Manipulasi QC, mungkinkah?

Manipulasi QC, mungkinkah?

Manipulasi QC, mungkinkah?

Copas dari dinding FB Bapak Canny Watae
Founder, Director di PT. Prisma Tutoma Komunika

Sekarang saya tunjukkan bahwa Hitung-cepat (Quick Count, QC) yang dilakukan Indikator Politik Indonesia (IPI) mengalami manipulasi. QC mana ditayangkan Metro TV dan menjadi acuan deklarasi kemenangan Jokowi-JK. Sekaligus saya bahas foto sujud syukur Prabowo yang kerap dijadikan meme olok-olok.

Hitung-cepat apabila dilakukan secara sebenar-benarnya akan membawa kita kepada gambaran hasil (real count, hitungan nyata) yang tepat. Gambaran hasil berarti bahwa hitungan nyata akan jatuh pada ruang yang digambarkan QC. Misalnya, QC menggambarkan perolehan suara Calon A adalah 55% plus minus 2%. Itu berarti, hasil hitungan nyata si A nanti akan berada dari 55 kurang 2 sampai 55 tambah 2. Secara sederhana kita tulis: dari 53 sampai 57 persen. Apabila si A meraih 53,1%, atau ia meraih 56,9%, itu berarti SESUAI hasil QC. Apabila si A meraih 54%, 55%, 56%, itu juga SESUAI. Meraih 53 atau 57% pun SESUAI. Plus minus 2% itu disebut margin-of-error disingkat MoE. Ruang dari 53 sampai 57% yang tersedia dari adanya MoE 2% itu adalah ruang toleransi.

Sebaliknya, apabila si A ternyata meraih 52,99% konsekuensi ilmiah bagi QC-nya adalah kejam. Tidak ada ampun, QC itu secara ilmiah TIDAK sesuai. Alias: SALAH hitung. Demikian juga, apabila si A ternyata meraih 57,01%, maka QC yang memberi gambaran hasil 55 plus-minus 2% adalah QC yang SALAH. Bahasa survey-nya sih cukup sopan: DI LUAR RUANG TOLERANSI.

Dengan konsekuensi ilmiah yang “sekejam” itu, sepanjang dilakukan secara sebenar-benarnya, QC akan memberi gambaran hasil hitung nyata yang SESUAI. Sejalan dengan itu, apabila suatu QC terlihat secara ilmiah mengalami manipulasi, DAN ternyata hitungan nyata berada dalam gambaran yang diberikan QC tersebut, maka tercipta suatu situasi di mana hasil hitungan nyata-nya belum tentu benar. QC yang mengalami manipulasi berarti memberi gambaran “baru” yang belum tentu sama hasilnya apabila QC tersebut tidak dimanipulasi. Dalam kaca mata ilmiah, sebuah kesimpulan baru dapat benar-benar dibenarkan, apabila semua faktor yang memungkinkannya salah telah dinihilkan. Di sisi lain, QC yang mengalami manipulasi, sesedikit apa pun berarti tidak ilmiah. Konsekuensi adalah: tidak dapat lagi dikatakan sebagai sebuah QC. Ia telah berpindah habitat ke alam propaganda.

Tidak ada hal magis dan mistis dalam QC. Semuanya murni matematika. Matematika yang rumit terlibat dalam tahap pra-coblos. Pada tahap pasca-coblos, yaitu tahap penghitungan sampel suara, matematika yang digunakan adalah matematika sederhana yang dapat dipahami siswa tingkat SMP. Siswa SD dengan kemampuan di atas rata-rata, pada kelas 6 SD saya rasa sudah sanggup memahami.
Penyelenggara QC memetakan bakal sampel kotak suara (jumlahnya berapa dari daerah sana – berapa dari daerah sini) itu menggunakan riset data kependudukan lalu memadukannya dengan pembagian daerah pemilihan sebagaimana ketetapan KPU. Ini dilakukan pada tahap pra-coblos. Di sinilah matematika yang rumit itu digunakan. Mana kala bakal sampel telah terpetakan, tinggal menunggu hari pencoblosan. Selanjutnya, data hasil suara akan mengalir ke pusat tabulasi si Penyelenggara. Menghitungnya menggunakan matematika sederhana.

