Insiden Sembako yang menginjak-injak dada kita semua

Insiden Sembako yang menginjak-injak dada kita semua

Insiden Sembako yang menginjak-injak dada kita semua

by: Joni A Koto
GMB-SA-ITB AR’93

Ada dua tiga poin yang bisa ditangkap dari insiden sembako kemarin, ini refleksi situasi ekonomi real, segregasi kelas sosial yang masih buruk dan cara kerja politik yang malah selalu menjadikannya senjata dan sepertinya akan tetap ingin kemiskinan itu dipelihara sebagai fuelstock, walau itu ada di belakang tembok rumahnya sendiri.

Membagi2 sembako di pusat kota, di ruang terbuka luas semi sakral bagi bangsa ini adalah tontonan super widescreen 360derajat bagi semua orang, seolah etalase raksasa yg disengaja dimana orang asing atau pihak luar jg ikut menonton itu dengan mudah, bagaimana ribuan dari kita saling injak, teriak parau, terjepit hanya ingin dapatkan makanan yang tak sampai 1 dollar..

Ini visualisasi mengerikan karena di sekeliling lapangan ini berpagarkan istana megah, gedung2 pemerintahan, bumn dan swasta kakap, tak jauh di jalan Kebonsirih dan sekitarnya mobil bentey, porsche, alphard bisa lewat dengan nyaman.. Ini bagi mata mereka sudah mirip filem2 tentang roh2 gentayangan meraung2 kesusahan, tapi tidak dipedulikan oleh orang ‘hidup’ sekelilingnya karena sudah beda alam..

Kalau analisa kita tak awas bahwa peristiwa itu di monas, di sentral, kita tentu akan cuek bukan hal aneh padahal ini adalah aksi spektakuler tontonan kemiskinan negri ini tanpa segan2. Ratusan ribu paket yg dibagikan, nilai yang tak kecil untuk permalukan sebuah bangsa by design or not dengan alibi charity atau sharing pastinya.. aksi kolosal ini diakhiri dengan ending dramatis ada korban tewas dan taburan sampah menggila..

Kita melihat tontonan kesenjangan kelas warganegara, mereka banyak yang berjalankaki, ramai sekali tak putus2 menyusuri gang, trotoar, depan mal, gedung2 mewah dan taman kota dengan baju basah kuyup oleh keringat penderitaan. Inilah kualitas prakarya kita membuat atau membiarkan segregasi kelas ekonomi berlanjut ke sosial masih berjalan bahkan tambah serius dengan rajin mencabut barikade hidup terakhir kelas bawah berupa subsidi2 primer..

Sementara data ambang kemiskinan disetel makin ke bawah, alhasil diatas kertas seolah negara tiba2 sukses menaikkan kesejahteraan rakyat dan itu tentu bisa jadi portfolio investasi atau minta hutang lagi dan lagi ke luar, makin rendah jumlah ‘angka’ kemiskinan itu akan makin wah hutangnya, rakyat mampu bayar pokoknya…

Ini ibarat goreng dan bungkus saham stink-rusty company di lantai bursa! Ini tricky dirty job ala mafia saham.. Performance dikatrol edan2an walau nyawa perusahaan taruhannya.. lalu belanja investasi yg didapat bukanlah untuk genjot produksi, menaikkan kualitas employee, inovasi dll tapi untuk bangun gedung kantor yg lbh mentereng, paving jalan dan jembatan antar building dgn marmer mahal, parkir dan drop off supermewah padahal tamunya tak ada…pokoknya semua yang tak penting deh, yg jelas bs langsung jadi bohir proyek2 mahal, sebodo bahwa semuanya tak ada yang produktif dan cicilan hutang makin bengkak ibarat gajah hamil tua anak kembar..

