu. Baru akan berakhir 19 Mei yang akan datang._

_Perancang EVM ini seorang insinyur mesin. Namanya: MB Haneefa. Sudah lama sekali. Tahun 1980 lalu._
_Mula-mula diproduksi oleh Barat Electronic Limited. Di BUMN India ini pernah bekerja seorang insinyur yang juga seniman terkemuka: Sujatha Rangarajan. Ia menulis lebih 100 novel. Sutradara film. Menerbitkan buku puisinya. Tapi juga menulis lebih 10 buku teknologi._

Baca juga:  Penyembuhan penyakit melalui teknik TACMI : Terima, Akui, Cintai, Maáfkan, Ikhlaskan)

_Sujatha inilah yang mensupervisi temuan MB Haneefa tadi. Dan akhirnya merekomendasikannya. Publik sangat percaya pada sosok seniman Tamil ini. Tapi ia sendiri sudah meninggal 10 tahun lalu. Di usia 72 tahun. Untunglah sempat menyaksikan banyak ujicobanya. Meski ketika diterapkan secara nasional ia sudah tiada._

_Kini Electronics Corporation of India Limited juga memproduksinya._
_Beberapa negara Afrika pun sudah menggunakannya. Bahkan Namibia-lah yang pertama yang memakai EVM. Ketika di India sendiri masih baru beberapa negara bagian yang mempercayainya._

_Kini sudah banyak negara Afrika yang membeli. Sudah terjamin keamanan, kehandalan dan kepercayaannya._

_Unit EVM prinsipnya ada dua: keyboard untuk memilih dan prosesor. Dua unit ini dipisahkan dengan kabel sepanjang lima meter. Ada baterai untuk penggunaan di daerah yang tidak ada listrik. Atau listriknya byar-pet._

_Pertanyaan terbanyak dari luar negeri adalah: berapa harganya._
_Jangan kaget: satu unit mesin ini hanya sekitar Rp 2 juta. Tepatnya USD 170. Harga di India._

_Di India EVM ini bisa menghemat 10.000 ton kertas. Setiap pemilu. Belum lagi ongkos distribusinya._

_Masih tidak percaya pakai mesin?_
_Masih percaya kertas? Masih lebih percaya pakai kartu selebar koran itu? Yang kini formulir C1-nya pun menjadi seperti harta karun? Yang harus diselamatkan, dijaga, dikawal, dan dirumat itu?_

_Formulir C1 sekarang ini sudah seperti berhala. Yang akan jadi penentu siapa yang sebenarnya menang di Pilpres Indonesia 2019 ini._

_Mesin yang akan menghabisinya C1 itu nantinya._
_Mesin -bukan undang-undang dan kitab suci- yang akan membuat manusia terpaksa bisa jujur, ketika manusia sudah sulit diajak jujur.(Dahlan Iskan)_

http://_https://www.disway.id/r/428/evm-via-novelis_

_@@@_

(Visited 85 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account