Ketika surat suara terakhir, dari ratusan juta surat suara, dicoblos, lalu dimasukkan ke dalam kotak suara, ketika itu pula HASIL Pilpres telah ada. Itulah hasil asli se-asli-aslinya asli. Hasil telah ADA, tetapi BELUM DIKETAHUI si A dapat berapa, si B dapat berapa. Untuk mengetahuinya, SELURUH kertas suara harus diperiksa, dilihat memilih siapa. Pilih si A atau si B. Atau tidak memilih sama sekali, atau surat suara terkategori batal karena sobek, coblosan melewati batas yang ditentukan, tidak mencoblos pada ruang yang disediakan, dan lain-lain. Dengan cara ilmiah QC, di mana sejumlah kotak suara telah dipetakan sebagai SAMPEL, penghitungan suara dapat dilakukan dengan cepat karena kotak suara yang akan dihitung jumlahnya SANGAT sedikit dibanding KESELURUHAN kotak suara yang ada.

Hasil hitungan cepat itu nanti akan menggambarkan akan bagaimana nanti persentase perolehan suara si A dan si B. Tepatnya: akan berada pada rentang angka berapa.
QC tidak akan merubah hasil asli se-asli-aslinya asli yang SUDAH ada di kotak suara. Sama sekali tidak.
Saat data memasuki pusat tabulasi Penyelenggara, perolehan suara dihitung, sekali lagi, dengan cara sederhana. Pada saat data-masuk pertama kali semisal si A dapat 6 suara dan si B dapat 4 suara, maka perolehan suara aakan digambarkan sebagai berikut:

Baca juga:  Card Reader bisa jadi penyelamat Demokrasi

A = 60%
B = 40%

Data-masuk “kloter” pertama ini, sebagai contoh adalah dari 1 kotak suara dari total 100 kotak suara yang dijadikan sampel. Kita sebut 1% data.

Jadi, dengan data-masuk sebanyak 1% dari keseluruhan kotak suara yang dijadikan sampel, komposisi suara adalah A dapat 60%, B dapat 40%.

Lalu, masuk kotak suara kedua. Berarti data-masuk menjadi 2%. Isi kotak kedua ini, si A dapat 8 suara dan si B dapat 7 suara, maka, hitungnya begini:

Perolehan si A menjadi: 6 suara + 8 suara = 14 suara.
Perolehan si B menjadi: 4 suara + 7 suara = 11 suara.
Ada pun total suara yang sudah masuk adalah 14 + 11 suara, sama dengan 25 suara.
Persentase yang diperoleh A menjadi: 14/25 persen. Pake kalkulator, dapat: 56%.
Persentase yang diperoleh B menjadi: 11/25 persen. Pake kalkulator, dapat: 44%.

Secara sederhana dikatakan: dengan 2% data-masuk, komposisi suara adalah A dapat 56% dan B dapat 44%.

Demikian seterusnya sampai data-masuk tuntas 100% hingga kotak suara sampel yang terakhir, yaitu kotak ke-100.
—–
*Catatan: saya men-download data QC IPI dari situs mereka pasca penghitungan suara tahun 2014 itu, juga mengambil foto tayangan layar Metro TV. Data tersebut VALID, dan VALID menunjukkan adanya manipulasi. Karena platform Facebook tidak memungkinkan narasi tulisan disisipi gambar, maka data dari IPI dan Metro TV akan saya pasang pada bagian komentar. Untuk pembaca sekalian, jika ingin berkomentar harap menunggu kira-kira 10 menit, karena saya akan menggunakan bagian2 awal kolom komentar sebagai sajian data. Komen yang kepalang masuk disela-sela sajian data, sedapat mungkin akan saya “pindah”kan ke bawah dengan cara copy-delete. Harap maklum*
—-

Mari kita lihat QC IPI/Metro TV.

IPI menetapkan 2000 TPS sebagai sampel. Dengan demikian, 1% data-masuk adalah sejumlah 20 TPS.
Dengan data-masuk 1% atau dari 20 TPS. Komposisi suara Prabowo 39,16%, Jokowi 60,84%.

Datang data dari 20 TPS lagi. Artinya, data-masuk menjadi 2%. Atau total dari 40 TPS. Kondisi berbalik. Prabowo menjadi 63,99%, Jokowi 36,01%.

