Ini bukan bercandaan lagi

Ini bukan bercandaan lagi

Oleh Tere Liye

DIRUT PLN, Direktur Krakatau Steel, Dirut Pelindo II, mantan Dirut Garuda, mantan Dirut Asuransi Jasindo, Dirut PT PAL Indonesia, dan seterusnya, adalah daftar panjang petinggi BUMN yang dijadikan tersangka oleh KPK.

Belum puas, hari ini, Direktur Keuangan Angkasa Pura II, ditangkap OTT oleh KPK. Yang menariknya, lawan mainnya adalah PT INTI, sama-sama BUMN.

Amazing. Fantastis. Sesama BUMN ini lawan mainnya. Bayangkan bro, sis, satu BUMN, satu lagi BUMN, mereka main-main. Bukannya bersinergi membangun negeri, malah kedip-kedipan mata.

Dengan semua fakta itu, tidakkah mereka mulai paham, masalah korupsi ini sudah serius sekali. Super serius. Lihat, proyek pembangunan sedang dilaksanakan di banyak tempat. Bagus, belum lagi dana desa digelontorkan bertriliun ke seluruh Indonesia, RP 400 triliun. Juga bagus. Proyek dimana-mana. Itu bagus. Kerja, kerja, kerja.

Tapi, cuy, itu uang semua. Sebagian ngutang, sebagian lagi dari pajak rakyat. Maka saat inilah perang melawan korupsi sangat mendesak dan penting. Siapa yang akan memastikan uang-uang itu tidak dikorup, kalau tidak ada pembangunan, kita bisa selow, aman, toh tidak ada uangnya yang bakal dikorupsi ini.

Tapi ini, lima tahun terakhir coba lihat berapa utang bertambah? Ribuan triliun. Kan nyesek kalau dikorup.

Lihat profil koruptor ini, apakah mereka miskin? Tidak. Mereka super tajir. Ada yang hartanya Rp 20 miliar, ada yang Rp 100 miliar.

Kok bisa mereka korup? Mending kalau korupnya 1 triliun gitu, lah ini, ada yang cuma bancakan uang Rp 1 miliar doang. Itu artinya apa? Nafsu bejat korup itu nyata adanya. Rp 1 miliar saja cukup bikin mereka ngiler. Itu nyata.

Bukan cuma bo-ong-bo-ongan. Dan orang-orang ini pintar. Lihat yang sudah masuk penjara, mereka bisa jalan-jalan ke toko bangunan, mereka bisa plesiran. Mereka santai-santai saja.

Saat inilah perang melawan korupsi sangat mendesak. Jangan sampai uang ribuan triliun itu, 50 persen disunat oleh mereka. Eeeh, dari 50 persen ini, separuhnya juga ngaco, kualitas jelek, tak berguna.

Rakyat dapat ampasnya saja. Lihatlah, drama penegakan korupsi hari ini. Lucu sekali. Ada yang santai bilang, ah cuma dikit ini. Ada lagi yang heroik sekali membela diri, seolah dialah pahlawan pembela korupsi, lupa jika ratusan miliar terbenam tanpa hasil. Dia kira ratusan miliar itu cuma becanda apa?

Baca juga:  DEBAT KE EMPAT "Kita harus jihad melawan kemiskinan"

Seriusan, hari ini, perang melawan korupsi cuma dianggap bercandaan doang. Ada yang terlihat gagah perkasa sekali anti korupsi, membully, menghujat kelompok lain, era sebelumnya.

Eh, pas giliran kelompoknya yang kena, dia habis-habisan membela diri. Semua ada alasannya. Ada argumennya. Dia lupa, jika semua alasan dan argumen yg dia tumpahkan itu, mirip sekali dengan alasan orang yang membela koruptor dulu, dan dia bully. Amazing kan lucunya? Nggak nyadar mereka?

Dan KPK. Ini lebih mengenaskan lagi. Dulu, waktu zaman cicak lawan buaya, saya ingat, nyaris seluruh elemen bersatu padu mendukung KPK. Hari ini? Kasus penyiraman air keras Novel Baswedan bisa jadi buktinya. Bukan bersatu-padu membela Novel, buanyak sekali yang malah mencaci Novel.
Bilang itu karmanya Novel waktu dulu dia nembak orang. Dasar Novel tidak tahu terima kasih. Lah, apa hubungannya? Kok semua lo hubung-hubungkan.
Padahal, orang-orang ini dulu hebat sekali loh membully kasus Hambalang, dan sebagainya.

