Poligami bukan perintah, bukan pula anjuran. Tidak dilarang, juga tidak diwajibkan

Poligami bukan perintah, bukan pula anjuran. Tidak dilarang, juga tidak diwajibkan

Oleh 
 Helmi Felis

Yang pasti poligami bukan perintah, itu sepakat semua ulama.
Apakah itu anjuran? Tidak juga.

Sebelum membahas lebih jauh ada baiknya kita mengingat bahwa perkawinan dalam Islam harapannya mencapai Sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Itu sering kita dengar bahkan dalam bentuk do’a dalam setiap perkawinan.

Semua itu bisa dicapai dengan taqwa. Taqwa salah satu maknanya adalah takut dan berhati-hati. Nanti kita bahas lagi hubungan Taqwa dan Sakinah Mawaddah wa Rahmah.

Apa Poligami dilarang?
Tidak dilarang, tapi tidak diwajibkan. Untuk bisa berpoligami ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Nah sampai disini banyak pro kontra, syarat-syarat ini sering dipahami bahkan dipakai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai larangan.

Padahal larangan itu tidak ada, jika kita perhatikan surah an-nisa ayat 3.

Kita fahami dulu Surah An-Nisa sering disebut sebagai surah An-Nisa Al Kubra. Karena banyak membicarakan tentang perempuan & rumah tangga.

Perhatikan ayat pertamanya dalam surah An-Nisa “Ya ayyuhan nas”

Ini tidak biasa, biasanya ayat seperti ini makkiyah tidak diturunkan di madinah.
Namun pengecualian di surah an-nisa. Saya tidak akan panjang lebar soal ini.

Tuhan menyeru kepada seluruh manusia, bukan saja kepada yang beriman. Maknanya ayat (perintah) ini harus diperhatikan seluruh umat manusia.

Coba perhatikan redaksi Al-Qur’an ini, dia tidak hanya,, tidak biasa memakai “Ya ayyuhan nas” ditempat banyak orang beriman (madinah), tapi juga melampaui zaman.

Mengapa? Sebab, zaman itu poligami lumrah, bahkan kebanggaan. Kebalikan saat ini Poligami dianggap hal yang “tabu”.

Kita kembali perhatikan.
Wahai seluruh manusia bertaqwalah (takutlah) lalu dia sampaikan lagi takut kepada siapa.

Takutlah kepada Rabb ( yakni kepada pencipta sekaligus yang merawatmu / memeliharamu).

Maknanya Tuhan tidak hanya menciptakanmu tapi juga memeliharamu. Bagaimana Tuhan memelihara manusia? Dengan menurunkan kitab suci-Nya, mengutus nabi-Nya.

Kita kembali lagi, jika kita perhatikan seakan Al-Qur’an mengatakan hey manusia hati-hatilah dan takutlah akan kebinasaanmu jika kalian tidak tunduk pada petunjuk-Nya.

Artinya perintah itu untuk kepentingan manusia secara keseluruhan, tidak hanya kepada yang beriman.

Karena Dia pencipta sekaligus pemelihara, tentu Dia tau yang mana maslahat dan yang mana mudharat.

Dan tidak hanya mencipta dan memelihara diayat ini juga Al-Qur’an menginformasikan kepada manusia bahwa Dia -Tuhan- itu Raqiibaa (mengawasi).

Hanya 3x dalam Al-Qur’an Allah disifati dengan Raqiibaa dua diantaranya membahas hubungan rumah tangga.

Baca juga:  Al Gazali dan Dendam Anak-anak Revolusi

Dari pembukaan surah ini saya rasa jelas sekali, bahwa tujuannya keadilan.

Baiklah kita lompati dulu pembahasan tadi.

Lalu apa yang dibahas dalam surah An-Nisa ini? Paling tidak ada 5 bahasan pokok.
1. Tauhid
2. Keadilan (termasuk didalamnya hak-hak wanita)
3. Taat kepada hukuma/yang berwewenang
4. Musuh-musuh Islam (kebenaran)
5. Kisah umat terdahulu.

Sekarang kita masuk kesubstansi ayat 3 yang sedang kita bahas.
Perhatikan konteksnya, apa yang sedang dibicarakan Al-Qur’an.

Jangan aniaya perempuan yatim (yang sudah tidak ada yang mengawasinya) sehingga mudah bagimu menganiayanya dengan tidak memberinya maskawin, atau tidak menafkahinya/tidak mampu memelihara hartanya (perempuan yatim yang kaya maupun yang miskin). Kita lihat bunyi ayatnya…

Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.