Datang lagi data dari 20 TPS berikutnya. Data-masuk menjadi 3% atau total dari 60 TPS. Prabowo 64,18%, Jokowi 35,82%.
Segala sesuatunya berjalan NORMAL sampai pada data-masuk 17%. Hingga data-masuk sebanyak 17% ini atau dari 340 TPS-sampel, Prabowo meraih 58,08% sedangkan Jokowi 41,92%.

Secara Statistik, KECENDERUNGAN atau TREND suara sudah terlihat. Sejak menyalip perolehan suara Jokowi pada data-masuk 2% hingga data masuk 17%, perolehan suara Prabowo berada jauh di depan (leading) terhadap perolehan suara Jokowi. TREND sudah terlihat, bahwa ujung akhir pada TPS ke-2000 nanti atau ketika data-masuk mencapai 100%, perolehan suara Prabowo akan berada di atas jumlah yang diperoleh Jokowi. Ini adalah metode Quick Count. Konsekuensi ilmiahnya adalah TREND bisa dilihat dengan mudah di DEPAN. Apa yang terjadi kemudian?

TERJADI Hal yang TIDAK MUNGKIN secara matematis.
Datang data dari 20 TPS berikutnya. Data-masuk menjadi 18% atau dari total 360 TPS. Suara Prabowo menjadi 54,06% dan suara Jokowi 45,94%. Antara data-masuk 17% ke data-masuk 18%, atau data-masuk dari 340 TPS ke data-masuk dari 360 TPS, perolehan suara Prabowo turun sebanyak 4,02%. Sebaliknya suara Jokowi naik 4,02%. Ini TIDAK MUNGKIN secara matematis.

Mari kita hitung. Naik turunnya persentase perolehan suara ditentukan oleh data yang masuk, bukan? Setiap data yang masuk akan dipilah, mana yang memilih Prabowo dan mana yang memilih Jokowi. Dalam kondisi “ekstrim”, paling ekstrim, data-masuk hasilnya semua memilih Prabowo, atau sebaliknya: semua memilih Jokowi. Dalam posisi data-masuk dari 17 ke 18%, atau pertambahan 1% data suara, kalau
toh semua memilih Jokowi, maka dapat dihitung seberapa dalam suara Prabowo jatuh dan seberapa tinggi suara Jokowi naik. Mudah sekali.

Dengan perolehan suara sudah mencapai 58,08%, maka ketika data berikutnya masuk, dan kondisinya sangat ekstrim di mana semua suara adalah untuk Jokowi, maka penurunan maksimum suara Prabowo adalah 58,08% dibagi besaran persentase data-masuk berikutnya, yaitu 18%. Ambil kalkulator, maksimum penurunan yang paling mungkin adalah 58% dibagi 18%, sama dengan 3,2266%. Kalau dibulatkan dengan 2 angka di belakang koma, menjadi 3,23%.
Sebaliknya, kenaikan suara Jokowi (maksimal yang paling mungkin) pada titik itu adalah 3,23% juga.

Baca juga:  Analisis Sosiologis : Prabowo - Sandi akan memenangi Pemilu Presiden 2019

Yang terjadi adalah penurunan suara Prabowo hingga 4,02% (!).

Ini, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa pragmatis: udah semua data-masuk dipaksa jadi pemilih Jokowi semua (3,23%), eh, “nyuri” suara Prabowo pula 0,79% (hitung 4,02% – 3,23%). Mencurinya bukan untuk dibuang, tapi dikonversi jadi suara Jokowi. Sangat-sangat kasar, secara ilmiah, gitu lho.

Itu sudah jelas menunjukkan QC IPI salah secara matematis. Itu bahasa sopan saya. Vulgarnya: IPI melakukan manipulasi penghitungan. Ya. Matematika dipake menipu, BISA. Tapi, anda tidak bisa menipu MATEMATIKA itu sendiri. Ilmuwan tidak akan tenang hidup melihat produk manipulatifnya digunakan tanpa diralat. Itu bukan ilmuwan sejati. Saya berharap orang-orang di IPI (Burhanudin Muhtadi, dkk) adalah ilmuwan sejati.