Hari ini, mereka berubah pikiran. Mereka justru bencinya minta ampun saat melihat nama Novel Baswedan, silahkan cek page ini, banyak dari mereka yang tidak ragu-ragu menulis komen benci tersebut.

Dan lebih fantastis lagi. Di page ini berserakan contohnya. “Gue dulu baca novel lu, Tere. Tapi karena lo bahas-bahas korupsi Transjakarta. Sumpah gue jijik baca novel lo lagi, babi, anjing Tere Liye,”

Kalian mungkin tidak sempat membacanya, karena satpam page lebih dulu menangkapi komen-komen ini, lantas orangnya dikandangkan, ban, remove.
Tapi poin pentingnya, gue dulu suka sama lo, Tere. Tapi sekarang tidak. Karena lo bahas-bahas korupsi Transjakarta. Wow, jadi gue harus berhenti bahas korupsi bus Transjakarta gitu biar elo senang dan baca buku gue? Sorry, dek, lo mau baca, mau kagak, itu sih nggak ngaruh.

Silahkan saja mau diakui atau tidak, semakin hari korupsi di negeri ini semakin darurat. Mau diakui mereka gagal atau tidak, faktanya hari ini, korupsi semakin mengerikan. Dan itu bukan cuma di BUMN. Saat elit di sana ngasih contoh terang-benderang korup, maka apa yang diharapkan di bawahnya? Surat keterangan miskin bisa dipalsukan hari ini, KK, domisili bisa dipalsukan.

Baca juga:  Merdeka....!!!! Hidup Koruptor....!!!

Santai sekali orang melakukannya. Padahal itu cuma urusan masuk sekolah. Kebayang besok lusa saat mereka lihat uang miliaran di depannya, seperti apa rakusnya.

Lantas apa solusinya? Simpel. Beri kekuatan kepada KPK. Bantu mereka. Kongkret. Coba sesekali elo datangi itu KPK, undang semua karyawannya, tanya, mereka butuh apa? Ribuan penyidik tambahan? Anggaran? Perlindungan hukum? Atau UU baru yang membuat posisi mereka lebih kuat? Lantas berikan semua yang mereka minta.

Kenapa harus KPK? Sorry, hanya KPK yang bisa dipercaya hari ini untuk memberantas korupsi. Silakan saja orang-orang mau benci KPK, mau menghina, mencaci, tapi adalah fakta, hanya KPK yang bisa menangkapi Ketua MK, Ketua DPR, Menteri, Dirut BUMN, Gubernur, Bupati, dan sebagainya.

Bantu KPK secara kongkret. Mulailah dari menangkap pelaku dan dalang yg nyiram Novel Baswedan. Seriusan ini, jika dalang penyiram air keras itu ketangkap, dan itu benar memang orang kuat, pemerintah punya momentum luar biasa melawan korupsi. Jangan main-main, kami serius. Teman, lawan, saudara, keluarga, sekali korupsi, hukum habis-habisan.

Seriusan, mulailah serius melawan korupsi, atau akan terlambat sekali kita menyadari apa yang telah terjadi. Hari ini, semua memang terlihat baik-baik saja, tapi adalah rumus baku, saat sebuah proyek berjalan, bau bangkainya baru tercium bertahun kemudian.

Hari ini semua proyek fine-fine saja. Seolah semua oke. Ssst, dulu, zaman orde baru, semua pembangunan terlihat berjalan seolah hebat sekali. Tapi bau bangkainya, baru tercium kapan?

Pemberantasan korupsi ini serius. Mau dia korupsi daging sapi, dana haji, pengadaan Al Quran, EKTP, Hambalang, bus Transjakarta, BLBI, Century, Orba, BUMN, semua serius.

Dan itu membutuhkan komitmen luar biasa dari pemerintah. Semua orang pasti menuntut ke pemerintah, masak dia nuntut ke tukang bakso sebelah rumah. Pasti semua bermuara ke pemerintah. Kan kalian sendiri yang rebutan minta jadi penguasa. Ini bukan becandaan lagi.

Catatlah baik-baik, tidak akan ada yang mengenang ‘bapak pembangunan’. Lupa. Tapi jika kalian bisa memberantas korupsi, nama kalian akan dikenang ratusan tahun sebagai ‘bapak/ibu anti korupsi.’

(Penulis adalah Writer of The Year dalam Indonesia International Book Fair 2016).

(Visited 39 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account