MUNDUR!!!!!!

MUNDUR!!!!!!

Oleh : Tere Liye

Ada seorang karyawan swasta, bekerja di sebuah perusahaan. Setelah bertahun2 di sana, dia memikirkan, jangan2 pekerjaan saya ini tidak berkah. Lantas, setelah menimbang2, demi rezeki yang lebih baik, dia memutuskan mundur. Berganti haluan jadi tukang kerajinan. Tidak apalah, yang penting lebih tenang dan yakin. Sungguh berani orang ini, dan terhormat.

Ada seorang PNS, bekerja di sebuah institusi. Dia malu, dulu masuk pakai acara nyogok dan nyuap. Setelah menimbang2, rasa malunya tambah besar, dan takut dosa. Lantas, dia memutuskan dengan yakin keluar. Berjualan online. Tidak masalah sekarang tidak ada gaji tetap, yang penting tenteram hatinya. Sungguh berani orang ini.

Ada seorang dosen. Sedang tugas kuliah di LN. Merasa tidak enak dapat semua dobel, beasiswa dapat, PNS masih. Banyak sekali pemerintah berbaik hati padanya. Lebih sedih lagi dia berpikir, karena yang baik itu rakyat, itu semua uang rakyat. Tidak ada masalah sih kalau dia tetap mau jadi PNS, namanya juga sedang tugas kuliah. Boleh. Tapi hatinya lembut bagai kapas. Mudah sekali merasa. Tak tega. Memutuskan mundur. Sungguh terhormat orang ini.

Baca juga:  Sepuluh karakter Partai Setan

Ada lagi PNS lain, yang ternyata sibuk dengan mainan baru. Awalnya coba2, iseng berbisnis. Eh, bisnisnya membesar. Khawatir tidak bisa fokus lagi kerja mengabdi pada negara, dia sukarela memutuskan mundur. Tidak apalah, agar negara tidak dirugikan. Karena bekerja itu harus sungguh2, bukan sambilan. Dia memutuskan fokus di bisnisnya.

Wah, wah, di sekitar kita ada contoh2 seperti ini. Orang yang terhormat dan berani. Contohlah mereka.

Jangan contoh, ada pejabat, gajinya super gila, eh disuruh rapat saja sering absen. Ke kantor cuma sebulan sekali. Dia sungguh tidak mau mundur-mundur. Tapi dia kemana2 selalu ngoceh sedang fokus pada mengabdi ke negara, entahlah, kapan dia kerjanya.

Juga ada pejabat lain, ehem, mungkin dia ini penegak hukum juga, atau mungkin juga tidak. Bisnisnya ada di mana2. Rekeningnya gendut tak terkira. Gaji abdi negara-nya itu paling cuma upil dibanding rekeningnya. Eh, dia tetap tidak mau mundur. Kenapa? Ini menarik pertanyaannya. Kan kalau bisnisnya sudah maju, ngapain dia tetap abdi negara? Cuma mempertahankan gaji tak seberapa? Atau ssst, “status” pejabatnya itu yang ternyata menjadi bisnisnya. Benar tidak? Cuma mungkin loh, jangan buru2 lapor pencemaran nama baik.

Baca juga:  Susu termasuk minuman terbaik

Di sekitar kita banyak contoh. Contohlah yang terhormat. Termasuk saat ada orang yang mundur karena merasa tidak mampu, memberikan jalan bagi orang lain yang lebih mampu. Ewow, ini juga sangat terhormat. Termasuk yang mundur karena berbuat salah, atau anak buahnya berbuat salah, malu, ini juga sangat terhormat.

Pekerjaan itu bukan hanya soal halal, thoyib, baik. Tapi juga tentang kehidupan kita sendiri. Apakah kita bahagia? Apakah kita tenang, tenteram? Pekerjaan juga jelas bukan cuma perkara uangnya saja. Apalagi cuma status, posisi, ewwh. Pekerjaan adalah tentang kehormatan hidup kita.

Dan milikilah hati yang lembut bagai kapas. Yang selalu khawatir, jangan2 pekerjaan sy ini tidak berkah. Jangan2 harta benda sy ini tidak diridhoi Tuhan. Milikilah pula hati sejernih mata air pegunungan. Yang dengan begitu, kita selalu bisa menilai diri sendiri secara jujur dan bening. Bukan malah keras kepala, digenggam erat-erat, takut sekali dilepaskan–untuk kemudian, sejatinya kita tetap tidak dapat apa2.

Demikianlah hikayat tentang ‘mundur’.

 

(Visited 47 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account