Saya lampirkan foto layar Metro TV yang memanfaatkan QC IPI sebagai rujukan (anda bisa lihat pada bagian komentar). Posisi perolehan suara Prabowo pada data-masuk 18% angkanya adalah 54,08%. Sementara pada basis data IPI (saya lampirkan juga) posisi suara Prabowo adalah 54,06%. Sebuah sumber data yang sama tapi angkanya berbeda. Sekilas beda tipis banget. Tapi, mohon maaf, kaca mata ilmiah tetap mendefinisikannya sebagai perbedaan. Nggak pake nawar, lho, ya dunia ilmiah itu.

Saya mau sisipkan imajinasi nakal nih ya… Saya membayangkan tampilan angka di layar TV itu diubah-paksa (forced-change) dengan “buru-buru” mengganti angka satuan “8” pada 58,08 menjadi angka satuan “4”, sehingga tampilan di layar terkoreksi menjadi 54,08% persis ketika data-masuk 18% ditampilkan. Kalau angka 54,08% tampil by computer-generated (dalam artian tampil otomatis menggunakan software) saya jamin TIDAK MUNGKIN. Karena tidak mungkin secara matematis. IMPOSSIBLE.

Apalagi, saya kira banyak sekali saksi hidup, siaran Quick Count Metro TV tiba-tiba loooooooooong break. Lebih 15 menit menghilang, lalu muncul dengan data-masuk sudah lebih dari 20% dengan keunggulan berbalik: Jokowi lebih banyak suaranya. Ha ha ha… Saya membayangkan, di belakang, setelah acara selesai, “ilmuwan statistik” harus melakukan serangkaian tindakan “operasi kosmetik” agar sajian pada basis data “pas” dengan hasil yang telah ditampilkan di layar TV. Sayangnya, TREND suara sudah kepalang terbentuk dan sudah mantap karena selisih suara yang sangat jauh (16% selisih, pada data-masuk yang sudah banyak pula), sehingga tindakan operasi menyisakan “bekas jahitan” yang kasat mata. Urusan hasil nyata di lapangan? Maaf, imajinasi liar saya lari ke “alat sedot data” hehehehe… Tentu, dikombinasi dengan “aksi lapangan”.

So? Saya berpegang pada pandangan ilmiah. Prabowo diledek sujud syukur setelah QC di TV One. Kalau toh QC di TV One salah, bisa jadi minim di persiapan pra-coblos. Salah dalam menentukan sampel. Salah penggambaran hasil. Menggambarkan hasil bahwa Prabowo kalah? BELUM TENTU. Bisa jadi QC itu memproyeksi Prabowo menang 53% plus-minus 2%. Padahal, suara di kotak-kotak suara sesaat sebelum dihitung Prabowo menang pada angka 50,5%. Ya, jelas QC itu salah secara matematis. Tapi karena batas kemenangan ada pada angka 50% plus satu suara, maka walau QC itu salah Prabowo tetap menang. Yang saya ingat, tim Prabowo di TV One kalah mental menghadapi politisi Akbar Faizal yang tampil dalam tim Jokowi di sana. Di tengah acara yang menampilkan kemenangan Prabowo, Akbar sambil mengamati layar HP di tangannya tiba-tiba menyela. Kurang lebih, saya tak ingat pasti,
Akbar bilang: eh, tunggu dulu. Kami menang. Ah, saya ingat juga, berselang waktu kemudian Akbar bersuara tentang “alat sedot data KPU”. Jejak digitalnya ada. Bisa ditelusur dengan Google.

Secara Hukum, Joko Widodo adalah presiden hasil Pilpres 2014. Itu secara hukum. Saya sebagai Warga Negara patuh pada keputusan hukum tersebut. Secara ilmiah, saya menyimpan baik-baik pertanyaan besar: bagaimana mungkin hasil hitungan nyata bisa persis berada pada ruang toleransi sebuah hitung-cepat yang cacat matematis? Setengah jawaban saya sudah punya: itu adalah KEBETULAN belaka. Setengahnya lagi, saya biarkan waktu yang akan menjawabnya. Apakah suasana haru dengan isak tangis bahagia di rumah Megawati Soekarnoputri yang terjadi karena merujuk QC IPI / Metro TV adalah suasana haru yang didorong oleh murni kebenaran? Atau, mungkin, Megawati dibohongi? Mungkin. Biarlah waktu yang menjawabnya.

(Visited 113 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account