Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Felix Siauw
Kalau dulu nggak ada yang bilang sama saya, bahwa saya keliru, maka saya nggak bakal sadar bahwa saya salah. Walau tentu aja saya nggak suka dibilang keliru
Yang namanya orang keliru ya pasti nggak nyadar, dan kalau dikasitau ya belum tentu mau, belum tentu sadar. Tapi itu nggak lantas jadi alasan sembunyikan kebenaran
Sebaliknya, kalau nggak ada yang ngasitau yang jahat, orang juga nggak bakal niru perbuatan jahat itu. Sebab melakukan maksiat itu sejatinya lebih susah dari berbuat baik
Aslinya manusia itu ya baik, misalnya, orang disuruh untuk bohong itu perlu energi, perlu kerja ekstra, minimal ngarang, keringetan, deg-degan. Kecuali kalau udah pro
Kesimpulannya? Orang baik dakwah, orang jahat juga. Lucunya, kadang kejahatan itu nggak mau ada saingan, jadi cuma dia yang boleh dakwah, yang baik ga boleh
Kalau perbuatan nista mereka syiarkan, mereka bilang itulah toleransi, itulah modernisasi, equality, diversity atau apapun yang mereka promoin, intinya mereka boleh syiar
Tapi begitu kita kasih argumen, mereka langsung tuduh: arabisasi, kadal gurun, radikal, ekstrim, gak toleran, gak bisa nerima modernitas, fanatik, fundamentalis
Ya dari dulu begitu sih, mereka bilang Nabi Muhammad cuma orang gila, mereka remehin. Tapi begitu Nabi Muhammad ngomong, mereka halangi, mereka ganggu
Dari dulu begitu, sekarang begitu, sampai nantipun begitu. Allah udah kasihtau kita, mereka pikir mereka bisa matiin cahaya agama Allah, supaya kegelapan bisa abadi
Yang kita harus tau, gelap itu bukan wujud, gelap itu karena nggak wujudnya cahaya. Kebathilan itu bukan wujud, ia ada karena yang haq nggak disuarakan
Jadi jangan berhenti. Kalau dulu nggak ada yang dakwahin saya, saya nggak bakal ngerti, saya nggak bakal kenal Islam yang superkeren ini, just dont stop