Baru 4 Proyek Infrastruktur Rampung, Pantaskah Menyematkan Mahkota pada Sang Raja?

Belakangan ini kita dikejutkan dengan beberapa hal yang viral di dunia maya. Berita viral ini membongkar apa yang selama ini tertutup rapat dengan berbagai usaha keberhasilan-keberhasilan infrastruktur, yang seakan menjadi kebenaran. Karena mereka, siap membuat framing dengan mengambil sebagian dan dibuang sebagian lainnya.

Buzzer, pengamat dan pakar juga tak kalah hebat untuk mendukung apa yang selama ini mau ditutupi dan apa yang mau ditampilkan. Pembicaraan soal kekurangan-kekurangan menjadi barang “haram” buat dimunculkan ke permukaan.

Tetapi kepalsuan ternyata bisa juga “lelah”. Buzzer, pengamat dan pakar-pakar yang terlihat gagah itu bisa juga menjadi lemah. Kadang niat mereka menutup “kegagalan” malah menjadikannya tambah terpampang. Begitulah…

Baca juga:  Tuding Soeharto Bunuh & Bantai Rakyat, Netizen ; "PSI Takut Lawan Parpol, Makanya Nyari Lawan Yang Nggak Ada"

Ketika keberhasilan infrastruktur digaungkan dan sang raja menikmatinya dengan sesumbar sebagai “Raja Infrastruktur”. Berita yang muncul malah kegagalan membangun infrastruktur.

Tak tanggung-tanggung, yang mengeluarkan berita adalah cnnindonesia.com yang selama ini biasa ikut dalam “permainan”. “Baru Empat dari 245 Proyek Strategis Jokowi yang rampung” Begitu judul yang membuat heboh seantero jagad raya.

Empat proyek! Luar biasa untuk menyematkan Mahkota sebagai Raja infrastruktur. Karena dengan masa kekuasaan yang sudah 60% (3 tahun) idealnya pembangunan rampung setidaknya 60% juga. Dengan 4 Proyek yang rampung itu artinya kurang dari 2%. Alasan bahwa ada 147 proyek dalam tahap kontruksi, 9 proyek dalam tahap transaksi dan 87 proyek dalam penyiapan sungguh tak akan mendongkrak hingga angka 60%, bagaimanapun cara anda nge ‘cak’ .

Akhirnya, menilai apa yang digaungkan diluar sana dengan kenyataan yang kita dapati sungguh terlalu bodoh jika kita masih saja mau mengelu-elukan sang Raja. Apa kita tidak boleh memberi semangat dengan mendorong agar pembangunan ini benar-benar terlaksana? Atau kita biarkan saja beliau ‘terjerembab’ lebih dalam dengan kesombongan demi kesombongan hanya karena kita selalu siap untuk bertepuk tangan…

Baca juga:  Ketika Ustadz Abdul Somad Menangis...

 

(Visited 297 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account