Khiftum (khawatir) diayat ini maknanya dia khawatir karena dia tau atau ada kemungkinan (tidak harus yakin) bahwa dia bisa saja berlaku tidak adil, jadi bukan tidak tau.

Maknanya kalo Yakin tidak akan berlaku adil, maka tidak boleh. Khawatir atau ada kemungkinan/celah kamu bisa tidak berlaku adil jangan. Nah kalo yakin bisa berlaku adil maka jawabnya boleh.

Sedangkan Imam Syafi’i menafsirkan ta’uuluu kata terakhir dalam ayat ini; “yang demikian itu agar tidak banyak tanggunganmu”

Artinya berbut adil itu sangat mungkin. Lah kok bisa yakin bisa berlaku adil?

Bisa karena adil disini bukan hati, tapi materi dan menafkahi hal lainnya selain adil dalam perasaan cinta. Ringkasnya Poligami bukan wajib, tapi tidak juga dilarang.

Sebab itu tidak ada satu pun ulama terdahulu salaf maupun kontemporer yang keulamaannya diakui dunia melarang Poligami.
Sampai disini harusnya sudah jelas, dan tidak ada lagi perdebatan.

Tapi untuk lebih dipahami, coba kita buatkan kasus.

Ada pasangan baru menikah 5 tahun tiba-tiba istrinya stroke, keluarga istri sudah tidak ada atau tidak mau merawatnya, sedangkan suami masih muda.

Mana yang lebih baik bagi si istri,, suami menceraikan istri dan tidak peduli lagi, atau suami berpoligami sambil terus merawatnya?

Kasus lain istri mandul, sudah diketahui bahwa dia mandul, kalo dicerai tidak ada laki-laki yang mau, karena dia mandul.

Baca juga:  FPI, Kalian radikal sekali !!!

Sedangkan perkawinan normalnya atau warasnya mencari keturunan. Karena itu sangat mungkin dia menjanda selamanya jika dicerai. Lalu mana lebih baik dia dicerai atau yang laki menikah lagi sambil merawat kedua istrinya?

Atau istri menjadi gila dst. Banyak kasus, poligami itu dibolehkan karena Allah lebih tau mana yang maslahat dan mudharat.

Jadi yang tidak bisa berlaku adil sudah jelas dikatakan tidak boleh.

Perasaan memang tidak selalu logis, bahkan ada istilah, cinta itu buta. Begitu juga perasaan tidak suka, kadang dia lebih suka mati bunuh diri dari pada putus cinta. Karena memang perasaan kadang tidak relevan, tidak wajar, tidak masuk akal.

Padahal agama itu memberikan maslahat agar hidupmu kelak (para wanita) terjamin, tidak terlantar, terhormat.

Artinya poligami dalam Islam ini justru untuk memberikan hak-hak perempuan.

Jika berlaku sebaliknya (keras hati) Rahmah yang diharapkan dalam setiap perkawinan tidak ada.

Sakinah Mawaddah Warahmah. Apa itu wa rahmah? Rahmah itu berasal dari kepedihan hati. Contoh; anda melihat seorang nenek gelandangan lalu merasa pedih (iba). Dan atas dasar itu anda beri dia uang, itu namanya anda sedang merahmatinya, mengasihinya, merawatnya, menyayanginya. Itu makna rahmah.

Mawaddah itu kelapangan hati, tidak hanya menerima kelebihan pasangan tapi juga menerima dengan kasih sayang kekurangannya. Jika memang sejak sebelumnya/awalnya kamu sudah Sakinah/tentram bersamanya

Artinya berpoligami bisa dalam konteks menyayangi istri, yang sakit tersebut diatas dengan terus merawatnya dan membuatnya tentram.

Lalu bagaimana dengan poligami karena suami hanya ingin mempunyai istri lebih dari satu, padahal istri sehat, tidak mandul dsb.

Masih tetap boleh, disini ketaqwaan diuji untuk orang-orang beriman.

Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, baik itu kelebih harta atau apapun, jika menikah untuk menafkahi – bukan hanya materi tentunya – itu boleh, tinggal si istri & suami taqwa & beriman atau tidak? Itu bahasan lain yang sama panjang.

Harus dibahas dilain waktu. Ini pun sudah saya upayakan agar sesingkat mungkin dituangkan dalam bentuk tulisan, sehingga sering dilompati. Belum dibahas perkata dalam Al-Qur’an, juga belum bahas dari sudut pandang psikologi, sosiologi. Jika mau ditulis semua akan setebal buku.

Semoga menjadi jelas apa yang sebenarnya sudah terang. Allahu A’lam…

– Helmi Felis –

https://helmifelis.wordpress.com/2018/12/18/poligami/amp/?__twitter_impression=true

(Visited 62 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account