Jokowi versus Emak-emak

Frasa emak-emak baru dikenal sejak beberapa tahun terakhir ini. Saat itu viral emak-emak berkendara motor dengan sen kekiri yang belok kekanan. Lantas saja, istilah emak-emak melambung tinggi melebihi harga-harga terutama cabe yang pada akhirnya harus nanem sendiri.

Emak-emak beda dengan emak saja. Emak-emak juga bukan merupakan kata jamak dari emak. Sebab emak yang naik motor itu juga ga rame-rame. Sendirian…

Emak-emak lebih dari sekedar kata-kata. Ia adalah sebuah kekuatan, superioritas, poweritas dan hororitas. Selain itu emak-emak bermakna ngalahitas (membuat orang harus mengalah), keceleitas (membuat kecele) dan terpukauitas (membuat terpukauwauwau)…

Frasa emak-emak tak jarang diikuti dengan kalimat “Kelar hidup lo…”. Liat aja beberapa meme soal emak-emak. “Kalo emak-emak udah dijalan, kelar hidup lo…” atau “Jangan remehkan emak-emak berdaster, kalo udah dandan kelar hidup lo…”

Beruntung, ternyata emak-emak sekarang sudah menemukan “musuh” yang sepadan, Istana negara… Hahahahahahahahahaha…  😎

Ternyata setakut-takutnya tupai melompat, eh maksudnya emak-emak dijalan, lebih ditakuti lagi emak-emak yang berteriak-teriak kearah Istana. Itu ternyata Jokowipun bergeming…

Baca juga:  Hairul Anas Beberkan Pelatihan Saksi TKN 01 Ciderai Demokrasi

Bayangkan, Emak-emak saja sudah menakutkan begitu, bagaimana jika ditambah kata “Militan” dibelakangnya jadi Emak-emak Militan? Luar biasa superioritas, poweritas, hororitas, ngalahitas, kecelehitas dan membuat terpukauitas…

Maka jangan heran, sudah cukup banyak emak-emak yang dianggap cukup “pantas” untuk dibungkam. Mereka, adalah kekuatan yang sekarang bukan hanya membuat bingung dijalan-jalan, tapi juga bingung penguasa.

Buktinya, cukup dengan satu kalimat, “Isu ini pengalihan”, 2 emak-emak rontok. Iyesss   😉 *TepokTanganCeria*. Perkataan emak-emak ini mungkin lebih bahaya dari pada seorang petugas partai PDIP atau seorang Dosen suami dari Rieke Diah Pitaloka yang juga pernah berkata hal yang sama.

Pertimbangan penguasa dan kita mungkin sama, ‘teror’ emak-emak ini lebih bahaya dari pada sekedar lampu sain motor yang salah berkedip. Atau makiannya yang akhirnya membuat Polisi menyerah dari tilang yang harusnya dilakukan. Itulah emak-emak…

Jokowi versus emak-emak, keliatan jadi sebuah pertandingan yang seimbang. Sebab dunia per-aksian telah lama bungkam, sunyi tak berbunyi. Tenggelam dalam suara berisik para buzzer yang tak pernah mati. Dan lumpuh, hampir tiada arti… #Ecieee

Emak-emak cukup memberikan perlawanan bagus tanpa kenal lelah. Ibu Asma Dewi contohnya, berhasil menggoyang dengan kata-kata endun dan koplak yang akhirnya “tumbang” dengan vonis 5 bulan penjara. Kata-kata yang sudah menjadi keseharian warganet itu menjadi masalah bagi emak-emak. Luar biasa…

Baca juga:  Pers Rilis Presidium #2019GantiPresiden Tentang Penghadangan di Bandara HANG NADIM Batam

Belakangan ada juga emak-emak dosen USU (Universitas Sumatera Utara) dengan kasus ujaran kebencian. Kata-kata yang sama pernah dilontarkan pengamat, politikus, dosen suami Rieke Diah. Tapi itulah, emak-emak memang lebih istimewa.

Maka Jokowi versus Emak-emak udah cukup dianggap lawan sepadan ketimbang kita-kita yang terlalu takut untuk dapetin predikat, “Kelar hidup lo…”

 

 

 

 

 

 

 

(DU/Jerami)

(Visited 286 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account