Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Felix Siauw
Nabi Nuh membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian, tentu dengan kesabaran dan pengajaran terbaik, ratusan tahun membimbing ummatnya, apalagi anaknya
Begitu pun juga Nabi Yakub, tak kurang mendirik anak-anaknya, memperhatikan mereka dengan adil, tak kurang membentuk mereka sebagaimana perintah Allah
Tapi ada anak Nabi Nuh, yang jadi halangan dakwah ayahnya, menolak masuk perahu. Begitupun anak-anak Nabi Yakub, memberi cobaan padanya dengan berbuat buruk pada Yusuf
Di lain sisi, Nabi Ibrahim dibesarkan di keluarga pembuat patung, kaumnya menganggap menyembah berhala sebagai ibadah yang baik, begitu pun masyarakatnya
Nabi Musa dibesarkan di istana Firaun, dengan segala tingkah pongahnya, berikut dengan pembantu-pembantunya yang merendahkan Allah dan pengikut-pengikutnya
Namun Nabi Ibrahim tumbuh menjadi pemuda dengan tauhid yang hebat. Begitu juga Nabi Musa menjadi pemuda dengan kekuatan untuk menengakkan keadilan atas nama Allah
Kita memang diamanahi anak kita, tapi kita bukan penentu akan jadi apa anak kita. Semua manusia sama, tak terkecuali para Nabi, tak ada yang bisa menjamin iman keturunannya
Hanya saja, termasuk amanah dari Allah, adalah mendidik anak-anak kita sebaik-baiknya. Memberi mereka referensi terbaik bagi mereka, pengertian terbaik bagi mereka
Memastikan agar mereka mengetahui kisah-kisah pendahulu mereka, Muslim yang nyata dan taat. Bukan kisah-kisah fiktif, superhero yang hebat tapi tak selamat
Shirathalladziina an-‘amta alaihim, kita diperintah Allah untuk meneliti jalan-jalan yang telah dilalui oleh mereka, yang sudah lebih dulu menggoreskan tinta emas dalam sejarah agama ini
Agar generasi penerus kita tahu, pendahulu mereka adalah ksatria, pemberani di siang hari dan cengeng menangis di malam hari dalam sujud-sujud mereka