Berita dan Informasi Terkini
Ada kejanggalan yang sampai saat ini masih juga mengganjal dalam hati saya, terkait dengan kasus yang melibatkan Dedi Mizwar dan Dedi Mulyadi (Duo D) dimana keduanya ketika masing masing masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat dan Bupati Purwakarta. yang maju sebagai penjamin seorang pelaku kejahatan, yang perbuatannya bisa saja ikut serta menjadi salah satu bagian dari keberadaan narkoba.
Ceritanya begini, di hutan lindung Gunung Gede Pangrango banyak diketemukan cacing yang bukan cacing biasa, karena cacing yang disebut dengan nama Cacing Sonari ini, memiliki kelebihan yang sangat menggoda manusia, karena memiliki sebuah nilai harga yang tinggi di pasaran dunia, terutama di Negara China yang sangat membutuhkan cacing ini.
Bagi masyarakat setempat di sekitar Gunung Pangrango, keberadaan cacing yang hidupnya diatas daerah ketinggian, hidup diantara pohon pohon tinggi, hingga untuk mendapatkannya bisa disebut sangatlah sulit, namun Cacing Sonari ini, justru dianggap sebagai salah satu obat tradisonal bagi masyarakat setempat.
Cacing Sonari sendiri jika malam hari tampak seperti memiliki cahaya, makanya jika berjalan di hutan pada malam hari kita sering melihat ada cahaya cahaya dipohong pohon yang tinggi, bahkan menurut salah satu polisi hutan dari Badan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), mengatakan jika cacing cacing ini bisa bersuara lengking, yang bunyinya menyerupai suara burung.
Rupanya Cacing Sonari adalah salah satu makanan utama dari hewan Trenggiling, bahkan bisa dikatakan Cacing Sonari merupakan makanan yang bisa membuat Trenggiling memiliki nilai tinggi. Tingginya harga Trenggiling dikarenakan hewan ini dianggap sebagai salah satu bahan baku utama untuk pembuatan aroma parfum yang terbaik, juga dibuat dalam bentuk obat untuk meningkatkan vitalitas, dan yang paling parah, jika Trenggiling juga sebagai salah satu bahan utama untuk membuat narkoba jenis sabu sabu yang berkualitas tinggi.
Informasi ini didapatkan langsung dari Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Adison yang secara gamblang mengakui jika cacing sonari adalah makanan utama untuk mempercepat pembesaran Trenggiling. Namun Adison tidak menyebutkan dengan pasti bagaimana proses dan bagian mana dari Trenggiling yang diambil untuk membuat sabu sabu, namun Adison yakin jika kulit Trenggiling yang dipakai sebagai bahan baku pembuat sabu sabu.

Masyarakat sekitar lokasi Gunung Gede Pangrango, rupanya dijadikan sebagai salah satu target dari mafia lingkaran kejahatan, untuk mencari cacing Sonari, dan dengan iming iming harga perkilonya yang mencapai Rp. 5 juta perkilo, masyarakat setempat akhirnya tergiur, awalnya pencarian masih dilakukan dengan cara tradisional, yang biasanya dicari dengan cara memanjat pohon. Namun lama kelamaan karena permintaan semakin banyak, dan bayangan akan mendapatkan untung yang cukup banyak, maka para pemburu Cacing Sonari sudah tidak lagi memanjat pohon, namun langsung menebang pohon pohon yang menjadi tempat tinggal cacing Sonari.
Akibatnya hampir 2.000 batang pohon di Gunung Gede yang berhasil ditemukan oleh para petugas polisi kehutanan ditebang oleh para pencari cacing, dan jumlah para pencari berkisar antara 10-60 orang. Untuk bisa menuntaskan kasus ini, pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dibawah komando langsung Adison, harus menghabiskan waktu sekitar 6 bulan, untuk mengungkap hingga diketemukannya pengumpul cacing Sonari yang ternyata tidak lain adalah salah satu warga setempat.
Setelah diketahui pasti, akhirnya pihak Polisi Hutan langsuung melakukan penangkapan terhadap, Udin alias Didin, salah satu warga Kampung Rarahan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Jawa Barat, sebagai penadah dan pengumpul Cacing Sonari yang mengakibatkan rusaknya hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 20 hektar. Hingga akhirnya usai pemeriksaan Udin akhirnya harus menjalani sidang perkaranya.
Namun entah darimana, ketika sedang menjalani sidang tiba tiba saja muncul Dedi Mulyadi yang mencoba untuk menarik perhatian warga setempat dengan janji akan mencari jalan agar Didin tidak ditahan dan dibebaskan dari hukum. Bahkan bukan hanya Dedi Mulyadi, muncul juga Dedy Mizwar, bahkan sadisnya tanpa bertanya ataupun memeriksa terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi, Demiz malah maju sebagai salah penjamin di persidangan agar pihak pengadilan mau membebaskan Didin, yang dianggapnya hanyalah rakyat kecil yang mencari cacing.
Akhirnya Adison beserta anggotanya hanya bisa pasrah, dengan munculnya kedua pejabat daerah tersebut, bahkan pihaknya justru seakan akan menjadi tertuduh karena mengganggu mata pencaharian masyarakat kecil, sementara yang dilakukan oleh Didin dan komplotannya bukianlah persoalan kecil, hutan seluas 20 hektar di kawasan Gunung Gede hancur, yang jelas jelas sebagai salah satu wilayah resapan air untuk wilayah Jawa Barat.
Hingga saat ini kelanjutan kisah tersebut tidak lagi terdengar, ditengarai Didin dan komplotannya terus beraksi, karena adanya “jaminan” dari kedua pejabat tersebut, yang kini sedang menikmati pertarungan Cagub dan Cawagub Jawa Barat, yang tidak mereka sadari jika perbuatan mereka, justru secara tidak langsung ikut membantu para mafia mafia penyelundup Trenggiling dari Indonesia ke China. Dan bukan tidak mungkin Demiz dan Dedi Mulyadi tanpa sadar juga sudah ikut mengajarkan masyarakat untuk melanggar hukum.
(Dandi)