Cagub LaNyalla membangun dignity

Bulan lalu, jaringan teve kabel kembali memutar film Invictus di HBO. Film bertutur kisah Mandela, 1994, baru saja menduduki kursi presiden Afrika Selatan. Kecurigaan, dendam perbedaan ras masih membekas. Warganya mendesak membubarkan Klub Rugby Nasional Afrika Selatan. Alasannya, pemain kulit hitam satu doang di klub eksklusif itu. Bule mendominasi.

Sebagai presiden baru Mandela lapang dada membersihkan hati.

Pemain tak pernah mara ke daerah-daerah dimintanya turun ke kampung-kampung. Atlet rugby lalu berbaur bersama kanak-kanak desa. Bocah ndeso semula hanya mengenal satu sosok atlet berkulit hitam, kemudian berjibaku bersama seluruh pemain nasional. Aura gembira lalu mengalir ke mana-mana.

Dalam momen khusus, Mandela sengaja datang naik heli kopter ke tengah lapangan rugby. Ia memotivasi pemain melalui kapten. Mandela memberikan sebuah puisi. Beberapa adegan lain di film itu sangat memotivasi. Cukup setahun, ya, setahun saja, kemudian Afrika Selatan menjuarai kejuaraan dunia rugby, 1995.

Olahraga menyatukan negaranya. Spirit, dignity, menjadi-jadi.

Petang 10 November 2017 di pinggiran sebuah pemukiman di Gresik, Jawa Timur. La Nyalla Mahmud Mattalitti, Ketua Kadin Jatim, mengambil dua bola kaki masih kempes dari mobilnya. Ia meminta mencarikan pompa. Beberapa kanak di sekitarnya berlarian riang. Tak lama pompa angin datang. Bola bulat. Di bawah rindang batang Pisang, Nyalla mengajak anak-anak melingkar, saling sepak bola berputar-putar.

Nyalla berpolo shirt hijau bersandal jepit, kanak-kanak bertelanjang kaki.

Saya menjadi teringat, masih soal film, juga belum lama ini diputar ulang HBO, tentang sosok maha bintang sepak bola dunia asala Brazil, Pele. Dari menyimak latarnya, tampak sekali penguasaan bola di kakinya mapan, sejak Pele bocah. Bagaimana bola tetap lengket walau telah diangkat berpuluh kali. Ia tendang bola ke udara lalu ditahan setengah lutut, tanpa jatuh ke tanah. Hingga bermenit-menit bola di lambungkan ke dada, nempel, dijatuhkan ke mata kaki, diangkat lagi, badan membungkuk, leher meyangga bola. Ibarat menyimak akrobat di arena sirkus, Pele ligat dan ligat.

Baca juga:  Deddy Mizwar: PKS Telah Banyak Mewarnai Saya dengan Integritas Nilai-nilai yang Islami

Di Jumat petang itu setelah menyantuni keluarga malang, terjerat rentenir di urusan uang Rp 1,5 juta sampai harus dipenjara tiga bulan, Nyalla menyimak pembangunan rumah permanen Ibu Chomsah. Sebelumnya rumah keluarga itu berlantai tanah, berdinding bilik tua berlubang, beratap sekenanya, tiada jamban sehat. Seperangkat alat penggiling tebu pun telah dibelikan. Ada pondokan, ada kail berusaha. “Semoga keluarga Chomsah di kemudian hari terhindar dari rentenir,” doa Nyalla. Aamiin.

Di dalam kendaraan kembali menuju ke Surabaya jelang petang merembang, Nyalla mengatakan bahwa kemiskinan di Jatim masih tertinggi di Indonesia. Ia menunjuk rumah permanen di jalan kecil kami lalui. “Bisa diduga rumah itu dibangun dari uang salah satu keluarga mereka menjadi tekawe di luar negeri,” katanya. Saya menceritakan bagaimana seorang Zia ul Haq, Pakistan, dulu, pernah berujar kepada Raja Fahd, “Kami tak mengirim perempuan kami bekerja ke luar negeri, karena yakin tak mampu melindungi kehormatannya.”

“Iya kemiskinan harus dientaskan, salah satu memancing tekad saya maju Cagub,” ujarnya pula, “Juga menegakkan keadilan sosial.”

“Lebih dari itu, ya, membangkitkan spirit prestasi, membangun dignity.”

Atas kalimat Nyalla terkhir itulah maka saya teringat film Invictus. Teringat kerinduan akan pemimpin bangsa era silam, terbayang pemimpin negeri orang seperti Mandela. Dari Invictus saya menyimak premis menjadi pemimpin itu sederhana saja; menginspirasi dan memotivasi. Dari pengalaman hidup, jatuh bangun berbisnis termasuk luasnya pergaulan, tawaduknya beribadah kian kental kini, saya percaya ketulusan hati Nyalla membangun Jatim nyata.

Di Hari Pahlawan tahun ini saya merasakan sebuah perjalanan berbeda. Di kiri saya, sosok Nyalla, seakan kontroversi kata orang. Ia pernah ditahan soal penggelapan uang Kadin, di pengadilan tak terbukti. Berkali ia yakinkan uang miliknya membeli saham memakai bendera Kadin. Begitu ada deviden, uang itu masuk ke rekeningnya. Hal itu dipersoalkan hukum. “Karena itu saya ingin jadi gubernur, jadi pejabat publik, saya akan buktikan seperak pun uang negara tak akan saya tilep,” tekadnya.

Baca juga:  Sebuah Surat Terbuka [MISTERIUS] yang Dikirim Untuk Para Pimpinan dan Kader PKS ini Bikin HARU

Kasus ia diturunkan sebagai Ketua Umum PSSI, di kemudian hari, malah ternyata justeru PSSI kini berhutang Rp 25 miliar kepada dirinya. Nyalla masih bersabar menunggu pengembalian hingga tulisan ini saya ketikkan. Ada tiga rekening banknya masih diblokir kejaksaan, walaupun kasusnya sudah inkrah ia tidak bersalah.

Dalam keadaan demikian, hari ini tanggal 2o Desember 2017. Momen menit ke menit terasa menghentak dada bagi Nyalla, di mana deadline dari Partai Gerindra kepada La Nyalla. Tenggat baginya mencari dukungan agar partai lain bisa mencalonkannya sebagai gubernur Jatim. Partai Gerindra memiliki 13 kursi. Untuk Cagub di Jatim butuh 20 kursi. Harapan Nyalla meraih dukungan dari Partai Amanat Nasional pemegang 7 kursi DPRD, sehingga memenuhi syarat Cagub. Ia pun berharap PKS pemilik 6 kursi, bergabung ke poros tengah bersamanya.

Poros tengah itu memang menjadi appetite tersendiri kini.

Pasalnya, dua kandidat Cagub Jatim saat ini Kofifah dan Gus Ipul, serasa tawar. Mereka hambar karena nama itu ke itu dihidang dari masa ke masa. Belum lagi “mashab” NU menjadi seakan terpecah dua suaranya. Di akar rumput, sebagian warga mengharapkan nama lain. Di sinilah peluang La Nyalla menyalla, kesempatan dan peluang bagi partai poros tengah mendukungnya.

Iwan Piliang

(Visited 100 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account