Baca juga:  Surat Keterangan Sakit untuk Ibu

Resiko ini semua sudah dihitung tentunya, orang culas tentu tak bodoh, once collaps pailit jajaran elit bolehlah kabur… Toh investornya unlimited source ini, paling sita semua aset dan lahan bersama, karyawan dan buruh tinggal nyengir bubar.. Gaya konsumtif ini sudah lama merembet ke level bawah, nyali ngutang atau kredit rakyat kecil dibuat luar biasa ganas dan ini kembali jadi ukuran vital kesuksesan ekonomi dan jadi porfolio ke rente global lagi tentunya.. Di mata begawan ekonomi global, negara gagal bayar inilah tujuan utamanya.. maincourse yg ditunggu2 ya ini…

Angka Kemiskinan adalah jendela dan alaram sosial, level hidup layak manusia mulai dari bayi netek sampai nenek tua adalah portal in-out nya, Nilai portal ini tak bisa dipermainkan karena terkait kehidupan dasar mereka, susu si bayi, beras dan obat encok si nenek. Ahli ekonomi yg masih punya hati sudah protes keras kenapa ambang ini berani2nya dipermainkan, kenapa dgn belasan ribu per hari sudah dicap sejahtera?, ini angka biadab, hitung saja sendiri… Patokan mrk adalah jumlah asupan kalori sehari seolah manusia itu keledai beban yg hanya dimanfaatkan tenaga kasarnya..

Bagi para ahli cuap2 kemiskinan adalah perkara systemic, harus diberantas by system pula, berbagai metode dan solusi ditawarkan, individual atau simultan, jaring pengaman hrs diperkuat, dan jaring paling ampuh adalah tambahan ketersediaan lapangan kerja sesuai laju tambahan penduduk.. Theory for dummy-nya, kasih kail lebih baik dari ikan, soal umpan dan kolam pemancingan tak akan ada itu soal lain lagi, itu bukan urusan yg kasih ide…

Kail tidak sedang diusahakan, dalam kerangka ibarat sementara ikan import tetap dibiarkan masuk tanpa kontrol, bumbu ikan, garam dan beras teman lauk juga diimport dgn kurva kenaikan dramatis, harganya makin mahal tapi secara relatif tetap murah dari yang lokal… Ini lelucon yang kurangajar untuk yang katanya harus diberi kail tadi..

Lapangan kerja makin sulit, proyek pure turnkey yg beberapa dekade adalah pantangan sudah jadi kecanduan untuk dilanggar, ibarat berbuat mesum sebagai kebanggaan, mungkin krn ada yg bekingin.

Baca juga:  Mengembalikan Kejayaan Indonesia (Make Indonesia Great Again)

Semua teriak banjir TKA yang skillnya hanya sedikit maaf diatas tukang sapu atau kupas2 bawang.. Yg pegang kewenangan terlihat tak ada yang peduli bahkan jumlah TKI di luar dijadikan model alibi, pokoknya sdh paling lihai lah kalau cari2 alasan selain solusi atau sekedar cari jalan tengah kompromistis.. Ini anomali performance by input ratio, padahal asupan kalori dan protein untuk otak mereka ini jauh sekali dari cukup, entah untuk apalah itu dipakai… Seolah pemain yg dibayar untuk menjadi kalah, ketika score makin ketahuan harus makin sibuk ngeles..

Tahun2 politik sudah di depan hidung, praktek bagi2 sembako akan makin marak kalau tak terhambat, kemiskinan yg dipelihara ataupun tidak itu akan kembali jadi senjata ampuh memompa elektabilitas real mrk yang makin impoten, apalagi lembaga2 survey sudah macam jablai saja kerjanya, obral obat kuat sana sini, sdh tak ada yg percaya.. Sosmed juga sudah ibarat macan ganas bagi calon2 baru dan inkumben grade busuk karena tak ada yg bisa ditutup2i lagi, baik cacat karakter atau kegagalan penuhi janji2..

Kalau insiden kemarin itu lolos, legitimasi untuk terus bagi2 beras kucel, wajik dan setengah liter minyak kemarin seolah sudah didapat dengan stempel dua korban di jantung republik..

Praktek bagi2 sembako untuk politik atau kepentingan2 adalah malpraktek yang serius dari kacamata demokrasi, ini juga permaluan serius ke wajah bangsa, kita bukan anti orang tak mampu tapi mereka bukanlah komoditas politik, bukan juga alas untuk berhutang lalu dipelihara untuk dikadalin terus menerus… Jangan injak2 lagi dada kita dengan aksi2 bertopeng charity tapi aslinya barbar dan tak berperasaan seperti ini..

Sudah!
(3Mei’18)

(Visited 74 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account