Kata siapa sih berhenti merokok itu susah?

Kata siapa sih berhenti merokok itu susah?

Kata siapa sih berhenti merokok itu susah?

*Berhenti Merokok

Kata siapa sih berhenti merokok itu susah? Tidak. Di dunia ini jutaan perokok berhenti total, dan mereka berhasil melakukannya. Akan saya tuliskan tips berhenti merokok:

1. Pikirkanlah, apa sih manfaatnya merokok? Kenapa sih kita merokok selama ini? Coba tanyakan ke diri sendiri, apa sih yang telah diberikan rokok kepada kita selama ini? Kesenangan? Kepuasan? Rasa tenang? Apa memang sungguh2 itu semua hanya dan HANYA bisa diberikan oleh rokok? Ayo, cobalah sekali saja, betul2 memikirkan soal ini, dengan legowo, hati lapang. Betul2 dipikirkan. Jangan sampai, kita ‘membela’ habis2an kebiasaan ini, seolah penting sekali, hingga lupa, sebenarnya kita baik-baik saja tanpa rokok. Masa’ kita dikendalikan oleh benda mati sekecil itu.

2. Ketagihan itu hanya bisa terjadi jika hati, otak dan fisik kita kompak. Bisa berhenti? Bisa. 100% berhenti. Ketagihan main game, ketagihan merokok, ini, itu, kalau kita sungguh mau berhenti, mau apa coba dia? Mulailah dari tekad yang kuat. Keinginan itu hanyalah keinginan. Fisik memang boleh jadi bereaksi atas keputusan bulat kita. Membuat tersiksa, membuat seperti orang gila, tapi sekali tekad kuat muncul. Saya mau berhenti. Jangankan mulut yang terasa asem, fisik yang sakau, bahkan besok alien menyerang sekalipun, dan itu alien memaksa sy merokok, sy tetap akan berhenti. Inilah “power” sesungguhnya milik manusia. Tekad yang kokoh tiada tara.

3. Mulailah cari kesibukan atau alternatif lainnya. Secara temporer saat seseorang memutuskan berhenti merokok, maka mendesak sekali dia punya aktivitas lain–karena tidak semua orang langsung punya tekad kokoh. Saat keinginan merokok kembali misalnya, ganti dengan minum air putih. Ganti dengan baca buku. Bikin teh. Makan mie rebus. Ambil cabe rawit, dimakan. Atau lebih keren lagi, segera jogging, main futsal, dan sejenisnya. Alihkan dengan aktivitas lainnya. Bahkan jika kita tidak tahu mau ngapain, tidur bisa jadi solusi. Jangan mudah kalah sama keinginan merokok tersebut.

Baca juga:  Jalan Tol IV: Kami Tidak Dapat Hanya Menunggu

4. Selalu teguhkan niat. SELALU teguhkan niat. Apakah terkena penyakit jantung, stroke, kanker membuat perokok kapok? Iya, rata2 begitu. Tapi jangan salah, buanyak yang tetap merokok lagi, lagi dan lagi. Kapoknya hanya sebentar. Lantas apa masalahnya? Tidakkah mereka bisa melihat merokok bikin sakit? Bukan itu masalahnya. Melainkan mereka lupa, ketagihan itu selalu bisa kambuh. Oleh karena itu SELALU teguhkan niat.

5. Tanamkan rasa tidak suka kepada rokok. Kenapa sih banyak remaja merokok? Karena mereka coba-coba. Kenapa mereka coba-coba merokok? Karena sejak kecil tidak ditanamkan rasa tidak suka tersebut. Jika sejak kecil sudah dididik untuk tidak merokok, diberitahu agar tidak suka, mereka akan tumbuh tanpa menyentuh rokok sama sekali. Nah, yang kadung dewasa, kadung merokok, tidak mudah menanamkan rasa tidak suka ini. Mereka justeru membela habis2an rokok, membela benda mati. Tapi sejatinya, di hati nurani paling dalam, mereka tahu dampak buruk rokok. Dari sanalah starting point mulai menumbuhkan rasa tidak suka tersebut.

6. Sekali katakan tidak. Maka TIDAK selamanya. Jangan terpancing ‘hanya sebatang’, kok. Sebatang juga merokok. Jika kumpul2 dengan teman, jangan terpancing ikutan merokok lagi. Bila perlu kalau memang tidak kuat sekali, pilihlah menghindar dulu. Habis makan2 bareng teman, jika yang lain merokok, bilang saya mau menunggu di luar, atau ijin pulang duluan. Tapi sejatinya jika kita sudah komit: TIDAK. Seharusnya itu cukup untuk jadi energi perlawanan, bahkan saat teman2 kita berubah jadi ‘setan’ semua, menyuruh merokok, tertawa-tawa memaksa.

Baca juga:  Kapan Indonesia harus melakukan Revolusi, jawabnya: Sekarang.

7. Pada akhirnya, mau betulan berhenti atau tidak. Semua dikembalikan ke kita. Mau berbusa orang lain, mau bertumbangan anak, istri, keluarga kita sakit gara2 kita merokok, jika kita tidak peduli, maka tetap saja merokok. Alasan, argumen, ngeles, itu semua muncul karena kita berhati lemah. Kita kalah oleh benda yang sebenarnya teronggok mati saja. Maka pilihannya dikembalikan ke kita, apakah kita selemah itu menghadapi rokok, atau memutuskan menjadi kuat.

Siapa yang paling diuntungkan saat kita berhenti merokok? Jawabannya sederhana sekali: diri kita sendiri. Sungguh, saya tahu, kalian bisa membantah tulisan ini dengan tapi, tapi, dsbgnya. Tapi bisakah kita tahan sebentar komen membantahnya. Mari dibaca sekali lagi tulisan ini. Diresapi. Semoga bermanfaat.

*Tere Liye

**repos catatan bertahun2 lalu. Sudah belasan tahun lebih Tere Liye itu menulis ttg rokok. Silahkan keduk postingan lama, kalian akan nemu banyak sekali tulisan2 yg semoga bermanfaat. 🙂

https://www.facebook.com/search/top/?q=tere%20liye%20berhenti%20merokok&epa=SEARCH_BOX

(Visited 13 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account