Halan-halan

Oleh : Tere Liye

Kalau mau jujur terus terang, tanya nurani masing2, maka sorry, 90% perjalanan dinas yang dilakukan oleh pejabat negara termasuk PNS, sebenarnya nggak penting2 amat, nggak mendesak2 amat. Cuma ngabisin duit rakyat saja, ngabisin anggaran saja. 90% bisa dibatalkan; tidak perlu diadakan.

Kalian yang mau kesel baca tulisan ini silahkan saja. Karena sorry, duit yang kalian pakai itu bukan duit nenek kalian, itu duit rakyat banyak.

Meeting, pertemuan, menghadiri undangan, bla-bla-bla, coba tanyakan ke nurani masing2, itu betulan mendesak? Apakah tidak bisa di kantor saja diadakan? Apakah tidak bisa online saja? Bisa. 90% sy yakin bisa. Tinggal mau atau nggak. Coba jujur terus-terang jawabnya. Lah, kalau belum apa2 sudah kebayang asyiknya naik pesawat, keren, asyiknya nginep di hotel, apalagi jika halan2-nya ke LN, sekalian plesir, ya susah, yang ada malah kegiatan2 itu bisa diciptakan sedemikian rupa biar bisa halan-halan.

Menghadiri undangan di LN ini kasus yang lucu bin menarik. Diundang jadi pembicara, diundang bla-bla-bla; kok lucu, situ diundang kenapa tiket pesawat, hotel, pakai APBD? Harusnya kalau situ memang narasumber penting sekali, itu panitia yang bayarin. Saya saja, Tere Liye, cuma penulis recehan, kalau panitia ngundang, lantas panitia kagak mau bayarin tiket pesawat, hotel, saya ogah datang. Karena sy ini meskipun receh, tidak gratisan. Ini lucu sekali; ada pejabat negara, bergaya minta ampun diundang organisasi top dunia katanya, disuruh bicara dalam acara top dunia katanya; eh, tiket pesawat, hotel, dia bayar sendiri pakai APBD. Itu sih terbalik logikanya. Lu nggak penting sebenarnya, lu yg nebeng sok penting, dengan bayar pakai duit rakyat. Ngapain juga lu mau datang, dul? Mending ngurus rakyat saja.

Baca juga:  Poligami bukan perintah, bukan pula anjuran. Tidak dilarang, juga tidak diwajibkan

Saya ketemu dokter; dokter ini cerita tentang teknologi kedokteran dan IT, kata dia, koleganya sesama dokter di LN baru saja melakukan operasi jarak jauh. Dokternya di kota A, pasiennya di kota B, dengan jarak 2.000 km. Pakai IT, pakai alat canggih, bisa. Operasi selesai. Beres. Google saja kalau kalian tdk percaya teknologi ini ada.

See, dalam urusan hidup mati saja, itu dokter tidak perlu datang ke kota B. Ngapain dia ngabisin 2-3 hari, tiket pesawat, dll, ke kota B saat teknologi ada. Dia banyak kerjaan di kota A, jadi cukup operasi jarak jauh. Apalagi kalau cuma urusannya hanya meeting, ceramah, dengerin orang ceramah, duh kusut, ngapain pula harus perjalanan dinas antar kota? Kecuali situ memang tidak ada kerjaan, jadilah halan-halan ini sebagai ukuran KPI prestasi. Ampun dah kalau itu realitasnya. Halan2 agar ada kerjaan. Itu sih korslet.

Tahun 2017, berapa belanja perjalanan dinas pejabat dan PNS ini? Rp 34 Trilyun. Tahun 2018 angkanya tambah gila 43 trilyun, nambah 25%. Uang sebanyak itu, iya kalau ada hasilnya; kalau cuma buat halan-halan saja, zonk saja. Nah, kusutnya, ada yang percaya, perjalanan dinas ini bisa men-stimulasi ekonomi. Kalau 90% perjalanan dinas dihapus; wah, hotel2 bisa sepi, Garuda nanti lama2 hanya sibuk ngurus spare part Harley Davidson, ekonomi mati.

Argumen ini masuk akal memang. Sekali 43 trilyun ini tdk dibelanjakan, bisa kolaps memang ekonomi tertentu. Tapi kita tetap bisa membelanjakannya kalau memang mau men-stimulasi perekonomian.

Baca juga:  Kalimat Tauhid Itu Benih

Ada solusi lainnya loh. Ijinkan saya memberikan ide fantastis ini. Apa itu? Gunakan 40 trilyun ini untuk halan2 rakyat saja. Setiap tahun pilih 10 juta rakyat Indonesia lewat undian, prioritaskan yang miskin, tidak pernah naik pesawat, dll, masing2 dapat jatah 4 juta untuk halan2. Buat ongkos tiket 2 juta, buat hotel 1 juta, sisanya uang saku. Waah, kebayang dong, 10 juta rakyat Indonesia bisa halan2. Nenek2 di kampung, yang sejak jaman revolusi hanya bisa lihat pesawat, akhirnya bisa naik pesawat. Nenek2 di desa yang belum pernah merasakan hotel berbintang, akhirnya bisa tidur dikasur King Koil. Baru sisanya 3 trilyun gunakan utk pejabat dan PNS.

Ini jelas akan menstimulasi ekonomi, sekaligus menegakkan sila ke-5 Pancasila. Eh, kita ini masih pakai Pancasila kan sebagai dasar negara? Atau itu cuma hiasan saja; baru sibuk diocehkan kalau nyuruh rakyat taat dan patuh bayar iuran ini, itu, dsbgnya.

Dus, cukuplah basa-basi ini, puluhan trilyun uang digunakan untuk perjalanan dinas, mana hasilnya? Jawab dengan jujur dan terus-terang, panggil nuraninya. Apakah urgensi dan level perjalanan dinas kalian setara dengan dokter yg harus mengoperasi pasiennya? Kalau cuma diundang jadi pembicara di LN, dengerin ceramah, ngoceh ini, ngoceh itu, mending jadi penulis kayak Tere Liye saja. Meskipun dia cuma penulis receh unfaedah, semua ‘perjalanan dinas’-nya ditanggung oleh panitia yang ngundang-bahkan saat dia bawa rombongan, itu juga ditanggung panitia yang ngundang.

(Visited 24 times, 2 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account